Orang Baik dan Orang Tidak Baik
Penilaian atas predikat sebagai orang baik dan orang tidak baik sangat subyektif dan dinamis. Maksudnya tergantung siapa yang menilai, dengan kriteria dan kapan dinilai. Contoh mudahnya adalah seorang kepala Sub-Direktorat (Kasubdit) dinilai oleh stafnya orang baik kalau dia dapat memberikan kesejahteraan dengan memberikan tambahan uang bulanan tanpa memberikan tambahan pekerjaan kepada staf tersebut. Artinya staf tersebut menggunakan sudut pandang kecukupan materi dan beban pekerjaan untuk dirinya. Padahal dari sudut pandang lain, misalnya aturan terkait Good Governance atau KKN, Kasubdit tersebut disebut melanggar aturan, artinya tidak baik, karena dalam mencukupi insentif para aktifitas fiktif yang berada dalam kewenangannya. Jadi jelas bahwa, seorang Kasubdit pada saat yang bersamaan dapat dinilai sebagai orang baik dan orang tidak baik.
Contoh konkret lain, menilai Pak Harto dan memberikan penguatan alasan supaya beliau segera diadili sekarang juga, dianggap kurang baik oleh komunitas pecinta sopan santun, kalau penilaian tersebut disuarakan pada Pak Harto sedang sakit atau kondisinya kritis. Tetapi oleh komunitas pemuda pelopor pemberantasan KKN yang masih bersemangat juang tinggi, penilaiaan tersebut biasa atau syah-syah saja bahkan bisa disebut baik karena dianggap konsisten menyuarakan penuntasan kasus Pak Harto kapan pun dan di posisi manapun. Ada contoh yang menarik lagi yaitu seseorang pada jaman kejayaannya dapat disebut pahlawan bahkan diberi tanda jasa kehormatan tinggi sebagai pahlawan karena perjuangannya, tetapi dalam kurung waktu misalnya 20 tahun kemudian bisa dijadikan 'international wanted ma' karena dianggap penjahat perang atau karena jabatannya diduga atau ditetapkan sebagai tokoh yang ikut menghalangi pembunuhan massal.
***
Orang jawa bilang 'walak walike jaman'. Makanya kalau sedang menjadi bintang atau sedang menjabat atau sedang apa pun ' ojo aji mimpumpung'. Berlebihan atau aji mumpung memang tidak baik, demikian anjuran islam. Kita selalu ingat akan ajaran mulia yaitu pada saat kita berada pada kondisi saat ekstrim minimum. Seperti anjuran, ingat saat muda sebelum tua sehingga kita ingat miskin disaat kaya, sehingga kita dapat menjadi dermawan abadi yang tidak pernah pelit nin kikir. Ingat susah disaat senang, sehingga kita tidak terlalu mengumbar hawa nafsu kesenangan apalagi memprovokasi sehingga menyinggung orang dan akhirnya tidak disukai orang.
Jadi orang baik adalah orang yang 'sak madyo', begitu kata teman yang orang jawa dan njawani. Teman karib itu memang juga sak madyo dalam melakukan pekerjaan kantoran, tetapi dia tidak sak madyo dalam meminta imbalan. Baikkah dia? Teman karib itu juga sering mengeluarkan kata-kata yang kurang baik atau hampir selalu melihat orang lain, terutama yang bukan temannya, dari sudut pandang kekurangannya. Baiklah teman karib itu? Ada yang punya ukuran sangat simpel untuk mengatakan seseorang dikatakan baik, yaitu kalau dari mulutnya tak pernah keluar kata-kata yang merugikan orang, apalagi menyudutkan orang. Adakah orang seperti itu sekarang? Ada beberapa, dan diantara mereka pejabat tinggi. Tetapi karena orang baik, dia difitnah pun juga tidak mau membalas dengan fitnah. Bahkan dicopot dari jabatannya pun dia tersenyum dan tetap tidak mengeluarkan kata-kata yang merugikan atau menyakiti orang dari mulutnya, termasuk kepada yang mengusulkan pencopotan atau kepada yang sering memfitnahnya. Menurut banyak orang beliau benar-benar baik.
