ILMU DAN FILSAFAT (Sebuah pengantar Filsafat Ilmu)
08
Februari 2016
ILMU
DAN
FILSAFAT
“Sejarah
dan Pengantar Filsafat Ilmu”
1.
ILMU DAN FILSAFAT
("Ah,
sekiranya filsafat bisa dekat dengan kehidupan kita dalam senda gurau
dan kesungguhan menatap bianglala")
ALKISAH
bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat yang arif bijaksana:
“Coba sebutkan kepada saya berapa jenis manusia yang terdapat dalam
kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya! “Filsuf itu menarik nafas
panjang dan berpantun
Ada
orang yang tahu di tahunya
Ada
orang yang tahu di tidak tahunya
Ada
orang yang tidak tahu di tahunya
Ada
orang yang tidak tahu di tidak tahunya
“Bagaimana
caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar?” sambung
orang awam itu, penuh hasrat dalam ketidaktahuannya. “Mudah saja,”
jawab filsuf itu, “ketahuilah
apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang kau tidak tahu.”
Pengetahuan
dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa
ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat
didorong untuk mengetahui apa yang telah kita ketahui dan apa yang
kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak
semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak
terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengkoreksi diri,
semacam keberanian untuk berterusterang, seberapa jauh sebenarnya
yang dicari telah kita jangkau.
Ilmu
merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku Sekolah Dasar
sampai pendidikan lanjutan seperti Perguruan Tinggi. Berfilsafat
tentang ilmu berarti kita berterusterang kepada diri kita sendiri:
Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya
yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya
yang bukan ilmu? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan
pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan
kebenaran secara keilmuannya? Mengapa kita mesti
mempelajari
ilmu? Apakah kegunaan yang sebenarnya?.
Demikian
juga filsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan
yang telah kita ketahui: Apakah ilmu telah mencakup segenap
pengetahuan yang seyogyanya saya ketahui dalam kehidupan ini? Di
batas manakah ilmu mulai dan di batas manakah dia berhenti? Ke
manakah saya harus berpaling di batas ketidaktahuan ini? Apakah
kelebihan dan kekurangan ilmu? (mengetahui kekurangan bukan berarti
merendahkanmu, namun secara sadar memaafkan, untuk terlebih jujur
dalam mencintaimu).
A.
APAKAH FILSAFAT?
Seseorang
yang berfilsafat dapat diumpamankan sebagai seorang yang berpijak di
bumi dan menengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakekat
dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seseorang, yang berdiri di
puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin
menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya.
Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat
menyeluruh.
Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang
ilmu itu sendrii. Dia ingin melihat hakekat ilmu dalam konstelasi
pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral dan
kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa
kebahagiaan kepada dirinya.
Sering
kita menemukan ilmuwan yang picik. Ahli fisika nuklir memandang
rendah ahli ilmu sosial. Lulusan jurusan IPA merasa lebih tinggi
daripada lulusan jurusan IPS. Atau lebih sedih lagi, seorang ilmuwan
meremehkan pengetahuan lain. Mereka meremehkan moral, agama dan
estetika. Mereka, para ahli yang berada di bawah tempurung disiplin
keilmuannya masing-masing, sebaiknya menengadah ke bintang-bintang
dan tercengang: Lho, kok masih ada langit yang lain di luar tempurung
kita?! Dan kita pun lalu berang akan kebodohan kita.
Tujuan
berpikir secara kefilsafatan memang memancing keberangan tersebut,
namun bukan berang kepada orang lain, melainkan berang terhadap diri
sendiri dan bertentangan rasa terhadap orang lain. Yang saya ketahui
simpul Socrates,
ialah bahwa saya tidak tahu apa-apa.
Kerendahan
hati Socrates
ini bukan verbalisme yang sekedar basa-basi. Seorang yang berpikir
filsafati selain menengadah ke bintang-bintang juga membongkar tempat
berpijak secara fundamental. Inilah ciri berpikir filsafat yang
kedua, yakni sifat
mendasar.
Dia tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmu
dapat disebut benar? Apakah kriterianya? Bagaimana proses penilaian
berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri
benar? Lalu “benar” itu sendri apa artinya? Seperti sebuah
lingkaran, maka pertanyaan itu melingkar. Dan menyusuri sebuah
lingkaran, kita harus mulai dari suatu titik, yang merupakan titik
awal dan sekaligus titik akhir. Lalu bagaimana menentukan titik awal
yang benar?
“Ah,
Horatio,” desis Hamlet, ”masih banyak lagi di langit dan di bumi,
selain yang terjaring dalam filsafatmu” memang demikian, secara
terus terang tidak mungkin kita menangguk pengetahuan secara
keseluruhan dan bahkan kita tidak yakin akan titik awal menjadi
jangkar pemikiran yang mendasar. Dalam hal ini kita hanya
berspekulasi, dan inilah yang merupakan ciri filsafat yang ketiga,
yakni sifat
spekulatif.
Kita
mulai mengernyitkan kening dan timbul kecurigaan terhadap filsafat:
bukankah spekulasi ini suatu dasar yang tidak bisa diandalkan? Dan
seorang filsuf akan menjawab: “Memang, namun hal ini tidak bisa
dihindarkan”. Menyusuri sebuah lingkungan kita harus mulai dari
sebuah titik, bagaimanapun juga spekulatifnya. Yang penting adalah
bahwa dalam prosesnya,
baik dalam analisis
maupun pembuktiannya,
kita bisa memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana
yang tidak. Dan tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar
yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut
benar? Apakah yang disebut sahih? Apakah alam ini teratur atau kacau?
Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd? Apakah hukum yang
mengatur alam dan segenap kehidupan?
Sekarang
kita sadar bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan
spekulasi. Dari serangkaian spekulasi ini kita dapat memilih buah
pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari
penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan yang merupakan titik awal
dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa
yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di
atas dasar kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau
buruk, tidak mungkin kita berbicara tentang moral. Demikian juga
tanpa wawasan tentang apa yang disebut indah atau jelek, tidak
mungkin kita berbicara tentang kesenian.
B.
FILSAFAT: PENERATAS PENGETAHUAN
Filsafat,
meminjam pikiran Will
Darunt,
dapat diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk
pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infantri ini adalah berbagai
pengetahuan yang di antaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang
memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu
ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, yang dapat
diandalkan. Setelah penyerahan dilakukan maka filsafatpun pergi. Dia
kembali menjelajah laut lepas, berspekulasi dan meneratas.
Seorang
yang skeptis akan berkata: “ Sudah lebih dari dua ribu tahun orang
berfilsafat namun selangkah pun dia tidak maju”. Sepintas lalu
kelihatannya memang demikian, dan kesalahpahaman ini dapat segera
dihilangkan, sekiranya kita sadar bahwa filsafat adalah marinir yang
merupakan pioner, bukan pengetahuan yang bersifat memerinci.
Filsafat
menyerahkan daerah yang sudah dimenangkannya kepada
pengetahuan-pengetahuan lainnya. Semua ilmu, baik ilmu-ilmu
alam
maupun ilmu-ilmu
sosial,
ditilik dari pengembangannya bermula sebagai filsafat. Issac
Newton
(1642-1627) menulis hukum-hukum
fisikanya
sebagai Philosaphiae
Naturalis Principia Mathematica
(1686) dan Adam
Smith
(1723-1790) bapak ilmu
ekonomi
menulis buku The
Wealth on Nations
(1776) dalam fungsinya sebagai Profesor of Moral Philosophy di
University of Glasgow. Namun asal fisika adalah filsafat alam
(natural
philosophy)
dan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral
philosophy).
Dalam
perkembangan filsafat menjadi ilmu terdapat taraf peralihan. Dalam
taraf peralihan ini maka bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih
sempit, tidak lagi menyeluruh melainkan sektoral. Di sini orang tidak
lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan, melainkan
mengkaitkannya dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu sosial ekonomi.
Walaupun demikian, dalam taraf ini secara konseptual ilmu masih
mendasarkan
diri pada norma-norma filsafat.
Umpamanya
ekonomi masih merupakan penerapan etika (applied
ethics)
dalam kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang
dipakai adalah normatif
dan deduktif
berdasarkan asas-asas moral yang filsafati.
Pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dari
konsep-konsep filsafat dan bertumpu sepenuhnya pada hakekat alam
sebagaimana adanya. Pada tahap peralihan ilmu masih mendasarkan diri
pada norma yang seharusnya, sedangkan dalam tahap terakhir ini, ilmu
didasarkan pada penemuan ilmiah saja adanya. Dalam menyusun
pengetahuan tentang alam dan isinya ini maka manusia tidak lagi
mempergunakan metode yang bersifat normatif
dan deduktif,
melainkan kombinasi
antara deduktif dan induktif dengan jembatan yang berupa pengajuan
hipotesis
dan dikenal sebagai metode deducto-hypotetico-
verifikatif.
”Tiap ilmu dimulai dengan filsafat dan berakhir sebagai seni”
ujar Will
Durant,
“(Ia) muncul dalam hipotesis dan berkembang ke keberhasilan”
Auguste
Comte
(1798-1857) membagi tiga tingkat perkembangan pengetahuan tersebut di
atas ke dalam tahap religius,
metafisik
dan positif.
Dalam
tahapan pertama maka asas
religilah yang dijadikan postulat ilmiah,
sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran dari ajaran religi.
Dalam tahap kedua orang
mulai berspekulasi tentang metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi
obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi, dan mengembangkan
sistem pengetahuan berdasarkan postulat metafisik tersebut.
Sedangkan tahap ketiga adalah tahap pengetahuan ilmiah: asas-asas
yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang
obyektif
.
C.
BIDANG TELAAH FILSAFAT
Apakah
sebenarnya yang ditelaah filsafat?
Selaras
dengan dasarnya yang spekulatif, maka dia menelaah segala masalah
yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya
sebagai pioner dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok; terjawab
masalah yang satu, dia pun mulai merambah pertanyaan lain. Tentu saja
tiap kurun waktu mempunyai masalah yang merupakan mode pada zaman
itu. Filsafat yang sedang pop dewasa ini mungkin mengenai UFO dan
apakah cuma satu-satunya “manusia” yang menghuni semesta ini.
Bacalah buku Carl
Sagan
yang berjudul The
Cosmic Connection
sebagai hiburan di waktu senggang setelah membaca buku filsafat ini.
Kini selaras dengan usaha peningkatan kemampuan penalaran maka
filsafat ilmu menjadi “ngetop”. Sepuluh tahun yang akan datang
yang akan menjadi perhatian kemungkinan besar bukan lagi filsafat
ilmu, melainkan filsafat moral yang akan dikaitkan dengan ilmu.
Seorang
profesor yang penuh humor menghampiri permasalahan yang dikaji
filsafat dengan sajak di bawah ini:
What
is a man?
What
is?
What?
Maksudnya
adalah bahwa pada tahap yang mula sekali filsafat mempersoalkan
siapakah manusia itu: What is a man? Hallo, siapa kau? Tahap ini
dapat dihubungkan dengan segenap pemikiran ahli-ahli filsafat sejak
zaman Yunani
Kuno
sampai sekarang, yang rupa-rupanya tak kunjung usai mempermasalahkan
mahluk yang satu ini. Terkadang kurang disadari bahwa setiap ilmu,
terutama ilmu-ilmu sosial, mempunyai asumsi tertentu tentang manusia
yang menjadi pelaku utama dalam kajian keilmuannya. Mungkin ada
baiknya kita megambil contoh yang agak berdekatan dari ilmu ekonomi
dan manajemen. Kedua ilmu ini mempunyai asumsi tentang manusia yang
berbeda. Ilmu ekonomi mempunyai asumsi bahwa manusia adalah mahluk
ekonomi yang bertujuan mencari kenikmatan sebesar-besarnya dan
menjauhi ketidaknyamanan sebisa mungkin. Dia adalah mahluk hedonis
yang serakah, atau dalam proposisi ilmiah: mendapat keuntungan
sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Sedang ilmu
manajemen mempunyai asumsi lain tentang manusia sebab bidang telaah
ilmu manajemen lain dari bidang telaah ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi
menelaah hubungan manusia dengan benda/ jasa yang dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya, sedang manajemen bertujuan menelaah kerjasama
antara sesama manusia dalam mencapai suatu tujuan yang disetujui
bersama. Cocokkah asumsi bahwa manusia adalah Homo
economicus
bagi manajemen yang tujuannya menelaah kerjasama antar manusia?
Apakah motif ekonomis yang mendorong seseorang untuk ikut menjadi
sekarelawan memberantas kemiskinan dan kebodohan? Tentu saja tidak,
bukan? Untuk itu manajemen mempunyai beberapa asumsi tentang manusia,
tergantung dari perkembangan dan lingkungan masing-masing, seperti
mahluk ekonomi, mahluk sosial dan mahluk aktualisasi diri. Mengkaji
permasalahan manajemen dengan asumsi manusia dalam kegiatan ekonomi
akan menyebabkan kekacauan dalam analisis yang bersifat akademik.
Demikian pula mengkaji permasalahan ekonomi dengan asumsi manusia
yang lain di luar mahluk ekonomi (katankanlah mahluk sosial seperti
asumsi dalam manajemen), akan menjadikan ilmu ekonomi menjadi moral
terapan, mundur sekian ratus tahun ke abad pertengahan. Sayang,
bukan? The
rught (assumption of) man on the right place,
mungkin kalimat ini yang harus kita gantung di tiap pintu
masing-masing disiplin keilmuan.
Tahap
yang kedua adalah pertanyaan yang berkisar tentang ada, tentang hidup
dan eksistensi manusia. What is life anyway, man what is it?
Bagaimana: manis atau pahit? Apakah hidup ini ada tujuannya ataukah
absurd? Dan hidup sekedar acak dan berupa peluang: Nah, lu, dadu
tiga: kau balak lima: kau si pandir goblok, kau IQ-mu 185! Itukah,
kita percaya kepada suatu tujuan yang mulia: menjalin gejala fisik,
merangkai fakta dunia?
“Barangkali
terkandung suatu maksud”, kata Broder Juniper dalam sastra klasik
The
Bridge of San Luis Pay
yang termasyhur, ketika dua abad berselang jembatan yang paling indah
di seluruh Peru itu ambruk dan melemparkan lima orang ke jurang yang
dalam. “Adalah sangat sukar untuk mengetahui kehendak tuhan” kata
dia, namun tidaklah berarti bahwa hal ini tidak akan pernah bisa kita
ketahui, dan mengatakan bahwa Tuhan terhadap kita adalah bagaikan
lalat yang dibunuh kanak-kanak pada suatu hari di musim panas.
