NIKMATNYA PENGGUSURAN
suatu negara jangan dinilai
dari cara memperlakukan warganya yang paling tinggi, tetapi
bagaimana negara itu
memperlakukan warganya yang paling rendah.
(Nelson Mendela)
DI PAGI HARI, Ketika kita bangun dan kemudian membaca koran atau menonton televisi, kita akan segera disapa berita, yang bukan tentang kebahagiaan, bukan pula tentang keamanan apalagi keadilan terhadap masyarakat. Justru yang kita saksikan adalah penjajahan atau pembunuhan, pembantaian kemanusiaan yang dilakukan sendiri oleh mereka yang mengaku negarawan dan wakil rakyat.
Para pedagang, masyarakat kecil, dan kaum miskin di kota setiap hari selalu saja ada yang digusur-atas nama kebersihan kota, kedisiplinan, pengamanan, kepentingan rakyat banyak dan berbagai alasan lainnya. Itulah bentuk-bentuk politisi bahasa dan fakta tentang kejahatan negara terhadap rakyatnya yang notabene adalah pemilik sah negeri ini.
Itulah bukti dari mentalitas pejabat yang rakus, mental yang terbelah-yang telah menghambakan dirinya kepada “Tuhan palsu manusia moderen” yaitu kakuatan modal yang dimiliki oleh para kapitalis-kapitalis serakah, baik lokal maupul internasinonal.
Bagi mereka yang tergusur, ketika dia masi kecil akan memilih untuk menjadi anak jalanan dan pengamen. Bagi seorang gadis munkin akan memilih untuk menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial). Ada pula korban penggusuran yang akhirnya memilih menjdai pengemis, penjambret, dan preman. Semua itu mereka pilih karena ingin bertahan hidup, mencoba memcari sesuap nasi, dan setes air susu untuk anak kecilnya.
Ketika penggusuran sedang berlangsung, para pejabat, para penguasa tau para pemilik modal sedang makan siang bersama, terkadang mereka ditemani oleh para wartawan, para akademisi, dan beberapa mahasiswa yang mencoba untuk menjadi penjilat dan memainkan peran-peran tertentu dalam proses penggusuran tersebut. Bagi akademisi, tugasnya adalah melakukan rasionalisasi ilmiah (cocok lagi ilmiah) terhadap kebijakan penggusuran. Begitupun dengan wartawan yang mencoba menampilkan berita yang lebih berpikah pada pemerintah, dimana tak dapat dipungkiri beberapa media hadir memang untuk menjadi alat penguasa dengan logika bisnis yang digunakannya.
Realitas yang membuat kita semakin sedih adalah ketika para kaum-kaum intelektual-termasuk dosen mau yang memimpin agenda-agenda-agenda pembunuhan, agenda penggusuran, dan perebutan hak-hak mereka.
Para mahasiswa sedang sibuk kuliah, sibuk kerja tugas, fokus untuk mengejar IPK tinggi. Para pelajar sedang sibuk belajar untuk masa depannya masing-masing.
Para pengurus lembaga kemahasiswaan sedang sibuk dengan kegiatan Musyawarah Besarnya, sibuk menyusun program kerja yang tak ada hubungannya dengan penderitaan rakyat, sibuk melakukan rapat, sibuk berdiskusi tentang kemiskinan, serta berdebat tentang kapan dan bagaimana revolusi.
Para dosen dan para guru hanya sibuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan diajarkan kepada mahasiswa atau siswanya, ada pula sedang sibuk mengurus proyek atas nama kesejahteraan diri dan keluarganya, dan mereka semua sibuk berceramah tentang pembunuhan ekonomi, kemakmuran, keadilan dengan pendekatan berbagai macam teori serta ideologi yang terkadang mereka sendiri masih membingungkannya.
