REALITAS KEBOBROKAN SISTEM PERGURUAN TINGGI

Setiap tahunnya perguruan tinggi negeri maupun swasta selalu menghasilkan sarjana-sarjana baru yang siap berlomba dalam mencari kerja. Dengan modal proses kuliah yang kurang lebih 4 tahun lamanya, dengan 4 tahun itulah yang akan menjadi senjatanya dalam dunia kerja. Kualitas sarjananya dilihat dari sistem yang mengaturnya.
Dalam 1 semester, hasil proses belajar kita dilihat daru nilai Akhir. Dalam nilai itu kadang kita merasa bangga dengan hasil yang kita dapatkan tapi kadang juga membuat kita kecewa. misalnya ada mahasiswa yang rajin masuk kuliah, kerja tugas, dan lain-lainnya. tapi ketika nilai akhir keluar ternyata nilai yang didapatkan dari mahasiswa rajin ini kurang memuaskan buatnya dan malah mahasiswa yang kurang rajin masuk kuliah dia dapat nilai yang lebih baik darinya. Ini kemudian menimbulkan banyak pertanyaan yang keluar dari fikiran mahasiswa, mengapa mahasiswa yang jarang masuk kuliah malah dapat nilai bagus dibandingkan kami yang rajin? apakah penilaiannya sudah objektif atau penilaiannya secara subjektif?. dan tentunya masih banyak lagi pertanyaan yang akan muncul di fikiran kita. Dari hasil penilaian dosen itu terkadang mahasiswa membuat hipotesis bahwasanya Dosen dalam memberikan nilai tidak secara Objektif tetapi penilaiannya secara Subjektif. artinya hasil penilaian Subjektif itu siapa dekat dengan dosen dia dapat nilai bagus. hehehe
Tak hanya itu, ada lagi namanya sistem belanja mata kuliah yang iming-iming agar mahasiswa tidak kerepotan nantinya dalam KKN nanti. Ada yang menurut, ada juga yang menolak. Menurut hemat saya dalam sistem belanja mata kuliah itu tujuannya agar mahasiswa lulus dengan tepat waktu, dan itu bukannya menambah pengetahuan kita tetapi malah sebaliknya. Istilahnya kita di Program agar mahasiswa lulus dengan cepat meskipun pengetahuan mahasiswa sangat minim sekali. Adapun mahasiswa yang memilih lama kuliah dengan harapan dapat lebih banyak pengetahuan dan pengalaman di dunia kampus, mahasiswa semacam ini kebanyakan lebih aktif dalam organisasi. Namun ini kadang bertentangan dengan beberapa Dosen khususnya pihak Fakultas, bahkan ada yang agak terang-terangan melarang mahasiswa. Padahal jika kita lihat berbagai orang yang kritis dan aktif dalam perkuliahaan rata-rata mahasiswa yang berorganisasi. Contoh kecilnya mahasiwa yang awalnya kurang aktif dalam proses perkuliahaan sehari-hari, tetapi setelah masuk didalam beberapa organisasi akhirnya dia mulai kritis dan aktif dalam proses perkuliahan sehari-hari. Dan ini contoh yang banyak sekali terjadi pada mahasiwa yang berorganisasi. Padahal selain contoh diatas Organisasi juga sangat membantu mahasiswa dalam membentuk karakternya.
Semua Perguruan tinggi menurut hemat saya selalu memprogram mahasiswa agar lulus dengan tepat waktu, segala macam cara selalu dilakukan oleh fakultas atau kampus agar mahasiswa ini lulus dengan cepat. Misalnya dengan sistem belanja mata kuliah tadi. menurut saya ini adalah cara yang sangat tidak baik dan membuat mahasiswa tambah bodoh. Mahasiswa itu harusnya bukan kuliah hanya sekedar “IJAZAH” saja, tapi mahasiswa kuliah agar pola fikirnya lebih baik agar tanggap dalam melihat fenomena yang sering terjadi. Bukan malah sekedar “IJAZAH” tapi Ilmu dan Prosesnya yang lebih penting. Saya bukan memunafikkan Ijazah, Ijazah penting tapi itu bukan tujuan yang pertama kita dalam kuliah.
Jika kita analisis waktu yang digunakan untuk perkuliahan umumnya 2 jam 30 menit saja, itupun jika dosennya datang tepat waktu. Lalu 2 jam 30 menit ini belum tentu ada yang tinggal di otak kita, itu dilihat dari kualitas dan cara mengajar dari dosennya lagi. Banyak dosen yang mengajar dengan asal-asalan dan tentunya memberikan nilai yang juga asal-asalan. apalagi jika dikampus saya sangat banyak dosen yang cara mengajarnya asal-asalan dan yang kualitasnya agak bagus hanya hitungan jari saja. kaloh saya mengutip kata-kata dari Soe Hok Gie, dia mengatakan Dosen yang tidak tahan kritikan lebih baik masuk kantong sampah, Mahasiswa bukan kerbau dan Dosen bukan dewa yang selalu benar.
Pada kesimpulannya, menurut hemat saya Perguruan tinggi itu hanyalah memberikan kita “IJAZAH” saja. Mengapa saya katakan demikian karena memang realitasnya begitu, coba kita kembali ke persoalan waktu belajarnya, itu sangat tidak cukup dan ujung-ujung kita sendiri lagi yang harus kreatif falam mencari ilmu. kecuali beberapa perguruan tinggi negeri yang memang memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap mahasiswanya dan itu hanya hitungan jari saja. selebihnya yah hanya gelar sarjana saja yang didapat.

#Saya tidak merasa tulisan saya diatas benar, karena saya hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekeliriuan. Tulisan ini muncul dari beberapa fakta yang terjadi dan yang saya rasakan.

Comments

Popular posts from this blog

SENI PERANG

Lirik dan Chord Gitar Sisir Tanah - Bebal