“Ah,
spekulasi macam begini hanya omong kosong percuma yang buang waktu
saja”, mungkin seorang ilmuwan berkata, ”sama sekali tidak ada
hubungannya dengan permasalahan keilmuan saya” (Dikiranya ilmu itu
rumus-rumus, laboratorium, itu saja!). dan ketika laboratorium riset
genetika menghasilkan penemuan yang menyangkut hari depan manusia
apakah dia cuma akan mengangkat bahu. Mengapa ribut-ribut? Bikin saja
semua manusia IQ-nya 250 secara masal. Habis perkara! (Ilmuwan macam
begini bukan saja picik, tetapi juga berbahaya: dia tidak tahu
ditidaktahunya). Namun pun jika kita ingin menggumuli permasalahan
semacam itu; tentang genetika, social
engineering,
atau bayi tabung; maka asasnya belum terdapat dalam lingkup
teori-teori keilmuan. Kita harus berpaling kepada filsafat,
memilih-milih landasan moral, apakah sesuatu kegiatan kailmuan secara
etis dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.
Tahap
yang ketiga, skenarionya bermula pada suatu pertemuan ilmiah tingkat
“tinggi”. Dalam pertemuan itu seorang ilmuwan berbicara panjang
lebar tentang suatu penemuan dalam risetnya. Setelah berjam-jam dia
berbicara maka dia pun menyeka keringatnya dan bertanya: “Adakah
kiranya yang belum jelas?” seorang hadirin bangkit dan seperti
seorang yang pekak memasang kedua belah tangan di samping kupingnya:
seraya katanya “apa?” (Rupanya sejak tadi dia tidak mendengar
apa-apa).
Memang,
orang itu sejak tadi “tidak mendengar apa-apa”, sebab “ia tidak
tertarik untuk mendengarkan apa-apa” sebab “tidak ada apa-apa
yang berharga untuk didengarnya”. Orang nyentrik itu baru mau
dengar pendapat yang bersifat ilmiah bila pendapat itu dikemukakan
lewat acara/proses/prosedur ilmiah. Biarpun seorang pembicara
mengutip pendapat sekian pemenang hadiah nobel dan mengemukakan
sekian fakta yang aktual, namun jika bagi dia tidak jelas yang mana
masalah, yang mana hipotesis, yang mana kerangka pemikiran, yang mana
kesimpulan, yang keseluruhannya terkait dan tersusun dalam penalaran
ilmiah, bagi dia semua itu sekedar GIGO (maksudnya masuk lewat
telingan kiri G dan keluar dari telingan kanan juga G). Tugas utama
filsafat, kata Wittgenstein, bukanlah menghasilkan sesuatu pernyataan
filsafat, malainkan menyatakan sebuah pernyataan sejelas mungkin
dengan demikian maka epistemologi dan bahasa merupakan gumulan utama
para filsuf dalam tahap ini. Bahasa termasuk matematika yang secara
filsafati bukan merupakan ilmu, melainkan suatu bahasa nonverbal yang
merupakan pokok pengkajian filsafat abad keduapuluh ini.
Institut
teknologi yang termasyhur di dunia, yakni Massachussets Institute of
Technology (MIT), mempunyai departemen linguistik yang sangat bagus.
Sekiranya masih ada ahli teknologi yang memandang rendah bahasa, maka
orang itu telah sangat ketinggalan zaman. Semoga ilmuwan ini tidak
ketemu dengan orang pekak yang sangat menjengkelkan itu, yang tanpa
timbang rasa melemparkan segerobak pendapat kita ke tempat pembuangan
sampah.
“Masalah
utama dengan disertasi saudara,” kata seorang penguji kepada
seorang promovedus,” ialah bahwa saudara berlaku sebagai seorang
pemborong bahan bangunan dan bukan sebagai arsitek yang membangun
rumah. Memang batanya banyak sekali, bertumpuk di sana sini, namun
tidak merupakan dinding; kayunya numpuk sekian meter kubik namun
tidak merupakan atap. Sebagai ilmuwan saudara harus membangun
kerangka dengan bahan-bahan tersebut, kerangka pemikiran yang asli
dan meyakinkan, disemen oleh penalaran dan pembuktian yang tidak
meragukan ............”
“Ah,
daripada disebut pemborong bahan bangunan, labih baik capai sedikit
belajar lagi”, bisik seorang peneliti yang sedang mempersiapkan
disertasinya. Memang, lebih baik mengasah parang, daripada sekian
ratus halaman dari disertasi kita dibuang orang. (Maaf, parang itu
maksudnya untuk memberantas ilalang, bukan menebas orang!).
D.
CABANG-CABANG FILSAFAT
Pokok
permasalahan yang dikaji filsafat pada pokoknya mencakup tiga segi,
yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah
(epistemologi),
mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika),
serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika).
Ketiga cabang utama filsafat ini kemudian bertambah dua lagi yakni,
pertama, teori tentang ada: tentang hakekat keberadaan zat, tentang
hakekat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya
terangkum dalam metafisika; dan, kedua politik:
yakni kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahan yang ideal.
Kelima cabang utama ini kemudian berkembang lagi menjadi
cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih
spesifik, di antaranya filsafat ilmu. Cabang-cabang filsafat yang
sekarang dikenal sebagai bidang yang mempunyai kajian formal pada
pokoknya terdiri dari:
(1)
Epistemologi (Filsafat Pengetahuan)
(2)
Etika (Filsafat Moral)
(3)
Estetika (Filsafat Seni)
(4)
Metafisika
(5)
Politik (Filsafat Pemerintahan)
(6)
Filsafat Agama
(7)
Filsafat Pendidikan
(8)
Filsafat Ilmu
(9)
Filsafat Hukum
(10)
Filsafat Sejarah
(11)
Filsafat Matematika
E.
FILSAFAT ILMU
Filsafat
ilmu merupakan bagian dari Epistemiologi (filsafat Pengetahuan) yang
secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu
merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu.
Meskipun secara metodologis ilmu tidak membuat perbedaan antara
ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena
permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat
ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat
ilmu-ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan
masing-masing bidang yang ditelaah, yakni ilmu-ilmu alam atau
ilmu-ilmu sosial, dan tidak mencirikan cabang filsafat yang bersifat
otonom. Ilmu memang secara kefilsafatan berbeda dari pengetahuan,
namun tidak terdapat perbedaan yang asasi antara ilmu-ilmu alam dan
ilmu-ilmu sosial, sebab keduanya mempunyai ciri-ciri keilmuan yang
sama.
Filsafat
ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab beberapa
pertanyaan mengenai hakekat ilmu, seperti:
Obyek
apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud hakiki obyek tersebut?
Bagaimana hubungan antara obyek tadi dan daya tangkap manusia
(seperti berpikir, merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan?
Bagaimana
proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita
mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu
sendiri? Apakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu
kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
Untuk
apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan
antara cara penggunaan tersebut dan kaidah-kaidah moral? Bagaimana
penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
Bagaimana hubungan antara teknik prosedural yang merupakan
operasionalisasi metode ilmiah dan norma-norma moral/profesional?
Pertanyaan-pertanyaan
seperti kelompok pertanyaan yang pertama disebut landasan ontologis;
kelompok kedua adalah mengenai landasan epistemologis;
dan kelompok ketiga adalah mengenai landasan axiologis.
Semua pengetahuan, apakah itu ilmu, seni, atau pengetahuan apa saja,
pada dasarnya mempunyai ketiga landasan ini. Yang berbeda adalah
materi perwujudannya serta sejauh mana landasan-landasan dari ketiga
aspek pengetahuan ini diperkembangkan dan dilaksanakan. Dari semua
pengetahuan maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologis,
epistemologis dan axiologisnya telah jauh lebih berkembang
dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lain, dan dilaksanakan
secara konsekuen dan penuh disiplin. Dari pengertian inilah
sebenarnya berkembang pengertian ilmu sebagai disiplin, yakni
pengetahuan yang mengembangkan dan melaksanakan aturan-aturan mainnya
dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan.
F.
KERANGKA TELAAH BUKU
Buku
ini dimaksudkan sebagai pengantar
filsafat ilmu,
atau paling tidak dimaksudkan untuk membahas beberapa hal yang
berkaitan dengan filsafat ilmu. Pada dasarnya buku ini ingin
merangkum dasar-dasar dari ketiga aspek yang melandasi ilmu yakni
ontologi,
epistemologi dan axiologi.
Tujuan
utama buku yang bersifat
pengantar
ini bukanlah untuk memberikan pengkajian teknis secara mendalam dari
tiap bagian yang ditelaah, malainkan untuk menunjukkan
kaitan secara menyeluruh dari bagian-bagain yang sepintas lalu
seakan-akan terpisah.
Diharapkan bahwa cara berpikir sepotong-sepotong yang merupakan ciri
analisis keilmuan dapat disatukan dalam suatu kerangka yang bersifat
menyeluruh dilihat dari kacamata filsafat.
Demikian
juga buku ini dimaksudkan bukan semata-mata untuk meningkatkan
pengatahun kognitif tentang asas-asas kefilsafatan yang melandasi
bidang keilmuan, namun juga aspek afektifnya, penilaian afektif yang
bersifat emosional dan personal akan membangkitkan kecintaan kita
terhadap ilmu dan sekaligus keberadaan-keberadaan yang dikandungnya.
Dengan demikian maka ilmu tidak cuma berupa pengetahuan yang kering
dan impersonal, seperti pernyataan “Pluto adalah planet terjauh”,
bagitu jauh maknanya dari kehidupan kita, malainkan intim dan
operasional: dalam pemikiran kita, dalam sikap kita dan dalam
perbuatan kita. Sebab penilaian terakhir dari seorang ilmuwan
bukanlah terletak pada setumpuk teori yang dikuasainya, melainkan
pada cara berpikirnya, cara bersikapnya dan cara bertindaknya. Untuk
itulah maka buku ini dipersembahkan, dengan isi dan kata-kata yang
sederhana, namun penuh kesungguhan dan kecintaan seperti bait dalam
sajak berikut.
Dengan
kecintaan yang sama
Kutulis
sajak-sajak
Bagi
profesor-profesor Metafisik
Seperti
kesungguhan
Membuahkannya
Pada
seorang kanak-kanak ..................
2.
TENTANG TERMINOLOGI ILMU, ILMU
PENGETAHUAN
ATAU SAINS
Seseorang
yang profesinya mendalami Biologi bila ditanya apakah yang menjadi
bidang keahliannya, maka tanpa ragu-ragu dia akan menjawab: Biologi.
Bila lebih lanjut dia ditanya sinomim Biologi dalam bahasa Indonesia,
maka tanpa berpikir dia akan berkata Ilmu Hayat. Sekiranya dia
ditanya kepada kelompok mana Biologi itu termasuk, maka dia
menyambung: Ilmu Pengetahuan Alam, atau Ilmu-Ilmu Alam? Potong
penanya yang penasaran, “Ya tidak tahu” katanya, “Sebab
kenyataannya memang begitu.” “Bila kenyataannya begitu,”
sambung si penanya, “mengapa Ilmu Biologi tidak disebut Ilmu
Pengetahuan Hayat?”. “Sebab ilmu Pengetahuan Hayat itu tidak
biasa.,” jawab ahli Biologi ini mulai tidak sabar. “Jadi”,
senyum penanya itu sambil meletakkan kartu As-nya “mengapa
Ilmu Pengetahuan Alam saja?” “sebab”, simpul sang ahli biologi
sambil meletakkan kartu truf-nya, “Ilmu Pengetahuan Alam itu dibina
oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia”.
Skenario
yang hipotesis ini menggambarkan kebingungan dalam penggunaan
terminologi ilmu pengetahuan. Masalah ini menjadi lebih serius bila
kita membahas hakekat ilmu pengetahuan ini secara filsafati. Apakah
padanan epistemologi dalam bahasa Indonesia: filsafat ilmu
pengetahuan, atau filsafat ilmu? Ke dalam kelompok mana kita bisa
memasukkan humaniora, seperti seni dan filsafat: ke dalam pengetahuan
atau ilmu pengetahuan? Masalah ini sebaiknya segera kita coba untuk
jernihkan, agar kita tidak terjatuh ke dalam kebingungan semantik,
sesuatu yang sangat tidak menguntungkan bila dikaitkan dengan usaha
untuk mengenal hakekat keilmuan itu sedalam-dalamnya.
A.
DUA JENIS KETAHUAN
Manusia
dengan segenap kemampuan kemanusiaannya seperti perasaan, pikiran,
pengalaman, pancaindera dan intuisi mampu menangkap alam kehidupannya
dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dengan berbagai
bentuk “ketahuan” umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah
dan filsafat. Terminologi ketahuan ini adalah terminologi
artifisial yang bersifat sementara
sebagai alat analisis yang pada pokoknya diartikan sebagai
keseluruhan bentuk produk kegiatan manusia dalam usaha untuk
mengetahui sesuatu. Apa yang kita peroleh dalam proses mengetahui
tersebut tanpa memperhatikan obyek, cara dan kegunaannya kita
masukkan ke dalam kategori yang disebut “ketahuan” ini. Dalam
bahasa Inggris sinonim dari ketahuan ini adalah “knowledge”.
Ketahuan
atau knowledge
ini merupakan terminologi generik yang mencakup segenap bentuk yang
kita ketahui, seperti filsafat, ekonomi, seni bela diri, cara
menyulam dan biologi itu sendiri. Jadi biologi termasuk dalam
ketahuan (“knowledge”),
seperti juga ekonomi, metematika, dan seni. Untuk membedakan
tiap-tiap bentuk anggota kelompok ketahuan (knowledge) ini terdapat
tiga kriteria yakni:
(a)
Apakah obyek yang ditelaah yang membuahkan ketahuan (“knowledge”)
tersebut? Kriteria ini disebut obyek
ontologis,
umpamanya saja ekonomi menelaah hubungan antara manusia dengan
benda/jasa dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dan mamajemen
menelaah kerjasama manusia dalam mencapai tujuan yang telah disetujui
bersama. Secara ontologis maka dapat ditetapkan obyek penelaahan
kebudayaan, cara bertukang dan filsafat, dan dengan demikian dapat
dibedakan daerah penjelajahan atau bidang telaah ketahuan
(“knowledge”) masing-masing;
(b)
Cara apa yang dipakai untuk mendapatkan ketahuan (knowledge)
tersebut; atau dengan perkataan lain, bagaimana cara mendapatkan
ketahuan (“knowledge”) itu? Kriteria ini disebut landasan
epistemologis yang berbeda untuk setiap bentuk ketahuan manusia.