Begitu pula (maaf) para kaum agamawan (Ulama, Pendeta, Biksu, dan yang lain), masih sibuk untuk berzikir, berdoa, melakukan ceramah-ceramah dan menebar ketakutan tentang neraka diakhirat, tapi tidak berani melawan realitas neraka di dunia yang sangat dekat seperti kemiskinan dan korupsi. Mereka sibuk mengurus dan memperindah tempat-tempat ibadahnya. Ada juga tokoh agama yang sedang sibuk untuk menemani kandidat korup dalam kampanye pemilu, sehingga tak punya waktu untuk mengurus umatnya sedang dibunuh, dibantai, dijajah, dirampok, diperkosa hak-haknya oleh pemerintah dan para pemilik modal rakus atas nama pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan kebersihan kota.
Para aparat kepolisian, TNI, maupun SatPol Pamong Praja sedang giat melatih diri mereka bagaimana membunuh atau melumpuhkan lawan. Lawan mereka bukan tentara Belanda dan tentara Jepang, tapi yang menjadi lawan adalah rakyat miskin dan mahasiswa yang menolak patuh pada kekuasaan yang dipimpin oleh pejabat korup yang busuk serta pengusaha-pengusaha serakah yang dalam kepalanya hanya ada profit dan efisiensi.
Beberapa tokoh LSM, juga sedang sibuk membuat proposal kepada instansi maupun perusahaan dengan mengatasnamakan orang miskin. Mereka sibuk untuk menjilat kepada pemerintah serta sibuk bekerja mengumpulkan data untuk majikannya yaitu para donatur donatur asing dan berkampanye tentang pembangunan (dengan rumus kapitalisme).
Sampai kapan kita harus diam dan patuh. Saatnya kita melawan kepasrahan massal. Saatnya bangkit melakukan penyadaran kepada para tukang becak, penjual sayur, penjual nasi kuning, kepada para Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan rendahan, para kaum miskin kota maupun kaum miskin yang ada dipelosok desa tentang hak-hak mereka yang dirampas. Menyadarkan mereka tentang ketidakjelasan alokasi dari pajak yang mereka bayar, menyadarkan mereka tentang masa depan dia, anak, dan cucunya yang semakin terancam, memberikan mereka data kebusukan, data penyimpangan para pejabat-pejabat korup yang memimpin agenda-agenda pembunuhan, agenda penggusuran, dan perebutan hak-hak mereka.
Saatnya kita bergerak dengan spirit nilai-nilai universal melepaskan diri dari ego organ, ego ideologi, ego suku serta sekat-sekat lain yang hanya akan dimanfaatkan oleh para penguasa untuk setting manajemen konflik (strategi adu domba). Saatnya kita mengusung isu saling menguatkan bahwa setiap kelompok atau organ pasti memiliki kelebihan yang mestinya perlu diramu, dijahit, dan dijadikan kekuatan untuk mengusung perubahan. Saatnya meninggalkan kebiasaan yang selalu lebih banyak mencari perbedaan daripada persamaan, seperti pesan seorang bijak, bahwa ketika kita memilik 10 hal-ada 9 hal yang berbeda dan ada 1 hal yang sama-maka cukup kita membahas satu hal yang sama itu, sedangkan 9 hal yang berbeda biarkanlah dia seperti pelangi yang memberi keindahan pada langit.
Saatnya kita lebih mendahulukan kepentingan orang banyak diatas kepentingan diri maupun kelompok, karena pertarungan sejati dalam kehidupan, bukan pertarungan Barat dan Timur, bukan pertarungan Utara dan Selatan, bukan pertarungan antara suku A dan suku B, bukan pertarungan antara laki-laki dan perempuan, dan bukan antara kulit putih dan kulit hitam, bukan antara agama A dan agama , tapi pertarungan sesungguhnya adalah antara orang yang jujur dan adil versus para koruptor, para kapitalis dan para penindas. Mereka hakikat musuh kita disetiap zaman. Mereka biasa menggunakan simbol suku dan agama untuk menyembunyikan dan meluluskan kejahatannya.
------Selamat Merenungkan------
Referensi:
Buku Pare dan catatan tak usai karangan A. Zulkarnain
Comments
Post a Comment