Feodalisme, Liberalisme, Individualisme
Feodalisme
Feodalisme adalah sebuah sistem pemerintahan di
mana seorang pemimpin, yang biasanya seorang bangsawan memiliki anak buah banyak yang juga
masih dari kalangan bangsawan juga tetapi lebih rendah dan biasa
disebut vazal. Para vazal ini wajib membayar upeti kepada tuan mereka. Sedangkan para
vazal pada gilirannya ini juga mempunyai anak buah dan abdi-abdi mereka sendiri
yang memberi mereka upeti. Dengan
begitu muncul struktur hirarkis berbentuk piramida.
Dalam penggunaan bahasa
sehari-hari di Indonesia,
seringkali kata ini digunakan untuk merujuk pada perilaku-perilaku negatif yang
mirip dengan perilaku para penguasa yang lalim, seperti 'kolot', 'selalu ingin
dihormati', atau 'bertahan pada nilai-nilai lama yang sudah banyak
ditinggalkan'. Arti ini sudah banyak melenceng dari pengertian politi
Liberalisme
Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan
filsafat, dan tradisi politik
yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan
adalah nilai politik yang utama.[1]
Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu
masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu.
Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan
agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi
pasar yang mendukung usaha
pribadi (private enterprise)
yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya
pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih
lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.
Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh
dalam sistem demokrasi,
hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas.
Bandingkan [2
Liberalisme dan Agama
Pandangan-pandangan
liberalisme dengan paham agama seringkali berbenturan karena liberalisme
menghendaki penisbian dari semua tata nilai, bahkan dari agama sekalipun. meski
dalam prakteknya berbeda-beda di setiap negara, tetapi secara umum liberalisme
menganggap agama adalah pengekangan terhadap potensi akal manusia.
Individualisme
Penganut paham liberal adalah individualis.
Ini tidak mengherankan, karena intisari dan tujuan liberalisme adalah kebebasan
individu. Artinya, kebebasan menurut paham liberal adalah milik setiap
individu, bukan kolektif.
Tentu saja ada pula hak-hak
kebebasan yang hanya dapat dipahami secara bersama atau secara kolektif,
seperti hak bermusyawarah dan berkumpul. Tapi, dalam konteks ini pun si
pengusung awal haknya adalah individu – yang kemudian memutuskan apakah
mereka hendak bermusyawarah atau berkumpul atau tidak. Selain itu, akan perlu
waktu yang lama sekali hingga kita dapat
menemukan satu di antara 190 negara di dunia ini di mana hak-hak “kolektif”
tersebut berfungsi tanpa sebelumnya ada jaminan atas hak-hak utama individu
seperti kebebasan berpendapat dan berpikir. Jadi, kalau kita berbicara tentang
hak-hak kebebasan, maka kita akan merujuk pada individu.
Hal ini memiliki akar sejarah budaya
yang dalam dan tua. Gagasan tentang gambaran Tuhan yang membumi dan anak Tuhan
dalam kepercayaan Yahudi dan Kristen, merupakan peran sentral individu sebagai
pemegang tanggung jawab, moral dan kebebasan dalam filsafat klasik Yunani;
semua gagasan ini mengetengahkan manusia sebagai
individu dan dengan demikian membentuk landasan dasar bagi munculnya
liberalisme sebagai sistem nilai dan kerangka pikir di negara barat (di Eropa
dan Amerika Utara)…….
Comments
Post a Comment