Umpamanya, landasan
epistemologis
matematika adalah logika deduktif dan landasan epistemologis
kebiasaan ialah pengalaman dan akal sehat;
(c)
Untuk apa ketahuan (“knowledge”) itu dipergunakan, dengan kata
lain; nilai kegunaan apa yang dipunyai olehnya? Kriteria ini disebut
landasan
axiologis
yang juga dapat dibedakan untuk setiap jenis ketahuan (“knowledge”).
Nilai kegunaan seni pencak juga jelas berbeda dari nilai kegunaan
filsafat atau fisika nuklir.
Jadi
seluruh bentuk dapat digolongkan ke dalam kategori ketahuan
(knowledge)
dan masing-masing bentuk dapat dicirikan oleh obyek ontologis,
landasan epistemologis dan landasan axiologisnya. Salah satu dari
bentuk ketahuan (“konowledge”) ditandai dengan:
(1)
obyek ontologis: pengalaman
manusia,
yakni segenap ujud yang dapat dijangkau lewat pancaindera atau
peranti (“device”) yang membantu kemampuan pancaindera;
(2)
landasan epistemologis: metode ilmiah yang berupa gabungan logika
deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis, atau yang
disebut metode deducto-hypotetico-verifikatif;
(3)
landasan axiologis: kemaslahatan manusia, artinya secara segenap ujud
ketahuan itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.
Bentuk
ketahuan (“knowledge”) seperti ini dalam bahasa Inggris disebut
“science”.
Dengan demikian maka masalahnya adalah terdapat perbedaan antara
“knowledge” dan “science”; antara ketahuan yang bersifat
generik dan bentuk ketahuan yang spesifik yang mempunyai obyek
ontologis, landasan epistemologis dan landasan axiologis yang khas.
Lalu apakah sinonim-sinonim “knowledge”
dan “science” dalam bahasa Indonesia?
B.
BEBERAPA ALTERNATIF
Alternatif
pertama adalah menggunakan “ilmu pengetahuan” untuk “science”
dan “pengetahuan” untuk “knowledge”. Hal ini yang sekarang
umum dipakai. Walaupun demikian penggunaan ini mempunyai beberapa
kelemahan, yakni, pertama, “knowledge” merupakan terminologi
generik, dan “science” adalah anggota (species) kelompok (genus)
tersebut. Adalah kurang layak kalau “pengetahuan”
merupakan termonologi generik dan “ilmu pengetahuan” merupakan
anggota “genus” tersebut. Kelemahan lain adalah, bahwa kata sifat
dari “science” ialah “scientific”. Kalau secara konsekuen
kita mempergunakan “ilmu pengetahuan” untuk “science”, apakah
“scientific” adalah “pengetahuan ilmiah” atau
“keilmu-pengetahuan” (?) Dua termonologi ini akan menyesatkan dan
kurang nyaman untuk dipergunakan. Pengetahuan ilmiah akan menyesatkan
dan kurang nyaman untuk dipergunakan. Pengetahuan ilmiah bisa
diartikan “scientific knowledge” yang dalam bahasa Inggris adalah
sinonim dengan “science” sedangkan ke-ilmu-pengetahuanan rasanya
terlampau dibikin-bikin.
Alternatif
kedua berdasarkan kepada asumsi bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya
adalah kedua benda, yakni “ilmu” dan “pengetahuan”. Rangkaian
dua kata ini adalah ilmiah dalam bahasa Indonesia, seperti emas perak
atau intan berlian. Dengan demikian kita tinggal menetapkan mana yang
sinonim dengan “science” dan mana yang sinonim dengan
“knowledge”. Dalam hal ini maka yang lebih tepat kiranya adalah
penggunaan kata “pengetahuan” untuk “knowledge” dan “ilmu”
untuk “science”.
Dengan demikian maka “social sciences” kita terjemahkan menjadi
“ilmu-ilmu sosial” dan “natural sciences” menjadi “ilmu-ilmu
alam”. Ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial dan humaniora (seni
filsafat, bahasa dan sebagainya) tercakup dalam
“pengetahuan”
yang merupakan terminologi generik. Kata sifat dari “ilmu” adalah
ilmiah” atau “keilmuan”, metode yang dipergunakan dalam
kegiatan ilmiah (keilmuan) adalah metode ilmiah (keilmuan). Ahli
dalam bidang keilmuan adalah ilmuwan.
C.
SAINS: ADOPSI YANG KURANG DAPAT DIPERTANGGUNG JAWABKAN
Akhir-akhir
ini, mungkin sebagai jalan keluar dari kebingungan semantik yang
melanda terminologi ilmu pengetahuan, diperkenalkan kata sains yang
dalam beberapa hal telah secara sah dipergunakan (umpamanya dalam
gelar Magister Sains). Sains ini adalah terminologi yang dipinjam
dari bahasa Inggris, yakni dari “science”.
Saya kira adopsi ini tidak perlu, sebab pembentukan kata sifat dengan
kata dasar sains ini agak janggal dalam struktur bahasa Indonesia.
“Scientific”, sekiranya sains berpadanan dengan “science”,
adalah “ke-sains-an” atau“saintifik”(?).
“Scientist” menjadi “sains-wan” atau “saintis” (?).
Keberadaan
kedua adalah bahwa terminologi “science” dalam bahasa asalnya
penggunaannya sering dikaitkan dengan “natural science”, seperti
kimia. “Economics”,
sering dikonotasikan sebagai bukan “science”, melainkan “social
studies”, yang mencakup “social sciences” lainnya. Dengan
demikian maka terminologi “science” sering dikaitkan dengan
“teknologi”. Hal ini meskipun tidak disengaja dan mungkin tidak
disadari, menimbulkan jurang antara ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu
alam. Gampangnya, ilmu-ilmu sosial bukanlah “science”, atau
paling tidak kata “science” terutama dipakai untuk ilmu-ilmu
alam.
Bagi
mereka yang merindukan runtuhnya pagar yang memisahkan Ilmu
Pengetahuan Alam dari Ilmu Pengetahuan Sosial, baik secara pendidikan
maupun secara keahlian dan sosial, maka adopsi terminologi “sains”
ini berarti melangkah mundur. Pengelompokkan keahlian yang bersifat
parokial ini sebaiknya segera dihilangkan, agar ilmu terbebas dari
wabah verbalisme yang bertentangan dengan semangat dan hakekat
keilmuan itu sendiri.
Bisa
saja sebenarnya kita mempergunakan “ilmu pengetahuan” untuk
“knowledge”,
“sains” atau “sciece”, “ilmiah” atau “keilmuan” untuk
“scientific”, namun di mana struktur dan logika bahasanya?
Mungkin ada baiknya kita menyimak pendapat Wittgenstein mengenai hal
ini.
Kebanyakan
dari pernyataan dan pertanyaan yang terkandung dalam karya
kefilsafatan tidak sah, namun “nonsensical” Konsekuensinya adalah
bahwa kita tidak dapat memberikan jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan semacam ini, melainkan hanya mampu menunjukkan
bahwa semua itu adalah “nonsensical”.
Kebanyakan
dari pernyataan dan pertanyaan dalam filsafat ditimbulkan oleh
kegagalan
kita untuk memahami logika dari bahasa kita sendiri.
3.
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
Secara
simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan
setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan ini. Dia
mengetahui yang mana yang benar dan mana yang salah, yang mana yang
baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek.
Secara terus menerus dia dipaksa harus mengambil pilihan: mana jalan
yang benar dan mana jalan yang salah, mana tindakan yang baik dan
mana tindakan yang buruk, dan apa yang indah dan apa yang jelek.
Dalam melakukan pilihan ini manusia berpaling kepada pengetahuan.
Manusia
adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara
sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun
pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival).
Seekor kera tahu, buah jambu yang mana yang yang jelek. Seekor anak
tikus tahu kucing yang mana yang ganas. Anak tikus ini tentu saja
diajari induknya untuk sampai pada pengetahuan bahwa kucing itu
berbahaya. Tetapi juga dalam hal ini, berbeda dengan tujuan
pendidikan manusia, anak tikus hanya diajari hal-hal yang menyangkut
kelangsungan hidupnya.
Manusia
mengembangkan pengetahuannya lebih daripada sekedar untuk memenuhi
kebutuhan kelangsungan hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru,
menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk
kelangsungan hidup, melainkan lebih dari itu. Manusia mengembangkan
kebudayaan; manusia memberi makna kepada kehidupannya, manusia
“memanusiakan” diri dalam hidupnya, dan masih banyak lagi
pernyataan semacam ini. Semua itu pada hakekatnya menyimpulkan bahwa
manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih
tinggi dari sekedar mempertahankan kelangsungan hidupnya. Inilah yang
menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya, dan pengetahuan ini
jugalah yang mendoroang manusia menjadi mahluk yang bersifat khas di
muka bumi ini.
Pengetahuan
ini dapat dikembangkan manusia karena dua hal utama, yakni, pertama,
manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan
jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Seekor beruk
bisa saja memberikan informasi kepada kelompoknya bahwa ada
segerombolan gorila datang menyerang, namun bagaimanapun berkembang
bahasanya, dia tidak mampu mengkomunikasikan kepada beruk-beruk
lainnya, jalan pikiran yang analitis mengenai gejala tersebut. “Tak
ada seekor anjing pun”, kata Bertrand Russel, “yang berkata
kepada temannya? „ayahku miskin namun jujur‟. “Kalimat ini
berasal dari drama Shakespeare yang terkenal. “Dan tak ada seekor
anjing pun” sambung Adam Smith, “yang secara sadar tukar menukar
tulang dengan temannya”. Adam
Smith
dalam hal ini berbicara tentang prinsip ekonomi, yang melandasi
proses pertukaran yang dilakukan Homo
economicus,
yang mengembangkan pengetahuan berupa ilmu ekonomi.
Sebab
kedua,
mengapa menusia mampu mengembangkan pengetahuannya denga cepat dan
mantap, adalah kemampuannya untuk berpikir menurut suatu alur
kerangka pikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini
disebut penalaran. Binatang mampu berpikir namun tidak mampu berpikir
nalar. Beda utama antara seorang profesor fisika nuklir dengan anak
kecil yang membangun bom atom dari pasir di “kelompok bermain”
(play group) tempat dia melakukan “risetnya”, terletak pada
kemampuan penalarannya. Instink binatang jauh lebih peka daripada
instink seorang insinyur geologi, mereka sudah jauh-jauh berlindung
ke tempat yang aman sebelum gunung meletus. Namun binatang tak bisa
menalar tentang gejala tersebut: mengapa gunung meletus, faktor apa
yang menyebabkan, apa yang dapat dilakukan untuk mencegah semua itu
terjadi.
Dua
kelebihan inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan
pengetahuannya, yakni bahasa yang bersifat komunikatif dan pikiran
yang mampu menalar. Tentu saja tidak semua pengetahuan berasal dari
proses penalaran, sebab berpikir pun tidak senantiasa bernalar.
Manusia bukan semata-mata mahluk yang berpikir, merasa dan
mengindera. Dan totalitas pengetahuannya berasal dari ketiga sumber
tersebut, di samping wahyu: yang merupakan komunikasi Sang Pencipta
dengan mahluknya.
“Memang
penalaran otak luar biasa”, simpul cendekiawan Bos
Bubalus
membacakan makalahnya (di klinik Fakultas Kedokteran Hewan, Jalan
Taman Kencana, Bogor). “Meskipun penelitian kami menunjukkan, bahwa
secara kimia dan fisika, otak kerbau mirip otak manusia ..........
tapi, orang itu curang, suka serakah, dan gemar mencuri makanan”.
A.
HAKEKAT PENALARAN
Penalaran
merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang
berupa pengetahuan. Manusia pada hakekatnya merupakan mahluk yang
berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak.
Sikap dan tindakannya bersumber pada pengetahuan yang didapatnya
lewat kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan
pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir, dan bukan dengan
perasaan, meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua
kegiatan berpikir menyadarkan diri kepada penalaran. Jadi penalaran
merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu
dalam menemukan kebenaran.
Berpikir
merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa
yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama. Karena itu
kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar
itu pun juga berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa tiap jalan pikiran
mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan kriteria
kebenaran ini merupakan landasaan bagi proses penemuan kebenaran, dan
tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya
masing-masing.
Sebagai
suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu.
Ciri yang pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas
dapat disebut logika. Dalam hal ini maka dapat kita katakan bahwa
tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya tersendiri. Atau dapat juga
disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses
berpikir logis.
Berpikir logis di sini harus diartikan sebagai kegiatan berpikir
menurut suatu pola tertentu, atau dengan kata lain, menurut logika
tertentu. Hal yang patut kita sadari ialah bahwa berpikir logis itu
mempunyai konotasi yang bersifat jamak (plural) dan bukan tunggal
(singular). Suatu kegiatan berpikir bisa disebut logis ditinjau dari
suatu logika yang lain. Hal ini sering menimbulkan gejala apa yang
dapat kita sebut sebagai kekacauan penalaran yang disebabkan oleh
ketakkonsistenan kita dalam mempergunakan pola berpikir tertentu.
Ciri
penalaran yang kedua adalah sifat analitik dari proses berpikirnya.
Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri
kepada suatu analisis, dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk
analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan. Artinya
penalaran
ilmiah merupakan suatu kegiatan analisis yang mempergunakan logika
ilmiah, dan demikian juga penalaran lainnya yang mempergunakan
logikanya sendiri pula.
Sifat analitik ini, kalau kita kaji lebih jauh, merupakan konsekuensi
dari adanya suatu pola berpikir tertentu. Tanpa adanya pola berpikir
tersebut maka tidak akan ada kegiatan analisis, sebab analisis pada
hakekatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan
langkah-langkah tertentu.
Penalaran
tidak terlepas dari imajinasi seseorang yang merupakan kemampuan
untuk merangkaikan rambu-rambu pikiran menurut sebuah pola tertentu.
Dalam penyusunan hipotesis, umpamanya, seorang ilmuwan berdasarkan
data-data yang ada secara imajinatif mampu megembangkan hipotesis
yang baru, berdasarkan vis
imaginativa:
kejeniusan seorang ilmuwan. Kebenaran dalam agama, menurut Randall
dan Buchler, tidaklah merupakan kebenaran yang bersifat harfiah
(literal) atau faktual, melainkan bersifat simbolik atau moral atau
imajinatif.