Sebaliknya kalau dari mulutnya sering keluar kata-kata kotor atau kata-kata yang merugikan pihak lain, walaupun kelihatan perilaku dan performance-nya baik, apalagi di depan kita dan di depan atasannya pengen selalu oke, banyak teman yakin dia orang kurang baik.
Daftar Pustaka
Buku Muhammad Dimayanti "Dikantongku masih ada TUHAN" Bagian ke 2 halaman 10
Contoh konkret lain, menilai Pak Harto dan memberikan penguatan alasan supaya beliau segera diadili sekarang juga, dianggap kurang baik oleh komunitas pecinta sopan santun, kalau penilaian tersebut disuarakan pada Pak Harto sedang sakit atau kondisinya kritis. Tetapi oleh komunitas pemuda pelopor pemberantasan KKN yang masih bersemangat juang tinggi, penilaiaan tersebut biasa atau syah-syah saja bahkan bisa disebut baik karena dianggap konsisten menyuarakan penuntasan kasus Pak Harto kapan pun dan di posisi manapun. Ada contoh yang menarik lagi yaitu seseorang pada jaman kejayaannya dapat disebut pahlawan bahkan diberi tanda jasa kehormatan tinggi sebagai pahlawan karena perjuangannya, tetapi dalam kurung waktu misalnya 20 tahun kemudian bisa dijadikan 'international wanted ma' karena dianggap penjahat perang atau karena jabatannya diduga atau ditetapkan sebagai tokoh yang ikut menghalangi pembunuhan massal.
***
Orang jawa bilang 'walak walike jaman'. Makanya kalau sedang menjadi bintang atau sedang menjabat atau sedang apa pun ' ojo aji mimpumpung'. Berlebihan atau aji mumpung memang tidak baik, demikian anjuran islam. Kita selalu ingat akan ajaran mulia yaitu pada saat kita berada pada kondisi saat ekstrim minimum. Seperti anjuran, ingat saat muda sebelum tua sehingga kita ingat miskin disaat kaya, sehingga kita dapat menjadi dermawan abadi yang tidak pernah pelit nin kikir. Ingat susah disaat senang, sehingga kita tidak terlalu mengumbar hawa nafsu kesenangan apalagi memprovokasi sehingga menyinggung orang dan akhirnya tidak disukai orang.
Jadi orang baik adalah orang yang 'sak madyo', begitu kata teman yang orang jawa dan njawani. Teman karib itu memang juga sak madyo dalam melakukan pekerjaan kantoran, tetapi dia tidak sak madyo dalam meminta imbalan. Baikkah dia? Teman karib itu juga sering mengeluarkan kata-kata yang kurang baik atau hampir selalu melihat orang lain, terutama yang bukan temannya, dari sudut pandang kekurangannya. Baiklah teman karib itu? Ada yang punya ukuran sangat simpel untuk mengatakan seseorang dikatakan baik, yaitu kalau dari mulutnya tak pernah keluar kata-kata yang merugikan orang, apalagi menyudutkan orang. Adakah orang seperti itu sekarang? Ada beberapa, dan diantara mereka pejabat tinggi. Tetapi karena orang baik, dia difitnah pun juga tidak mau membalas dengan fitnah. Bahkan dicopot dari jabatannya pun dia tersenyum dan tetap tidak mengeluarkan kata-kata yang merugikan atau menyakiti orang dari mulutnya, termasuk kepada yang mengusulkan pencopotan atau kepada yang sering memfitnahnya. Menurut banyak orang beliau benar-benar baik.
Sebaliknya kalau dari mulutnya sering keluar kata-kata kotor atau kata-kata yang merugikan pihak lain, walaupun kelihatan perilaku dan performance-nya baik, apalagi di depan kita dan di depan atasannya pengen selalu oke, banyak teman yakin dia orang kurang baik.
Daftar Pustaka
Buku Muhammad Dimayanti "Dikantongku masih ada TUHAN" Bagian ke 2 halaman 10
Comments
Post a Comment