Orang Sulawesi Selatan



                Orang sulawsi selatan pada umumnya sangat emosional. Hal ini memang karakter eigenschap yang sukar sekali dihilangkan dalam kehidupan masyarakat sulawsi selatan, terutama di kalangan suku bugis dan makassar. Bagaimana pun intelektyualnya seorang bugis atau makassar, jika disinggung perasaannya, seketika itu juga dia akan sangat marah dan melupakan bahwa ia mempunyai pendidikan tinggi. Ia akan berbuat tindakan diluar kesadarannya.
                Di mata orang bugis dan makassar, harta kekayaan dapat dibeli, tetapi harga diri dan siri’ adalah pemberian tuha yang tidak diperjualbeikan dimanapun. Sekali harga dii dan siri’ itu hilang, tak ada gunanya untuk hidup lagi. Siri’ dan harga diri adalah pemberian tuhan kepada seseorang yang harus dibela dan dipertahankan sepanjang hidup kita sebgagai umat manusia. Seseorang yang tak lagi begitu menghargai siri’ dan harga dirinya, maka kegiupannya menjurus kepada sifat kehewanan. Dalam bahasa bugis, siri dan harga diri itu sering dikaitkan dengan istilah siri’ na pesse. Sedangkan dalam bahasa makassar siri’ na pacce. Bahkan bagi orang sulawsi selatan, seluruh kehidupan kita harus berlandaskan siri na pesse itu.
                Sementara itu, dalam hubungan antara pria dan wanita dikalangan bugis dan makassar perkara siri’ ini sangat menonjol. Di zaman penjajahan belanda, tidaklah pantas seorang wanita atau gadis berjalan sendirian tanpa pengawal. Kalau terpaksa berpergian, ia harus dikawal oleh pallapi siri’ – pengawal kehormatan. Si pallapi siri’ ini selalu memegang hulu senjatanya siap sedia membela dan mempertahankan kehormatan orang yang dikawalnya. Jangan coba-coba menatap lama-lama gais atau perempuan yang dikawal itu. Bila itu dilakukan, badiklah yang bicara. Karena itukah orang bugis atau makassar yang dibuang ke nusakambangan kebanyakan membunuh untuk membela kehomatan keluarga.
                Sulawesi selatan sendiri sebenarnya terdiri empat etnis besar, yaitu : Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Selain itu ada lagi etnis campuran antara bugis dan toraja: orang luwu.
                Semua etnis tadi mempunyai bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan sendiri. Begitu juga orang luwu. Meskipun, bahasa mereka diperkirakan campuran antara bahasa bugis dengan bahasa toraja. Sementara, adat istiadat dan kebudayaan orang luwu mirip dengan adat istiadat dan kebudayaan orang bugis.
                Kecuali prang toraja, orang sulawesi selatan memiliki temperatur panas. Hal ini dapat dilihat dari warna warni pakaian mereka, yang umumnya berwarna tajam: Merah, Kuning, Biru, Hijau, Hitam. Begitu pula dengan musiknya yang umumnya gemuruh, sangat kontras dengan tarian mereka yang gemulai. Di daerah bugis dan makassar dikenal tarian pajaga dan pajoge, didaerah mandar dikenal tarian pattuddu’. Sedangkan dedesa tana toraja dikenal tarian pagellu.
                Tari pajaga adalah tarian istana dan dijadikan pendidikan bagi putera-puteri raja dan anaka bangsawan keluarga raja. Di akhir penjajahan belanda, yang masih mengadakan pendidikan tarian pajaga adalah kerajaan luwu dan kerajaan ternate.
                Sewaktu Andi Mattalatta dktaik dari penumpasan RMS di maluku selatan dan ditarik ke sulawesi selatan, 19 februari 1952, dan ditempatkan di Palopo yang dijadikan Kahar Muzakkar dengan DI/TII-nya sebagai daerah pelarian sekaligus basisnya, Andi Mattalatta dengan batalyon Oosterling disambut dengan secara adat dengan tari pajaga ini. Sangat menggoncangakan jiwa para perwira, karena para penari tarian itu yang umumnya gadis berusia 15-16 tahun dan keluarga raja, masih menggunakan baju rawang yang tembus pandang. Karena penyambutan secara adat itulah, anggota Yon Oosterling tahu kalau Andi Mattalatta adalah keluarga raja. Sebab, tarian itu memang hanya diperuntukkan untuk menyambut oara bangsawan, raja dan keluarganya.
                Selain suku-suku bangsa yang disebut tadi, di sulawesi selatan juga ada suku bangsa yang masih menganut faham animisme. Merka hidup dihutan-hutan daerah mamuju, dihulu sungai sa’dang, tana toraja, suku to lautang di kewedanan amparita, sedengreng-rappang, orang belang di lajoanging, daerah perbatasan barru dan soppeng, to kajang luar dan to kajang dalam yang dipimpin ammatoa di bulukumba, dan suku bajo di bajoe, kabupaten bone.

Comments

Popular posts from this blog

SENI PERANG

Lirik dan Chord Gitar Sisir Tanah - Bebal