Seperti
telah kita sebutkan di muka, tidak semua kegiatan berpikir
mandasarkan diri kepada penalaran. Berdasarkan kriteria penalaran
tersebut di atas maka dapat kita katakan bahwa tidak semua kegiatan
bepikir bersifat logis dan analitis. Atau lebih jauh dapat kita
simpulkan: cara berpikir yang tidak termasuk ke dalam penalaran
bersifat tidak logis dan tidak analitik. Dengan demikian maka kita
dapat membedakan secara garis besar ciri-ciri berpikir menurut
penalaran dan berpikir yang bukan berdasarkan penalaran.
“Merasa”
merupakan suatu cara penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan
penalaran. Kegiatan berpikir juga ada yang tidak berdasarkan
penalaran misalnya
intuisi.
Intuisi
merupakan suatu kegiatan berpikir yang non-analitik yang tidak
mendasarkan diri kepada suatu pola berpikir tertentu. Pemikiran
intuitif ini memegang peranan yang penting dalam masyarakat yang
berpikir non-analitik, yang kemudian sering bergaul dengan perasaan.
Jadi secara luas dapat kita katakan bahwa cara berpikir masyarakat
dapat dikategorikan bepada berpikir analitik yang berupa penalaran
dan cara berpikir yang non-analitik yang berupa intuisi dan perasaan.
Di
samping itu masih terdapat bentuk lain dalam usaha manusia untuk
mendapatkan pengetahuan, yakni wahyu.
Ditinjau dari hakekat usahanya, maka dalam rangka menemukan
kebenaran, dapat kita bedakan dua
jenis pengetahuan.
Yang pertama adalah pengetahuan yang didapatkan sebagai hasil usaha
aktif dari manusia untuk menemukan kebenaran, baik melalui penalaran
maupun lewat kegiatan lain seperti perasaan dan intuisi. Di pihak
lain terdapat pengetahuan yang kedua yang bukan merupakan kebenaran
yang didapat sebagai hasil usaha aktif manusia. Dalam hal ini maka
pengetahuan yang didapat itu bukan berupa kesimpulan sebagai produk
dari usaha aktif manusia dalam menemukan kebenaran, melainkan berupa
pengetahuan yang ditawarkan atau diberikan, umpamanya wahyu yang
diberikan tuhan lewat malaikat-malaikat dan nabi-nabinya. Manusia
dalam menemukan kebenaran ini bersifat pasif sebagai penerima
pemberitaan tersebut, yang kemudian dipercaya atau tidak dipercaya,
tergantung pada masing-masing keyakinannya.
Pengetahuan
juga dapat kita tinjau dari sumber yang memberikan pengetahuan
tersebut. Dalam hal wahyu
dan intuisi,
maka secara implisit kita mengakui bahwa wahyu (atau dalam hal ini
Tuhan yang menyampaikan wahyu) dan intuisi adalah sumber pengetahuan
lewat keyakinan (kepercayaan) bahwa yang diwahyukan itu adalah sumber
pengetahuan yang benar, meskipun kegiatan berpikir intuisi tidak
mempunyai logika atau pola berpikir tertentu. Jadi dalam hal ini
bukan saja kita berbicara mengenai pola penemuan kebenaran, melainkan
juga sudah mencakup materi pengetahuan yang berasal dari sumber
kebenaran tertentu.
Dalam
hal penalaran kita belum berbicara mengenai materi dan sumber
pengetahuan tersebut, sebab seperti kita telah katakan, penalaran
hanya merupakan cara berpikir tertentu. Untuk melakukan kegiatan
analisis maka kegiatan penalaran tersebut harus diisi dengan materi
pengetahuan yang berasal dari suatu sumber kebenaran. Pengetahuan
yang dipergunakan dalam
penalaran
pada dasarnya bersumber pada rasio atau fakta. Mereka yang
berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran mengembangkan paham
yang kemudian disebut sebagai rasionalisme.
Sedangkan mereka yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap lewat
pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran mengembangkan paham
empirisme.
Penalaran
yang akan dikaji dalam studi ini pada pokoknya adalah penalaran
ilmiah, sebab usaha kita dalam mengembangkan kekuatan penalaran
merupakan bagian dari usaha untuk meningkatkan mutu ilmu dan
teknologi. Penalaran ilmiah pada hakekatnya merupakan gabungan dari
penalaran deduktif dan induktif, yang lebih lanjut masing-masing
terkait dengan rasionalisme dan dengan empirisme. Oleh sebab itu maka
dalam rangka mengkaji penalaran ilmiah maka kita terlebih dulu harus
menelaah dengan seksama penalaran deduktif dan induktif tersebut.
Setelah itu akan ditelaah bermacam-macam sumber pengetahuan yang ada,
yakni rasio, fakta intuisi, dan wahyu. Pengetahuan mengenai hakekat
hal-hal tersebut memungkinkan kita untuk menelaah hakekat ilmu dengan
seksama.
B.
LOGIKA
Penalaran
merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar
pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran,
maka proses berpikir itu harus dilakukan melalui suatu cara tertentu.
Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses
penarikan kesimpulan itu dilakukan manurut cara tertentu tersebut.
Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika,
yang secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk
berpikir secara sahih”. Terdapat bermacam-macam cara penarikan
kesimpulan, namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan
diri kepada penalaran ilmiah, kita akan melakukan penelaahan yang
seksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni
logika
induktif
dan logika
deduktif.
Logika
induktif
erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus
individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan di
pihak lain, kita mempunyai logika deduktif, yang membantu kita dalam
menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus bersifat
individual.
Induksi
merupakan cara berpikir untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat
umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara
induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan–pernyataan yang
mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun
argumentasi dan diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Katakanlah umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kambing mempunyai
mata, gajah mempunyai mata, demikian juga dengan singa, kucing, dan
berbagai binatang lainnya. Dari kenyataan-kenyataan ini kita dapat
menarik kesimpulan yang bersifat umum, yakni bahwa semua binatang
mempunyai mata. Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya
sebab memberikan dua keuntungan. Keuntungan yang pertama ialah bahwa
pernyataan yang umum ini bersifat ekonomis.
Kehidupan
yang
beraneka ragam dan berbagai corak dan segi dapat direduksikan menjadi
beberapa pernyataan. Pengetahuan yang dikumpulkan manusia bukanlah
merupakan koleksi dari berbagai fakta, melainkan esensi dari
fakta-fakta tersebut. Demikian juga dalam pernyataan mengenai fakta
yang dipaparkan, pengetahuan tidak bermaksud mambuat reproduksi dari
obyek tertentu, melainkan menekankan kepada struktur dasar yang
menyangga ujud fakta tersebut. Pernyataan yang begitu lengkap dan
cermatnya tidak bisa mereproduksikan betapa manisnya semangkuk kopi
atau pahitnya sebutir pil kina. Pengetahuan cukup puas dengan
pernyataan element yang bersifat kategoris bahwa kopi itu manis dan
pil kina itu pahit. Pernyataan seperti ini sudah cukup bagi manusia
untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir
teoritis Keuntungan yang kedua dari pernyataan yang bersifat umum
adalah dimungkinkannya proses penalaran selanjutnya, baik secara
induktif maupun secara deduktif. Secara induktif maka dari berbagai
pernyataan yang bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang
bersifat umum lagi. Umpamanya melanjutkan contoh kita terdahulu, dari
kenyataan bahwa semua binatang mempunyai mata dan semua manusia
mempunyai mata, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua mahluk mempunyai
mata. Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya pengetahuan
secara sistematis, yang mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang
makin lama makin bersifat fundamental.
Penalaran
deduktif adalah kegiatan
berpikir yang sebaliknya dari penalaran induktif.
Deduksi
adalah cara berpikir, yang bertolak dari pernyataan yang bersifat
umum menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan
secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan
silogisme. Silogisme
disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan
yang mendukung silogisme ini disebut premis yang kemudian dapat
dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan
pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua
premis tersebut. Dari contoh kita sebelumnya di muka, kita dapat
membuat silogisme berikut:
Semua
mahluk mempunyai mata (Premis mayor)
Si
Polan adalah seorang mahluk (Premis minor)
Dengan
demikian, si Polan mempunyai mata (Kesimpulan)
Kesimpulan
yang diambil, yakni bahwa si Polan mempunyai mata, adalah syah
menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis
dari dua premis yang mendukungnya. Kalau ditanyakan apakah kesimpulan
itu benar, maka hal ini harus dikembalikan kepada kebenaran premis
yang
mendahuluinya.
Jika kedua premis yang mendukungnya benar, maka dapat dipastikan
bahwa kesimpulan yang ditariknya juga benar. Mungkin saja kesimpulan
itu salah, meskipun kedua premisnya benar, ini akan terjadi kalau
cara penarikan kesimpulan itu salah.
Jadi
kebenaran suatu kesimpulan tergantung dari tiga hal yakni kebenaran
premis mayor, kebenaran premis minor dan kebenaran pengambilan
kesimpulan. Sekiranya salah satu dari ketiga unsur tersebut adalah
salah maka kesimpulannya sudah pasti akan salah. Matematika adalah
pengetahuan yang disusun secara deduktif. Argumentasi matematika
seperti a
sama dengan b
dan bila b
sama dengan c
maka a
sama dengan c
merupakan suatu penalaran deduktif. Kesimpulan yang berupa
pengetahuan baru bahwa a
sama dengan c
pada hakekatnya bukan merupakan pengetahuan baru dalam arti yang
sebenarnya, melainkan sekedar konsekuensi dari dua pengetahuan yang
sudah kita ketahui sebelumnya, yakni bahwa a
sama dengan b
dan b
sama dengan c.
Kebenaran baru yang didapatkan lewat penalaran deduktif ini dinamakan
kebenaran
tautologis.
Baik
logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya,
mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggap
benar. Kenyataan ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan:
bagaimanakah cara kita mendapatkan pengetahuan yang benar tersebut ?
Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk
mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah didasarkan
atas rasio dan yang kedua didasarkan atas pengalaman. Kaum rasionalis
mengembangkan paham yang kita kenal dengan rasionalisme,
sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman
mengembangkan paham yang disebut empirisme.
Kaum
rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun
pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan
dari idea yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Idea
menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sendiri
sudah ada dan bersifat apriori dan dapat diketahui oleh manusia lewat
kemampuan berpikir rasionalnya. Pengalaman tidaklah membuahkan
prinsip dan justru sebaliknya, hanya dengan mengetahui prinsip yang
didapat lewat penalaran rasional itulah maka kita dapat mengerti
kejadian-kejadian yang berlaku dalam alam sekitar kita. Secara
singkat dapat dikatakan bahwa idea bagi kaum rasional adalah bersifat
apriori dan pra-pengalaman, dan didapatkan manusia lewat penalaran
rasional.
Masalah
utama yang timbul dari cara berfikir idea ini adalah mengenai
kriteria untuk mengetahui akan kebenaran suatu idea yang menurut
seseorang adalah jelas dan dapat dipercaya. Idea yang satu bagi si A
mungkin bersifat jelas dan dapat dipercaya, namun belum tentu
demikian bagi si B. Mungkin saja bagi si B untuk menyusun sistem
pengetahuan yang sama sekali lain dengan sistem pengetahun si A
karena si B mempergunakan idea lain yang bagi si B merupakan prinsip
yang jelas dan dapat dipercaya.
Jadi
masalah utama yang dihadapi kaum rasionalis adalah evaluasi dari
kebenaran premis-premis yang dipakainya dalam penalaran deduktif.
Karena premis-premis ini semuanya bersumber pada penalaran rasional
yang bersifat abstrak dan terbebas dari pengalaman, maka evaluasi itu
tak dapat dilakukan. Oleh sebab itu, maka lewat penalaran rasional
akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan mengenai suatu obyek
tertentu tanpa adanya suatu konsensus yang dapat diterima oleh semua
pihak. Dalam hal ini maka pemikiran rasional cenderung untuk bersifat
solipsistik
dan subyektif.
Berlainan
dengan kaum rasionalis maka kaum empiris berpendapat bahwa
pengetahuan manusia itu didapatkan lewat penalaran rasional yang
abstrak, melainkan lewat pengalaman yang konkret. Gejala-gejala alam
menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkret dan dapat
dinyatakan lewat tangkapan pancaindera manusia. Gejala itu kalau kita
telaah lebih lanjut mempunyai beberapa karakteristik tertentu,
umpamanya saja terdapat pola yang teratur mengenai suatu kejadian
tertentu. Suatu benda padat kalau dipanaskan akan memuai. Langit
mendung diikuti dengan turunnya hujan. Demikian seterusnya,
pengamatan kita akan membuahkan pengetahuan mengenai berbagai gejala
yang mengikuti pola-pola tertentu. Di samping itu kita melihat adanya
karakteristik lain, yakni adanya kesamaan dan pengulangan, umpamanya
saja bermacam-macam logam kalau kita panaskan semuanya akan memaui.
Hal ini memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu generalisasi dari
berbagai kasus yang telah terjadi. Dengan mempergunakan metode
induktif maka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum
lewat pengalaman terhadap gejala-gejala yang bersifat individual.
Masalah
utama yang timbul dalam penyusunan secara empiris ini ialah bahwa
pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung untuk menjadi suatu
kumpulan fakta. Kumpulan tersebut belum tentu bersifat konsisten dan
mungkin saja terdapat hal-hal yang kontradiktif. Suatu kumpulan
fakta, atau kaitan antara berbagai fakta, belum menjamin terwujudnya
suatu pengetahuan yang sistematis; kecuali mungkin bagi “seorang
kolektor barang-barang serbaneka”. Lebih jauh Einstein mengingatkan
bahwa tak ada metode induktif yang memungkinkan berkembangnya konsep
dasar suatu ilmu.
Kaum
empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan
gejala yang tertangkap oleh pancaindera, hal ini membawa kita kepada
dua masalah. Pertama, sekiranya kita mengetahui dua fakta yang nyata,
umpamanya rambut keriting dan intelegensi manusia, bagaimana kita
merasa pasti mengenai kaitan antara kedua fakta tersebut? Apakah
rambut keriting dan intelegensi manusia mempunyai kaitan dengan satu
sama lain dalam hubungan kausalitas? Sekiranya kita mengatakan
“tidak”, bagaimana sekiranya penalaran induktif membuktikan
sebaliknya?
Pertanyaan
tersebut mengingatkan kita bahwa hubungan antara berbagai fakta
tidaklah sedemikian nyata sebagaimana yang kita sangka. Harus
terdapat suatu kerangka pemikiran yang memberi latar belakang mengapa
X mempunyai hubungan dengan Y, sebab kalau tidak, maka konsekuensinya
ialah bahwa semua fakta dalam dunia fisik bisa saja dihubungkan
secara kausal.
