PEREMPUAN ADALAH NAFAS REVOLUSI

PEREMPUAN ADALAH NAFAS REVOLUSI
...janganlah masyarakat laki-laki mengira,
bahwa ia dapat maju subur, kalau tidak dibarengi oleh
kemajuan masyarakat perempuan pula.
(Soekarno)
Hati-hatilah dalam memilih pasangan hidup karena tak dapat dipungkiri begit banyak fakta, yaitu (1) seseorang jatuh secara spiritual, (2) Gagal dalam bermasyarakat, (3) bersikap inkonsisten terhadap cita-cita awalnya dengan menjadi koruptor atau penindas, karena calon istri/istri yang menjadi penyebabnya.
Perempuan yang baik bisa dilihat pada konsistensinya menjalankan perintah agama, baik substansi nilai (kebenaran, Keadilan, Kemanusian) maupun syariatnya, seperti puasa, dan lainnya (bagi yang muslim). Ketika teman dekat (calon istri/istri) menjauhi hal tersebut, maka segerahlah bantu dia sadar dengan membelikannnya buku, mengajaknya selalu ikut kajian baik tema keagamaan maupun tema umum. Setelah beberapa waktu ternyata tidak berubah, bahkan semakin parah, dimana cara berfikir dan perilakunya bertentangan dengan anjuran agama, maka atas nama ideologi dan Tuhan yang kita yakini, carilah perempuan lain untuk menjadi teman dekat. Itu adalah pilihan yang jauh lebih mulia, karena begitu banyak orang yang sudah menikah, tapi didalam rumah tangganya dipenuhi dengan konflik, dipenuhi dengan perasaan sakit dan ketersiksaan. Karena ada dua jiwa yang berbeda dalam rumah tersebut.
Ketika harus dibenturkan antara kepentingan satu perempuan dengan ideologi, maka yang wajib kita pilih adalah kepentingan Tuhan dan Ideologi, karena istri kita niatnya menjadi teman seperjanalanan dalam hiduo yang akan sama-sama membangun generasi yang revolusioner. Ketika kita sakah melakukan pilihan, bisa jad tidak menemani kita menuju Tuhan, tapi justru menemani jita menuju neraka. Janganlah kita terjebak pada kesalahan fatal atas nama cinta.
Cinta cinta sejati adalah cinta yang mengantarkan kita untuk menemukan pemilik cinta (Tuhan), bukan menjauhkannya. Dan untuk menemukannya, kita perlu melakukan amalan ibadah individu dan ibadah sosial secara bersama, sebagaimana yang dicontohkan oleh para nabi dan pemberontak agung yang lainnya.
Jadi, yang menjadi antara main bagi orang yang sedang berproses untuk menentukan pilihan hidup maupun yang telah memili (menikah) adalah konsistensi pada nilai kebenaran, keadilan, kemanusiaan. Jadi, setiap pihak dibolehkan meminta perpisahan kapanpu, ketika mendapatkan beberapa fakta pasangannya melanggar idealismenya atau visi ketuhanan dalam rumah tangga dan tidak bisa atau tidak mau lagi berusaha mengubahnya. Ketika memaksakan hiduo yang penuh penderitaan. Fitrah manusia adalah senantiasa merindukan kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Siapa yang menolak hukum (undang-undang) Tuhan terebut, maka penderitaan (ketersiksaan) yang sempurnahlah yang akan dihadapi dalam menjalani hidupnya.
Cinta sejati bukanlah penjara yang menghalangi kita untuk merasakan ditrah ilahiah. Cinta sejati tidaklah membuat kita terjebak pada ego diri, ego rumah tangga atau ego kelompok tapi justru melempar kita jau untuk sampai pada ego semesta/ego nilai/ego tuhan.
Hati-hati dengan perempuan yang hanya selalu menpercantik fisiknya dan lupa untuk mempercantik jiwanya memeperindah akhlak da ilmunya karena banyak perjuangan yang gagal karena terjebak dalam cinta seperti itu. Begitu banyak orang yang masuk penjara karena korupsi, dengan motivasi ingin membahagiakan istrinya karena istrinya tak hentinya memaksa untuk dicukupkan kebutuhan materialnya, rumah mewah, mobil mewah, dan seterusnya.
Perempuan yang adalah yang mengingatkan dan bahkan mengancam akan meninggalkan ketika kita tidak berbuat hal-hal yang bertentangan dengan ideologi maupunanjuran agama. perempuan yang baik adalah yan tidak mengeluh ketika kita berdiskusi tentang idealisme, perempuan yang bahagia ketika pasangannya berbuat baik untuk orang lain, perempuan yang bahagia ketika pasangannya ikut dalam barisan perjuangan untuk memperbaiki keadaan, perempuan yang meghalalkan pasangannya untuk capek bahkan mati demi kebenaran dan keadilan.
Oh sungguh, ikatan rumah tangga harus punya visi ideologis, sehingga akan menopang terwujudnya revolusi sosial disuatu hari kelak. Dan kalau toh kita tidak berhasil memfinalkan perjuangan, maka cukuplah mengatakan kepada anak kita kelak bahwa, “Nak, ketika revolusi ini tidak mampu aku wujudkan dengan tanganku, maka akan kutitipkan revolusi ini kepadamu.”
Referensi :
Buku Pare dan Catatan Tak Usai karya A. Zulkarnain

Comments

Popular posts from this blog

SENI PERANG

Lirik dan Chord Gitar Sisir Tanah - Bebal