Masalah
yang kedua adalah mengenai hakekat pengalaman yang merupakan cara
dalam menemukan pengetahuan dan pancaindera sebagai alat yang
menangkapnya. Pertanyaannya adalah, apakah yang sebenarnya dinamakan
pengalaman? Apakah hal ini merupakan stimulus pancaindera? Ataukah
persepsi? Atau sains? Sekiranya kita mendasarkan diri kepada
pancaindera sebagai alat dalam menangkap gejala fisik yang nyata,
maka seberapa jauh kita dapat mengandalkan pancaindera tersebut.
Ternyata
kaum empiris tidak bisa memberikan jawaban yang menyakinkan mengenai
hakekat pengalaman itu sendiri. Sedangkan mengenai kekurangan
pancaindera manusia, ini bukan merupakan sesuatu yang baru bagi kita.
pancaindera manusia bisa melakukan kesalahan. Contoh yang biasa kita
lihat sehari-hari ialah bagaimana tongkat lurus yang sebagian
terendam di dalam air akan kelihatan menjadi bengkok. Haruskah kita
mempercayai hal semacam ini sebagai dasar untuk menyusun
pengetahuan?.
Di
dalam rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara lain untuk
mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk kita ketahui
adalah intuisi
dan wahyu.
Sampai sejauh ini, pengetahuan yang didapatkan secara rasional maupun
secara empiris, kedua-duanya merupakan produk dari sebuah rangkaian
penalaran. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa
melalui proses penalaran tersebut. Seseorang yang sedang terpusat
pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas
permasalahannya tersebut. Tanpa melalui proses yang berliku-liku
tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Jawaban atas permasalahan
yang sedang dipikirkannya muncul di benaknya bagaikan kebenaran yang
membukakan pintu. Atau, bisa juga intuisi ini bekerja dalam keadaan
yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permasalahan
ditemukan tidak pada waktu orang tersebut secara sadar atas suatu
permasalahan ditemukan tidak pada waktu orang tersebut secara sadar
sedang merenungkannya. Suatu masalah yang sedang kita pikirkan, yang
kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu, tiba-tiba saja muncul
di benak kita, lengkap dengan jawabannya. Kita merasa yakin bahwa
memang itulah jawaban yang kita cari, namun kita tidak bisa
menjelaskan bagaimaan cara kita sampai ke sana.
Kegiatan
intuitif ini sangat bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.
Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur, intuisi ini
tidak bisa diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan
sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar
tidaknya pernyataan yang
dikemukakannya.
Kegiatan intuitif dan analitik bisa bekerja saling membantu dalam
menemukan kebenaran. Bagi Maslow
intuisi ini merupakan pengalaman puncak (peak
experience)
sedangkan bagi Nietschze
merupakan intelegensi yang paling tinggi.
Wahyu
merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia.
Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi yang diutus-Nya sepanjang
zaman. Agama mengandung pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan
sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup
masalah-masalah yang bersifat transendental, seperti latar belakang
penciptaan manusia dan hari kemudian di akhir nanti.
Pengetahun
ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang gaib
(supernatural).
Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan,
kepercayaan kepada nabi sebagai perantara dan kepercayaan terhadap
wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari penyusunan
pengetahuan ini. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama. Suatu
pernyataan harus dipercaya dulu atau dapat diterima. Pernyataan ini
bisa saja selanjutnya dikaji dengan metode yang lain. Secara rasional
bisa dikaji umpamanya apakah pernyataan-pernyataan yang terkandung di
dalamnya bersifat konsisten atau tidak. Di pihak lain, secara
rasional bisa dikaji umpamanya dikaji penyataan-pernyataan yang
terkandung di dalamnya bersifat konsisten atau tidak. Di pihak lain,
secara empiris bisa dikumpulkan fakta-fakta yang mendukung pernyataan
tersebut atau tidak. Singkatnya, agama dimulai dengan rasa percaya,
dan lewat pengkajian selanjutnya kepercayaan itu bisa meningkat atau
menurun. Pengetahuan lain, seperti ilmu umpamanya, bertitik tolak
sebaliknya. Ilmu dimulai dengan rasa tidak percaya, dan setelah
melalui proses pengkajian ilmiah, kita bisa diyakinkan bahwa
ketidakpercayaan kita itu tak ditopang kenyataan, atau bisa pula kita
tetap pada pendirian semula.
C.
KRITERIA KEBENARAN
Seorang
anak kecil yang baru masuk Sekolah Dasar setelah tiga hari belajar
mogok, tidak mau bersekolah. Orang tuanya membujuk dia dengan segala
macam daya, namun semuanya tetap sia-sia; dia tetap bersitegang tidak
mau sekolah. Setelah didesak-desak akhirnya dia berterus terang,
“buat apa saya bersekolah kalau ibu guruku seorang pembohong”
“Coba
ceritakan bagaimana dia berbohong” pinta orang tuanya sambil
senyum.
“Tiga
hari yang lalu dia berkata 5+2=7. Kemarin dia berkata 6+1=7.
Bukankah
semua ini tidak benar?
Permasalahan
yang sederhana ini membawa kita kepada apa yang disebut teori
kebenaran. Apakah persyaratannya agar suatu jalan pikiran
menghasilkan kesimpulan yang benar? Tidak semua manusia mempunyai
persyaratan yang sama terhadap apa yang dinggap benar, termasuk anak
kecil kita tadi, yang dengan pikiran kanak-kanaknya mempunyai
kriteria kebenaran tersendiri. Bagi kita tidak sukar untuk menerima
kebenaran bahwa 3+4=7, 5+2=7 dan 6+1= 7, sebab secara deduktif dapat
dibuktikan bahwa ketiga pernyataan tersebut adalah benar.
Mengapa
hal ini kita sebut benar? Sebab pernyataan dan kesimpulan yang
dirtariknya adalah konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan
terdahulu yang telah dianggap benar.
Teori
yang didasarkan kepada kriteria tersebut di atas disebut teori
koherensi.
Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori koheren
suatu pernyataan dianggap
benar
bila pernyataan
itu koheren
atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap
benar. Bila kita menganggap bahwa “Semua manusia pasti akan mati”
adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “ si
Polan adalah seorang manusia” dan “si Polan pasti akan mati”
adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan
pernyataan yang pertama.
Matematika
adalah bentuk pengetahun yang penyusunannya dilakukan berdasarkan
pembuktian berdasarkan teori koheren. Sistem matematika disusun di
atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar, yakni aksioma.
Dengan mempergunakan beberapa aksioma maka disusun suatu teorema. Di
atas teorema dikembangkan kaidah-kaidah matematika yang secara
keseluruhan merupakan sistem yang konsisten. Plato
(427-347 S..M.) dan Aristoteles
(384-322 S.M.) mengembangkan teori koheren berdasarkan pola pemikiran
yang dipergunakan Euclid
dalam
menyusun ilmu ukurnya.
Teori
lain adalah kebenaran yang berdasarkan kepada kriteria koresponden
di mana eksponen utamanya adalah Bertrand Russel (1872-1970). Bagi
penganut paham koresponden suatu pernyataan
adalah benar
jika materi pengetahuan yang dikandung oleh pernyataan tersebut
berkoresponden dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Maksudnya, jika seseorang mengatakan bahwa “Ibu Kota Republik
Indonesia adalah Jakarta” maka pernyataan itu adalah benar, sebab
pernyataan itu berkresponden dengan obyek
yang
bersifat faktual, yakni Jakarta yang memang menjadi ibu kota Republik
Indonesia. Sekiranya ada orang lain yang menyatakan bahwa “Ibu Kota
Republik Indonesia adalah Bandung” maka pernyataan itu adalah tidak
benar sebab tidak terdapat obyek yang berkoresponden dengan
pernyataan tersebut. Dalam hal ini maka secara faktual “ibu kota
Republik Indonesia adalah bukan Bandung, melainkan Jakarta”.
Teori-teori
kebenaran ini, yakni teori koheren dan teori koresponden,
kedua-duanya dipergunakan dalam cara berpikir ilmiah. Penalaran
teoretis yang berdasarkan logika deduktif jelas mempergunakan teori
koheren ini. Sedangkan proses pembuktian secara empiris dalam bentuk
pengumpulan fakta-fakta yang mendukung suatu pernyataan mempergunakan
teori koresponden. Pemikiran ilmiah juga mempergunakan teori
kebenaran yang lain, yang disebut teori kebenaran pragmatis.
Teori
pragmatsi
dicetuskan
oleh Charles
S. Pierce
(1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1978 yang
berjudul “How to Make Our Ideas Clear”. Teori ini kemudian
dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan
berkebangsaan Amerika, yang menyebabkan filsafat ini sering diakitkan
dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filsafat ini di antaranya adalah
William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Herbert
Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis (1883- ......).
Bagi
seorang pragmatis maka kebenaran suatu pernyataan diukur dengan
kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam
kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika
pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai
kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Sekiranya ada oarng yang
menyatakan sebuah teori X dalam pendidikan, dan dengan teori X
tersebut dikembangkan teknik Y dalam meningkatkan kemampuan belajar,
dan ternyata secara ilmiah dibuktikan bahwa teknik Y tersebut memang
dapat maningkatkan kemampuan belajar, maka teori X itu dianggap
benar, sebab teori ini adalah fungsional dan mempunyai kegunaan.
Pragmatisme bukanlah suatu aliran filsafat yang mempunyai
doktrin-doktrin kefilsafatan, melainkan teori dalam penentuan
kriteria kebenaran sebagaimana disebutkan di atas. Kaum pragmatis
berpaling kepada metode ilmiah sebagai metode untuk mencari
pengetahuan tentang alam ini, sebab metode ini dianggapnya fungsional
dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala alam. Kriteria
pragmatisme ini juga dipergunakan oleh ilmuwan dalam menentukan
kebenaran ilmiah dilihat dalam perspektif waktu. Secara historis maka
pernyataan ilmiah yang sekarang diangap benar suatu waktu mungkin
tidak lagi demikian. Dihadapkan dengan masalah ini maka ilmuwan
bersifat pragmatis: selama pernyataan ini fungsional dan mempunyai
kegunaan, maka pernyataan itu dianggap benar; sekiranya pernyataan
itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan ilmu itu
sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu
ditinggalkan.
“Kita
tidak menyalahkan pendahulu-pendahulu kita”,
ujar Santayana, “kita
hanya mengucapkan selamat tinggal”.
4.
ONTOLOGI ILMU
Fariduddin
Attar bangunlah pada malam hari
Dan
dia memikirkan tentang dunia ini
Ternyata
dunia ini
Adalah
sebuah peti mati
Sebuah
peti yang besar dan tertutup di atasnya
Dan
kita mensuia berputar-putar di dalamnya
Dunia
sebuah peti yang besar
Dan
tertutup di atasnya
Dan
kita berkurung di dalamnya
Dan
kita berjalan-jalan di atasnya
Dan
kita bernaung di dalamnya
Dan
kita beranak di dalamnya
Dan
kita membuat peti di dalamnya
Dan
kita membuat peti
Di
dalam peti ini ..........…
Demikianlah
manusia, terutama para pemikirnya seperti Fariduddin Attar dalam
sajak Taufik Ismail ini, tak henti-hentinya terpesona menatap dunia:
menjangkau jauh-jauh ke dalamnya: apakah hakekat kenyataan ini
sebenarnya-benarnya. Bidang telaah filsafat ini disebut Metafisika,
merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati, termasuk
berpikir ilmiah. Diibaratkan pikiran adalah roket yang meluncur ke
bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka Metafisika
adalah landasan peluncurannya. Dunia, yang sepintas lalu kelihatan
sangat nyata ini, ternyata menimbulkan berbagai spekulasi filsafati
tenang hakekatnya.
A.
BEBERAPA TAFSIRAN METAFISIKA
Tafsiran
yang paling pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini
adalah bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat gaib (supernatural)
dan ujud-ujud ini bersifat labih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan
dengan alam yang nyata. Animisme
merupakan kepercayaan yang bertumpu dengan alam yang nyata.
Animisme merupakan kepercayaan yang bertumpu pada pemikiran yang
berdasarkan supernaturalisme ini: dalam animisme manusia percaya
bahwa terdapat ruh-ruh yang bersifat gaib dalam benda-benda seperti
batu, pohon dan air terjun. Animisme
ini merupakan kepercayaan yang paling tua umurnya dalam sejarah
perkembangan kebudayaan manusia, dan masih dipeluk oleh beberapa
masyarakat di muka bumi ini.
Sebagai
lawan dari supernaturalisme
maka terdapat paham naturalisme
yang menolak pendapat bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat
supernatural
ini. Materialisme,
yang merupakan paham berdasarkan naturalisme ini, berpendapat bahwa
gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang
bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu
sendiri, yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat kita
ketahui.
Prinsip-prinsip
materialisme
ini dikembangkan oleh Democritos
(460-370 S.M.). Dia mengembangkan teori tentang atom yang
dipelajarinya dari gurunya Loucippus.
Bagi Democritos,
unsur dasar dari alam ini adalah atom.
Hanya
berdasarkan kebiasaan saja manis itu manis, panas itu panas, dingin
itu dingin, warna itu warna. Dalam kenyataannya hanya terdapat atom
dan kehampaan. Artinya, obyek dari penginderaan sering kita anggap
nyata, padahal tidak demikian. Hanya atom dan kehampaan itulah yang
bersifat nyata.
Atau
dengan perkataan lain: manis, panas, atau warna, adalah terminologi
yang kita berikan kepada gejala yang kita tangkap lewat pancaindera.
Rangsangan pancaindera ini disalurkan ke otak kita dan menghadirkan
gejala tersebut.
Dengan
demikian maka gejala alam dapat didekati dari segi proses
kimia-fisika. Hal ini tidak terlalu menimbulkan permasalahan selama
diterapkan kepada zat-zat yang mati seperti batuan atau karat besi.
Namun bagimana dengan mahluk hidup, termasuk manusia sendiri? Di sini
kaum yang menganut paham mekanistik ditentang oleh kaum vitalistik.
Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk mahluk hidup) hanya
sebagai gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik
hidup adalah sesatu yang unik yang berbeda secara substantif dengan
proses tersebut di atas. Lalu apakah pikiran dan kesadaran itu
sendiri?.
Secara
fisiologis otak manusia terdiri dari 10 sampai 15 biliu neuron.
Neuron adalah sel saraf yang merupakan dasar dari keseluruhan sistem
saraf. Cara bekerja otak ini merupakan obyek telaah berbagai disiplin
keilmuan seperti fisiologi, psikologi, kimia, matematika, fisika
teknik dan neuro-fisiologi. Sudah merupakan kenyataan yang tidak usah
lagi diperdebatkan bahwa proses berpikir manusia menghasilkan
pengetahuan tentang zat (obyek) yang ditelaahnya. Namun, apakah
sebenarnya hakekat pikiran tersebut, apakah dia berbeda dengan zat
yang ditelaahnya, ataukah hanya bentuk lain dari zat tersebut?.
Dalam
hal ini maka aliran monistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan
antara pikiran dan zat: mereka hanya berbeda dalam gejala karena
proses yang berlainan, namun sebenarnya mempunyai substansi yang
sama. Ibarat zat dan energi, dalam teori relativitas Einstein, energi
hanya merupakan bentuk lain dari zat. Dalam hal ini maka proses
berpikir dianggap sebagai aktivitas elektrokimia dari otak. Jadi yang
membedakan robot dan manusia bagi kaum yang menganut paham monistik
hanya terletak pada komponen dan struktur yang membangunnya dan sama
sekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakekatnya tidak
berbeda secara nyata. Kalau komponen dan struktur robot sudah dapat
menyamai manusia, maka robot itu pun bisa menjadi manusia, seperti
pekik Radius sesosok robot yang jangkung dan bersemangat dalam
sandiwara terkenal karangan Karel Capek yang berjudul R.U.R,
(Rossum‟s Universal Robots): “Robot-robot dari seluruh dunia,
36kekuasaan manusia telah jatuh. Kekuasaan baru telah tumbuh,
pemerintahan robot-robot, gerak!”
Pendapat
ini ditolak oleh kaum yang menganut paham dualistik. Terminologi
dualisme ini mula-mula dipakai oleh Thomas Hyda (1700) sedangkan
monisme oleh Christain Wolff (1679-1754). Dalam metafisika penafsiran
dualistik membedakan zat dari kesadaran (pikiran). Bagi mereka yang
menganut dualisme keduanya berbeda “sui generis” secara
substantif. Ahli filsafat yang menganut paham dualistik ini di
antaranya adalah Rane Descartes (1596-1650), John Locke (1632-1714)
dan George Berkeley (1685-1753).
Ketiga
ahli filsafat ini berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran,
termasuk penginderaan segenap pengalaman manusia, adalah bersifat
mental. Bagi Descartes maka yang bersifat nyata adalah pikiran, sebab
dengan berpikirlah maka sesuatu itu lantas ada: Cogito ergo sum :
(Saya berpikir, maka saya ada!) Descartes mulai menyusun filsafatnya
secara deduktif berdasarkan pernyataan yang baginya merupakan
kebenaran yang tidak diragukan lagi. Sebuah anekdot menceritakan
bahwa setelah mengikuti; filsafat Descartes, seorang mahasiswa datang
kepada profesor yang mengajarkan filsafat itu: “Saya masih merasa
ragu terhadap pernyataan Descartes itu Prof, bahwa pikiran adalah
satu-satunya kenyataan yang tidak dapat diragukan. “Profesor itu
tersenyum dan menatap dalam-dalam”, “Siapa yang masih merasa ragu
tersebut, kawan yang terpelajar?”.
Locke
sendiri menganggap bahwa pikiran manusia pada mulanya dapat
diibaratkan sebuah lempeng lilin yang licin (tabula rasa). Pengalaman
indera kemudian melekat pada lempeng tersebut. Makin lama makin
banyak pengalaman indera yang terkumpul, dan kombinasi dari
pengalaman-pengalaman indera ini seterusnya membuahkan idea yang kian
rumit. Dengan demikian pikiran dapat diibaratkan sebagai organ
menangkap dan menyimpan pengalaman indera.
Berkeley
terkenal dengan pernyataannya: “To be is to be perceived”! (Ada
adalah disebabkan persepsi!) Di tembok sebuah Universitas tertulis
grafiti mengenai hakekat keberadaan tersebut sebagai berikut.
To
be is to be perceived (BERKELEY)
To
be or not to be (HAMLET)
To
be do be do (dam! dam) (ARIE KUSMIRAN)
(Siapa
bilang filsafat, sastra dan lagu tak bisa berdampingan? Bagi Berkeley
maka buah apel itu hanya ada dalam pikiran seseorang. “Jadi kalau
tak ada yang memikirkan buah apel maka apel itu takkan ada?“ tanya
seorang”. “Tetap
saja ada” bersikeras Bishop Berkeley,” apel itu ada dalam pikiran
Tuhan”. (salah satu jawaban yang paling orsinil dalam masalah
tentang metafisika, Geleng Kemey, namun sulitnya bagaimana kita
mengetahui pikiran tuhan itu sebenarnya).
Kelihatannya
makin masuk kita ke dalam” labyrinth” ini makin berputar-putar
kita di dalamnya”. Lalu apa kaitannya dalam ilmu yang saya
pelajari? “tanya seorang muda, yang semula melihat filsafat ilmu
sebagai sebuah subyek yang mungkin dapat menarik minatnya, dan
ternyata setelah mendengar spekulasi metafisik, perhatiannya dirasa
surut kembali. “Begini”, menjawab saya semungkin bisa, (di
sebelah kanan saya adalah profesor-profesor metafisik; di sebelah
kiri saya adalah kanak-kanak yang serba ingin tahu dan belum kenal
dusta), ”pada hakekatnya ilmu tidak bisa dilepaskan dari metafisik,
namun seberapa jauh kaitan itu semuanya tergantung pada kita”.
Ilmu
merupakan pengetahuan yang mencoba menafsirkan alam ini sebagaimana
adanya. Kalau memang itu tujuannya maka kita tidak bisa melepaskan
diri dari masalah-masalah yang ada di dalamnya, bukan? Makin jauh
kita bertualang dalam penjelajahan keilmuan, masalah-masalah tersebut
di atas mau tidak mau akan timbul: Apakah dalam batu-batuan yang saya
pelajari di laboratorium terpendam proses kimia-fisika atau
bersembunyi roh yang halus? Apakah manusia yang begitu hidup:
tertawa, manangis dan jatuh cinta; semua itu proses kimia-fisika
juga? Apakah pengetahuan yang saya dapatkan ini bersumber pada
kesadaran mental, ataukah hanya rangsang penginderaan belaka?.
Semua
permasalahan ini telah menjadi bahan kajian dari ahli-ahli filsafat
sejak dulu kala. Tersedia segudang filsafat dalam menjawabnya. Kita
bisa setuju dengan mereka dan kita pun bisa tidak setuju dengan
mereka. Bahkan, kita pun boleh mengajukan jawaban filsafat kita. Jadi
pada dasarnya setiap ilmuwan boleh mempunyai filsafat individual yang
berbeda-beda: dia bisa menganut paham mekanistik, dia bisa menganut
paham vitalistik; dia boleh setuju dengan Thomas Hobbes yang
materialistik atau George Berkeley yang idealistik.
Titik
pertemuan kaum ilmuwan dalam semuanya ini adalah sifat pragmatis dari
ilmu. Sekiranya terdapat dua orang dokter yang sedang mengukur
tekanan darah seseorang dan mengkaitkannya dengan kadar cholesterol
di dalamnya, maka bahwa yang seorang termasuk dalam kubu mekanistik
serta yang seorang lagi anggota kubu vitalistik, dalam proses
pengkajian itu kiranya tidak relevan lagi. Baru setelah kedua dokter
ini selesai bekerja dan menggantungkan jubah putihnya, mereka
berpisah, memilih koridor spiritualnya yang berbeda.
“Betul
luhurnya manusia, “bisik dokter yang satu. (Pasiennya yang tadi
adalah seorang tua yang sudah umur, menderita tekanan darah tinggi
dan sudah renta, namun terpaksa membanting tulang untuk menghidupi
keluarganya.
“Betapa
kroposnya tubuh bila telah tua”, bisik dokter yang lainnya.
(Dalam
buku kecilnya tercatat: umur 60, tekanan darah 90/180, kadar
cholesterol 350, kencing manis, etsotera, etsotera).
From
whom the boll toll, Hemingway?
B.
TENTANG ASUMSI
Suatu
hari pada zaman Wild West, seorang jago tembak ditantang oleh seorang
petani yang mabuk. Petani ini adalah seorang biasa, jadi sama sekali
bukan jago tembak seperti jago yang bisa tembak sana tembak sini
sambil tutup mata (setelah itu minum wiski dan makan pasta). Cuma
karena mabuk saja dia
jadi
jagoan, otaknya berjalan tidak sebagaimana biasa. Dia lalu menantang
jago tembak yang sudah punya reputasi seantero dunia (dunia wild
west, tentu saja).
Masalah
yang kita hadapi adalah memikirkan, apakah yang akan terjadi: akan
mati konyolkah petani mabuk itu di tangan si jago tembak ? Ataukah
mungkin terjadi mukzizat, dan jago tembak kita pun lalu terkapar,
jatuh di tangan yang non-profesional?
Untuk
meramalkan apa yang terjadi marilah kita melihat masalah ini dari
beberapa segi, jago tembak kita mempunyai reputasi yang baik sekali.
Seperti seorang petinju kelas berat yang reputasinya 30-0-0-30 (30):
artinya pernah bertanding sebanyak 30 kali, kalah 0 kali, menang 30
kali (dengan KO sebanyak 3930 kali): perfecot score: maka dia
mempunyai data 30-0-30 (30) juga artinya pernah duel 30 kali, kena
tembak 0 kali, sama-sama kena tembak 0 kali, menang 30 kali (semuanya
mati). Sedangkan si petani buku rapor HBTA-nya masih kosong, sama
sekali belum pernah melihat dunia perduelan.
“Apa
yang tidak beres itu?” seorang berteriak (ini mungkin benar bandar
taruhan) “Ya”, jawab teoretikus filsafat ilmu, katakan sajalah
umpamanya pistol si jago tembak itu punya pilihan sendiri (free
will). Dia tidak mau menembak petani yang bukan profesional; jadi
dengan sengaja dia menembak ngawur”.
“Ah,
itu nonsens”, itu sangat akademik dan spekulatif”. “Kalau
pistol ditembakkan dan lurus pada sasaran maka secara deterministik
sasarannya akan kena” (rupanya dia sangat terpelajar juga).
Nah,
inilah tiga persoalan yang menjadi gumulan para filsuf ilmu, yakni
tentang determinisme, free will dan probilitas. Atau dengan lain
perkataan, apakah hukum mengatur kejadian dalam alam ini bersifat
deterministik, probabilistik atau ditentukan oleh pilihan bebas?
“nanti dulu”, kata teoretikis filsafat ilmu, “masalah itu
didasarkan atas asumsi bahwa hukum semacam itu ada. Sekiranya hukum
yang mengatur kejadian alam ini tidak ada, maka masalah determinisme,
probabilitas dan pilihan bebas itu sama sekali tidak akan muncul,
bukan?”.
Benar
juga, dengan asumsi bahwa hukum alam itu tidak ada, maka tidak ada
masalah tentang determinisme, probabilitas dan pilihan bebas. Dengan
demikian tak ada masalah tentang hubungan panas dan logam, tekanan
dan volume, IQ dan keberhasilan belajar. Alhasil, ilmu itu sendiri
pun lalu tidak ada, sebab ilmu justru mempelajari hukum alam seperti
ini.
“Jadi
marilah kita asumsikan saja bahwa hukum yang mengatur berbagai
kejadian alam itu ada, sebab tanpa asumsi ini maka pembicaraan kita
semuanya sia-sia,” kata teoretikus ilmu kita sambil tersenyum.
Hukum di sini saya artikan sebagai suatu aturan main atau suatu pola
kejadian. Aturan main ini tampak diikuti oleh sebagain besar peserta;
berulang kali saya lihat dalam kejadian yang sama; jadi saya
simpulkan hal ini berlaku umum tanpa mengenal waktu dan tempat.
Hukum
di sini jangan ditafsirkan dalam kacamata moral: jika hari sangat
mendung namun hujan tidak turun, ini melanggar hukum; lantas imoral.
Bukan
imi maksudnya. “Sayang sekali kata hukum ini pernah diperkenalkan
kepada Filsafat ilmu,” kata Kemeny, “penggunaan kata hukum
membawa konotasi bahwa hukum ini bisa tidak ditaati”. Bukan
diartikan sebagai suatu pola kejadian yang sebagaimana adanya. Jika
mangga telah masak lalu jatuh, ya itu memang demikian adanya. jika
mangga itu jatuh menimpa genting tetangga, itu bukan lagi masalah
ilmu. Melainkan masalah moral. Demikian juga dengan masalah
determinisme, pilihan bebas atau probabilistik. Ilmu tidak melihat
kejadian alam lewat kacamata pendangan hidup seorang ilmuwan. Apakah
dia penganut paham determinisme yang menyatakan bahwa seluruh
kejadian dalam alam ini sepenuhnya tunduk kepada hukum yang berlaku.
Paham ini dikembangkan oleh William Hamilton (1786-1856) dari doktrin
Thomas Hobbes (1588-1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan menurut
sumbernya bersifat empiris, dengan zat dan gerak merupakan
karakteristik yang bersifat universal, paham diterminisme ini
merupakan antitesis dari paham fatalisme yang menafsirkan kejadian
berdasarkan nasib yang sudah ditentukan lebih dulu. Demikian juga
ilmu tidak melihat kejadian alam dari pandangan
ilmuwan
yang menganut paham pilihan bebas di mana manusia, berlawanan dengan
paham determinisme, mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya
yang tidak tertarik kepada hukum alam yang tidak memberikan dirinya
alternatif-alternatif. Ilmu hanya ingin mengetahui kejadian
sebagaimana adanya; apakah yang sebenarnya terjadi di sana?.
Untuk
itu marilah kita berhenti sejenak dan bertanya kapada diri sendiri
mengenai siapakah sebenarnya yang ingin dipelajari ilmu. Dalam
ilmu-ilmu sosial, umpamanya, apakah kita ingin mempelajari hukum
kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia yang terkena kejadian itu,
ataukah hanya sebagian besar dari mereka, atau mungkin juga kita
mempelajari hukum kejadian yang bersifat khas bagi tiap individu.
Konsekuensi dari pilihan ini adalah jelas, sebab jika kita memilih
hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh (100 persen) populasi yang
terlihat maka kita bertolak dari determinisme, dan jika kita
mempelajari hukum yang khas tiap individu maka kita dapat memulainya
dari penafsiran tentang pilihan bebas, sedangkan jika kita cukup puas
dengan hukum kejadian yang menyangkut sebagian besar dari populasinya
maka kita dapat mempergunakan pengertian tentang probabilistik.
Sebelum
kita memilih kita juga berhenti sejenak dan berfilsafat: Sekiranya
ilmu ingin menghasilkan hukum yang kebenarannya bersifat mutlak maka
apakah tujuan ini cukup realistik untuk dicapai ilmu?
Mungkin
kalau ini yang dituju, ilmu hanya merupakan beberapa gelintir
pernyataan yang bersifat universal saja seperti: Semua manusia
akhirnya akan mati (Semua manusia berkaki dua, umpamanya, tidak
berlaku sebab ada juga mereka yang berkaki satu mungkin juga tiga
atau empat) : apakah ini yang dikehendaki ilmu? Saya tidak, bukan?
Kita telah mempunyai agama yang membahas hal-hal yang paling asasi
dan berlaku mutlak seperti hal-hal tersebut di atas.
Demikian
juga apakah ilmu akan mempelajari hukum-hukum yang khas bagi tiap
individu? Tentu saja tidak praktis dan ekonomis, bahkan kegunaannya
pun tidak ada, kecuali bagi orang tertentu yang dimaksud. Kaum
eksistensialis umpamanya pada dasarnya memegang paham individual ini.
Mereka bilang bahwa adalah tidak pada tempatnya manusia individual
(mikro) harus tunduk kepada hukum-hukum yang besifat kelompok
(makro). Yah, boleh saja, bukan? Filsafat memang sejak dulu menganut
kebebasan mimbar; namun dilihat dari kacamata kegunaan ilmu kiranya
pendapat ini tidaklah relevan. (Kaum eksistensialis lalu memang
sangat maju dalam bidang seni).”Tentu saja”, katamu, “sebab
seni lebih berorientasi kepada tafsiran individual”. (“Bravo”
jawab saya sambil mengacungkan jempol).
Lalu
tinggal pilihan ketiga yang ada, yang menurut akal sehat, akan mampu
dijangkau ilmu dan mempunyai manfaat yang banyak. Pilihan ini
menyatakan bahwa ilmu ingin mempelajari hukum yang menyangkut
sebagian besar dari populasi yang terlibat. Dengan demikian maka
konsekuensinya kita memilih penafsiran probabilistik. Sebenarnya
dengan berpikir secara probabilistik ini kita sudah memasukkan
penafsiran determinisme dan pilihan bebas sampai batas-batas
tertentu. Kita menerima paham determinisme yang menyatakan bahwa ada
hukum yang mengatur kejadian di muka bumi kita ini, namun dalam hal
ini kita membatasi diri tidak pada seluruh populasi secara mutlak,
melainkan hanya pada sebahagian saja. Pembatasan ini secara implisit
didasarkan pada anggapan bahwa mungkin saja sekelompok hasil individu
melakukan penyimpangan dari pola umum yang berlaku berdasarkan motif
pilihan bebas. Dengan demikian maka penafsiran probabilistik
sebenarnya dapat dipandang sebagai suatu kompromi antara paham
deterministik dan pilihan bebas.
C.
TENTANG PENAFSIRAN PROBABILITAS
“Jadi
berdasarkan teori-teori keilmuan saya tidak akan pernah mendapatkan
hal yang pasti mengenai suatu kejadian?”, tanya seorang awam kepada
ilmuwan. Ilmuwan itu menggelengkan kepalanya. “Tidak”, jawab
ilmuwan itu sambil tersenyum apologetik, “hanya kesimpulan yang
probabilistik”.
“Jadi
berdasarkan meteorologi dan geofisika saya tidak pernah merasa pasti
bahwa esok hari akan hujan atau hari tidak akan hujan?”, sambung
orang awam kita, kian penasaran. “Tidak”, jawab ilmuwan kita‟
tetap tersenyum sebab dia termasuk kepada golongan “orang yang tahu
ditidaktahunya dan tahu ditidaktahunya”, jadi tidak pernah “groÏgy”
bila diserang: hanya bisa mengatakan, umpamanya, bahwa dengan
probabilitas 0,8 esok akan turun hujan.
“Apa
artinya pelung 0,8 ini? Pinta orang awam.
Peluang
0,8 secara sederhana dapat diartikan bahwa probabilitas untuk turun
hujan esok adalah 8 dari 10 (yang merupakan kepastian). Atau kiranya
saya merasa pasti (100 persen) bahwa esok akan turun hujan maka saya
akan memberikan peluang sebesar 1,0 atau dengan perkataan lain yang
lebih sederhana, peluang 0,8 mencirikan bahwa pada 10 kali ramalan
tentang akan jatuh hujan, 8 kali memang hujan itu turun, dan 2 kali
ramalan itu meleset.
“Jadi,
biarpun kita mempunyai peluang 0,8 bahwa hari akan hujan, namun masih
terbuka kemungkinan bahwa hari tidak akan hujan?”
“Benar
demikian”, sahut ilmuwan.
“Lalu
apa kegunaan pengetahuan semacam itu?” satu orang awam kita sambil
memukulkan tinju.
Pertama
harus saudara sadari bahwa ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah
berprotensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak.
(Dalam soal protensi ini maka ilmu kalah jauh dengan pengetahuan
perdukunan. “Saudara
pasti sembuh”, ujar dukun”, minum saja air ini”. Jelas dia
tidak pernah mengatakan: ”Minum air ini dan dengan probabilitas 0,8
maka saudara akan sembuh”). Ilmu memberikan pengetahuan sebagai
dasar bagi saudara untuk mengambil keputusan. Dengan demikian
keputusan saudara harus didasarkan kepada penafsiran kesimpulan
ilmiah yang bersifat relatif. Dengan demikian kata akhir dari suatu
keputusan terletak di tangan saudara dan bukan pada teori-teori
keilmuan. (Itulah mungkin sebabnya orang yang tidak pernah mau
megambil keputusan sendiri lebih senang pergi ke dukun. Berkonsultasi
pada ahli psikologi atau psikiater paling-paling diberi
alternatif-alternatif yang dapat diambil, sedangkan dukun dengan
pasti akan berkata: “Pilih jalan ini, saya jamin, pasti berhasil”).
Oleh
sebab itu sekiranya kita mempunyai pengetahuan ilmiah yang menyatakan
bahwa “sekiranya hari mendung maka terdapat pelung 0,8 akan turun
hujan”, maka pengetahuan itu harus kita letakkan pada permasalahan
hidup kita yang mempunyai perspektif dan bobot berbeda-beda.
Katakanlah umpamanya saudara besok akan piknik, kemudian saudara
mengetahui bahwa esok punyai peluang 0,9 bahwa hari tidak akan hujan,
akankah saudara urungkan piknik saudara?.
“Tidak”,
jawab orang awam itu dengan pasti, “tidak akan saya urungkan hanya
karena takut hujan”.
“Mengapa?”
tanya ilmuwan kita, “bukankah masih terdapat peluang 0,1 bahwa hari
akan hujan?”.
Orang
awam itu mengangkat bahu. “Mungkin”, sambungnya sambil tersenyum
(dia sudah mulai tersenyum, kelihatannya dia sudah mulai melihat
perspektif ilmu), “bagi saya cukup tersedia jaminan (dengan peluang
0,9) bahwa kemungkinan besar esok tidak turun hujan”.
“Baik”,
sambung ilmuwan kita, “itu pilihan saudara sendiri, yang tidak akan
ikut campur”. Sekarang bagaimana sekiranya saudara pedagang garam.
Beranikah saudara mengangkut garam saudara dengan peluang 0,9 hari
tidak akan hujan dari Tanjung Priok ke (pusat pergudangan) Cakung?
“Gimana,
ya”, orang itu menggaruk-garuk kepalanya”, mau tidak diangkut
dari Tanjung Priok kena denda, mau diangkut ke Cakung, biarpun
peluangnya 0,9 tidak akan terus hujan, bisa saja (persetan ini iblis
yang bernama “Chance”!) turun hujan. Berani nih! Nanti deh akan
saya perhitungkan untung ruginya sekiranya saya mengangkut garam itu
ditutupi dengan terpal. Maunya sih ditutupi dengan terpal, bukan,?
Semuanya lalu café. Tapi apakah ongkos terpal ini sesuai dengan
peluang 0,9 bahwa hari akan turun hujan?”.
“Putusan
yang bijaksana”, jawab ilmuwan kita dengan sangat puas. (belum
tentu rekan-rekannya seilmu mampunyai perspektif yang jelas seperti
orang awam ini dalam menafsirkan
probabilitas).
Sekarang .........................sekiranya saudara mempunyai pacar
dari galaksi sans, katakanlah dari planit Mars yang jaraknya hanya
35,170,000 mil dari bumi kita. Pacar saudara itu cantik, sexy,
rambutnya pirang, namun sayang sekali dia sama sekali tidak boleh
tersentuh hujan. Bila sedikit saja kena hujan maka kulitnya yang
mulus akan meleleh seperti kulit kita terkena asam.
Jika
saudara ingin membawa pacar saudara itu jalan-jalan di Jakarta,
katakanlah umpamanya ke proyek Senen dan tentu saja Bina Ria, dengan
pengetahuan bahwa peluang adalah 0,9 bahwa hari akan cerah sepanjang
hari, apakah yang akan saudara lakukan?
“Biarpun
ahli meteorologi dan geofisika menyatakan bahwa terhadap peluang 0,95
atau bahkan 0,99 bahwa esok hari tidak akan hujan, saya akan tetap
jalan-jalan bersama pacar saya ke proyek Senen dan Bina Ria sambil
tetap membawa payung”, seru orang awam kita ini penuh semangat.
“Mengapa?”
tanya ilmuwan kita.
“Sebab
risikonya, bung risikonya”, jawab orang itu sambil tertawa. (orang
itu adalah seorang mahasiswa yang urutan prioritasnya adalah cinta,
uang dan kesehatan, tigapuluh tahun lagi urutan ini kemungkinan besar
akan terbalik: kesehatan, uang dan cinta).
Ilmuwan
kita menjabat tangan pemuda itu sambil katanya,: “Kepada yang muda
dan yang bercinta!”(mereka lalu berbincang-bincang di cafetaria.
Mengangkat toast bagi kehidupan yang penuh ketidakpastian ini, namun
mereka merasa betah di dalamnya).
Kepada
kesehatan saudara!
Ilmuwan
itu tersenyum dan memandang ke sekeliling.
Gerbang
Universitas yang tua dan manusia-manusia yang melewatinya. Gerbang
yang pula pernah dilakukannya dan mendewasakan dia secara
intelektual, moral dan emosional, yang memanusiakan dirinya.
(kerongkongannya tersekat).
“Chears,
kepada Alma Mater kita”
D.
BEBERAPA ASUMSI DALAM ILMU
Masih
ingat lagu Bee Gees (di Indonesia sering dinyanyikan Be Goes)
When
we were small
And
chritstmas trees were tall
La
la la la la .....
La
la la la ..…
Waktu
kecil segalanya kelihatan serba besar, pohon natal begitu tinggi
sampai, orang-orang tampak seperti raksasa dalam film seri televisi
The Land of Giants. Kehidupan penuh dengan 1001 teka teki dan sejuta
rahasia. Pandangan itu berubah setelah kita berangkat dewasa, dunia
ternyata tidak sebesar yang kita kira, ujud yang penuh dengan misteri
ternyata cuma gitu saja. Kesemestaan pun menciut, bahkan dunia bisa
selebar daun kelor, bagi orang yang putus asa.
Katakanlah
kita sekarang sedang mempelajari ilmu ukur bidang datar (planimetri).
Tarik garis ke sana, bikin garis ke sini, hitung berapa besar sudut
46yang menyilang, hitung berapa panjang garis yang berhadapan.
Analisis seperti ini kita lakukan untuk membuat konstruksi kayu bagi
atap rumah kita.
Sekarang
dalam bidang datar yang sama bayangkan para amuba mau bikin rumah
juga. Ternyata masalah yang dihadapi arsitek-arsitek amuba berbeda
dengan kita. Bagi amuba bidang datar itu tidak rata dan mulus seperti
pipi wanita yang sudah di make-up melainkan bergelombang, penuh
dengan lekukan yang cekung dan cembung. Permukaan yang rata berubah
menjadi kumpulan berjuta kurva. Jarak yang terdekat bukan lagi garis
lurus (seperti diformulasikan dalam ilmu ukur kita) melainkan garsi
lengkung.
Mengapa
terdapat perbedaan pendangan yang nyata terhadap obyek yang begitu
konkrit seperti sebuah bidang? Mengapa amuba dan kita seakan-akan
hidup dalam dunia yang sangat berbeda? Sebabnya, simpul ahli fisika
Swiss Charles-Kucene Guye, gejala diciptakan oleh skala observasi.
Bagi skala
observasi
amuba, bidang datar ini merupakan daerah pemukiman yang
berbukit-bukit.
Jadi
secara mutlak sebenarnya tak ada yang tahu, kaya apa sebenarnya
bidang datar itu. Walahualam bissawab, cuma Tuhan yang tahu! Mungkin
padang elektron, mungkin bukit meson, mungkin cuma sarah debu. Secara
filsafati mungkin ini merupakan masalah besar, namun bagi ilmu
masalahnya dapat didekati secara praktis. Seperti disebutkan
terdahulu ilmu sekedar merupakan pengetahuan yang mempunyai kegunaan
praktis yang dapat membantu kehidupan manusia secara pragmatis.
Dengan demikian maka untuk tujuan membangun atas rumah, sekiranya
kita asumsikan bahwa permukaan kayu yang kita pergunakan untuk itu
adalah bidang datar, secara praktis dan pragmatis semua ini akan
dapat dipertanggungjawabkan. Bagi amuba asumsi ini jelas tak dapat
diterima, sebab secara praktis bagi mereka permukaan kayu yang mereka
hadapi bukanlah bidang datar melainkan permukaan yang bergelombang.
Marilah
kita lihat ilmu yang termasuk paling maju dibandingkan dengan
ilmu-ilmu lainnya, yakni fisika. Fisika merupakan ilmu teoretis yang
mempunyai penalaran deduktif yang meyakinkan dan pembuktian induktif
yang telah teruji. Namun sering dilupakan orang bahwa bahkan fisika
pun belum merupakan suatu kesatuan konsep yang utuh. Artinya fisika
belum merupakan pengetahuan ilmiah yang tersusun secara sistematik,
konsisten dan analitik berdasarkan pernyataan-pernyataan ilmiah yang
disepakati bersama. Di mana terdapat celah-celah perbedaan dalam
fisika ? Justru dalam fondasi tempat dibangunnya teori ilmiah di
atasnya, yakni dalam asumsi tentang dunia fisik.
Dalam
analisis secara mekanistik maka terdapat empat komponen analisis
utama yakni zat, gerak, ruang dan waktu. Newton dalam bukunya
Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) berasumsi bahwa
keempat komponen ini bersifat absolut. Zat bersifat absolut dan
dengan demikian berbeda secara subtantif dengan energi. Einstein,
berlainan dengan Newton dalam The Special Theory of Relativity (1905)
berasumsi bahwa keempat komponen itu bersifat relatif. “tidak
mungkin kita mengukur jarak secara absolut”, kata Einstein.
Bahkan
zat sendiri itu pun tidak mutlak, hanya bentuk lain dari energi,
dengan rumus yang termasyhur.
E
= mc 2
“Jadi
kalau begitu”, keluh si peragu”, “ilmu ini tidak benar”.
“Secara absolut memang demikian”, jawab ilmuwan, namun bukankah
ilmu tidak bermaksud mencari pengetahuan yang bersifat absolut?
Sekiranya ilmu mencari teori-teori ilmiah yang secara praktis dapat
kita pakai untuk membangun rumah maka mekanika klasik dari Newton
sudah jauh dari cukup. Demikian juga dengan ilmu ukur yang kita pakai
untuk pengukuran dalam mekanika klasik ini, yakni ilmu ukur Euclid.
Geometri yang dikembangkan oleh Euclid (330-275 S.M.) kurang lebih
dua ribu tahun yang lalu ini ternyata masih memenuhi syarat.
Namun
sekiranya dalam kurun yang ditandai krisis energi ini kita ingin
berpaling dari sumber energi konvensional yakni air, angin, panas
(bumi dan matahari) serta fossil kepada energi nuklir, maka tentu
saja kita harus berpaling kepada teori relativitas Einstein, sebab
menurut teori ini kebutuhan energi elektrik dunia selama sebelum
dapat dipenuhi hanya dengan konversi 5 kg zat. Untuk analisis ke
empat komponen yang bersifat relatif ini maka ilmu ukur Euclid tidak
lagi memenuhi syarat dan kita berpaling kepada ilmu ukur non-Euclid
yang dikembangkan oleh Lobacevskii (1973-1856), Bolyai (1802-1860)
dan Riemann (1826-1866).
Jadi
di sini kita mengadakan asumsi lagi bahwa untuk membangun rumah, ilmu
ukur Euclid dianggap memenuhi syarat untuk dipergunakan. Sedangkan
bagi amuba yang harus membangun tumah pada permukaan yang berlobang,
hal ini tidak demikian, sebaiknya mereka memakai ilmu ukur yang
dipakai dalam relativitas Einstein yakni ilmu ukur Non-Euclid.
“Apakah asumsi semacam ini dapat dipertanggungjawabkan? “tanya
seorang awam “Apakah kalau saya mau menimbang beras jatah pegawai
negeri saya harus mempergunakan timbangan tukang emas? “ilmuwan
yang dosen dan dus pegawai negeri itu balik bertanya.
Ketakpastian
dalam gejala fisik ini muncul dengan penemuan Niels Bohr dalam
Prinsip Komplementer (Principle of Complementarity) yang
dipublikasikan pada tahun 1913. Prinsip Komplementer ini menyatakan
bahwa elektron bisa berupa gelombang cahaya dan bisa juga berupa
partikel tergantung dari konteks-nya. Masalah ini yang menggoyahkan
sendi-sendi fisika ditambah lagi dengan penemuan Prinsip
Indeterministik (Principle of Indeterminacy) oleh Worner Heisenbery
pada tahun 1927. Heisenberg menyatakan bahwa untuk pasangan besaran
tertentu yang disebut “Coajugate magnitude” pada prinsipnya tidak
mungkin kita mengukur kedua besaran tersebut pada waktu yang sama
dengan ketelitian yang tinggi. Asas ketakpastian kata Wiliam Barret,
menunjukkan bahwa terdapat limit dalam kemampuan manusia untuk
mengetahui dan meramalkan gejala-gejala fisik. Prinsip ini membuka
kesempatan untuk menengok sejenak hakekat alam yang mungkin saja
“pada keraknya bersifat irrasional dan kacau” (at bottom could be
irrational and chaotic).
Masalah
asumsi ini menjadi lebih rumit lagi kalau kita berbicara tentang
ilmu-ilmu sosial seperti tercermin dalam anekdot di bawah ini:
Manusia
yang neurotik adalah mereka yang membangun rumah di atas awan
Manusia
yang psikotik adalah mereka yang tinggal di dalamnya
Manusia
yang psikiater adalah mereka yang menagih sewanya
(Siapakah
kau sebenarnya o manusia) Siapakah manusia dalam ilmu politik?
Political animal. Siapakah manusia dalam pendidikan? Homo educandum.
Siapakah? Dan kotak-kotak manusia makin lama makin banyak dan makin
sempit seperti kata Fariddun Attar:
Dan
kita membuat peti
Di
dalam peti ini ..............…
Apakah
kita perlu membuat kotak-kotak ini dan memberikan pembatasan dalam
bentuk asumsi yang sempit ini? Jawabannya adalah sederhana sekali:
sekiranya ilmu ingin mendapatkan pengetahuan yang bersifat analitis,
yang mampu menjelaskan berbagai kaitan dalam gejala yang tertangguk
dalam pengalaman manusia seperti membangun pemukiman Jabotabek tidak
bisa dianalisis secara cermat dan seksama hanya oleh suatu disiplin
keilmuan saja. Masalah yang rumit ini, seperti juga rumitnya
kehidupan yang dihadapi manusia, harus dilihat sepotong-sepotong dan
selangkah demi selangkah. Berbagai disiplin keilmuan, dengan
asumsinya masing-masing tentang manusia, mencoba mendekati
permasalahan Jabotabek itu dari berbagai segi: psikologis,
sosiologis, tata kota, kesehatan umum, transportasi, pendidikan,
perpustakaan, hiburan, pertamanan. Ilmu-ilmu ini bersifat otonom
dalam bidang kajiannya masing-masing dan “berfederasi” dalam
suatu pendekatan multidisipliner. (Jadi bukan “fusi”
dengan pengembangan asumsi yang kacau balau ).
Dalam
mengambangkan asumsi ini maka harus diperhatikan beberapa hal.
Pertama, asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian
disiplin keilmuan. Asumsi ini harus operasional dan merupakan dasar
pengkajian teoretis. Asumsi bahwa manusia dalam administrasi adalah
“manusia administrasi” kedengarannya memang filsafati, namun
tidak mempunyai arti apa-apa dalam penyusunan teori-teori
administrasi. Asumsi manusia dalam administrasi yang bersifat
operasional adalah mahluk ekonomis, mahluk sosial, mahluk aktualisasi
diri atau mahluk yang kompleks. Berdasarkan asumsi-asumsi ini dapat
dikembangkan berbagai model, strategi dan praktek administrasi.
Asumsi bahwa manusia adalah “manusia administrasi”, dalam
pengkajian administrasi akan menyebabkan kita berhenti di situ.
Seperti sebuah lingkaran, setelah berputar-putar, kita kembali ke
tempat semula; jadi ke situ-situ juga ujungnya.
Kedua,
asumsi ini harus disimpulkan dari “keadaan sebagaimana adanya”
bukan “bagaimana keadaan yang seharusnya”, asumsi yang pertama
adalah asumsi yang mendasari telaah keilmuan, sedangkan yang kedua
adalah asumsi yang mendasari telaah moral. Sekiranya dalam kegiatan
ekonomis manusia yang berperan adalah manusia “yang mencari
keuntungan sebesar-besarnya dan kerugian sekecil-kecilnya”maka itu
sajalah yang kita jadikan sebagai pegangan, tak usah ditambah dengan
“dengan sebaiknya begini” atau “seharusnya
begitu”. Sekiranya macam-macam asumsi kemoralan ini dipakai dalam
kebijaksanaan, atau strategi atau penjabarannya, semua ini bisa saja
asalkan membantu kita dalam pembicaraan terdahulu, dalam tahap
perkembangannya di abad pertengahan, ilmu merupakan penjabaran
filsafat moral. Kalau kita kembali ke situ, berarti ilmu melangkah
surut ke belakang.
Seorang
ilmuwan harus benar-benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam
analisis disiplin keilmuannya. Asumsi ini sering dan tidak tersurut.
Tersirat atau implisit artinya berasumsi bahwa orang sudah tahu dan
mengerti akan apa-apa yang tersurat yang berkaitan dengan hal-hal
yang tersurat atau eksplisit. Asumsi ini untuk basa-basi adalah baik,
namun untuk pengkajian ilmiah yang lugas (zakelijk) lebih baik
dipergunakan asumsi yang tegas, sekiranya belum tersurat (atau
terucap) maka kita anggap dia belum tahu (atau kita belum
sependapat). Mengeksplisitkan asumsi tidak ruginya: sekiranya
kemudian ternyata bahwa asumsi itu benar, maka kita memperoleh
konfirmasi, kalau asumsi berbeda dengan kenyataan, atau salah, maka
kita bisa memecahkannya, mencari modus yang sama.
“Apakah
asumsi yang mendasari teori ilmiah yang saudara pakai sebagi dasar
dalam pengkajian disertasi saudara?” tanya seorang penguji kepada
seorang yang sedang promosi. Promovendus kita ini agak terkejut juga,
sebab belum pernah didengarnya bahwa ilmu yang dia pelajari dan
sekarang menjadi
spesialisasinya
mempunyai asumsi segala. Dengan terbata-bata dia berkata: “saya
tidak tahu apakah yang sebenarnya yang bapak maksudkan dengan
asumsi.”
“Asumsi
itu pengertiannya sederhana saja, kawan yang terpelajar”, jawab
penguji kita, “saya asumsikan bahwa saudara telah siap dengan
bidang ilmu yang menjadi spesialisasi saudara, ternyata saya salah,
sebab apa? Sebab jangankan saudara tahu asumsi yang mendasari ilmu
saudara bahkan saudara tidak tahu apa yang disebut asumsi
......................”
E.
BATAS PENJELAJAHAN ILMU
Apakah
batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu
berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan
lain? Apakah yang menjadi karakteristik obyek ontologis ilmu yang
membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan yang lainnya? Jawab dari
semua pertanyaan itu adalah sangat sederhana: ilmu memulai
penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas
pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari hal ihwal surga dan
neraka? Jawabnya juga “tidak”, sebab kejadian itu berada di luar
jagkauan pengalaman kita. Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup
kita, maupun apa-apa yang terjadi sesudah kematian kita, semua itu
berada di luar penjelajahan ilmu.
Mengapa
ilmu hanya membatasi diri pada hal-hal yang berada dalam batas
pengalaman kita? Jawabnya manusiawi: yakni karena ilmu (sebaiknya)
dipakai sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi
masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Ilmu diharapkan
membantu kita memerangi penyakit, membangun jembatan, membikin
irigasi, membangkitkan tenaga elektrik, mendidik anak, memeratakan
pendapatan nasional dan sebagainya. Persoalan mengenai hari kemudian
tidak akan kita tanyakan kepada ilmu, melainkan kepada agama, sebab
agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu.
Ilmu
membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga
karena metode yang dipergunakan dalam menyusun pengetahuannya. Ilmu
merupakan kumpulan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya secara
empiris. Bagaimana sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas
pengalaman manusia kedalam lingkup telaahnya? Bukankah hal ini
merupakan suatu kontradiksi yang menghilangkan kesahihan metode
ilmiah?.
“Kalau
begitu maka sempit sekali batas jelajahan ilmu,” kata seorang,
“cuma
sepotong dari sekian permasalahan kehidupan.” “memang demikian,”
52jawab filsuf ilmu,.” Bahkan dalam batas pengalaman manusia pun,
ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar atau salahnya suatu
pernyataan. “Tentang baik dan buruk, semua (termasuk ilmu)
berpaling kepada sumber-sumber moral; tentang ilmu dan jejak, semua
(termasuk ilmu) berpaling kepada pengkajian estetik.
“Ilmu
tanpa (bimbingan moral) agama adalah buta,” demikian kata Einstein.
Kebutaan moral dari ilmu mungkin membawa kemanusiaan ke jurang
malapetaka. Dewasa ini terdapat 40.000 kepala nuklir masing-masing
dengan kekuatan 1.000.000 kali bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima
46 tahun
berselang.
Kekuatan ini cukup untuk menghancurkan bumi menjadi berkeping-keping.
“Tak banyak harapan kita untuk menemukan peradaban lain di tengah
galaksi-galaksi ini,“ kata Carl Sagan, “sekiranya mereka kemudian
saling menghancurkan setelah mencapai fase teknologi.
Ruang
penjelajahan keilmuan kemudian kita pilih manjadi “kapling-kapling”
berbagai disiplin keilmuan. Kapling ini makin lama makin sempit
sesuai dengan perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan. Kalau pada
fase permulaan hanya terdapat ilmu-ilmu alam (natural philosophy) dan
ilmu-ilmu sosial (moral philosophy) maka dewasa ini terdapat labih
dari 650 cabang kailmuan. Seperti juga pemilik kapling yang sah, maka
setiap ilmuwan harus tahu benar batas-batas penjelajahan cabang
keilmuannya masing-masing. Sering kita temui tendensi imperialistik
seorang ilmuwan yang mengklaim teritorial disiplin ilmu lain. Hal ini
tentu saja tidak benar, dan langkah pertama agar kita tidak menjadi
tuan tanah yang serakah, adalah mengenal batas-batas kapling kita.
Mengenal batas-batas kapling kita ini, di samping menunjukkan
kematangan keilmuan dan profesional kita, juga dimaksudkan agar kita
mengenal tetangga-tetangga kita. Dengan demikian sempitnya daerah
penjelajahan suatu bidang keilmuan maka sering sekali diperlukan
"pandangan” dari disiplin-disiplin lain. Saling
pandang-memandang ini, atau dalam bahasa protokolnya pendekatan
multidisipliner, membutuhkan pengetahuan tentang tetangga-tetangga
yang berdekatan. Artinya, harus jelas bagi semua: di mana disiplin
seseorang berhenti dan di mana disiplin orang lain mulai. Tanpa
kejelasan batas-batas ini maka pendekatan multi-disipliner tidak akan
bersifat konstruktif, melainkan berubah menjadi sengketa kapling
(yang sering terjadi akhir-akhir ini).
Apalagi
kalau masalah kapling ini dikaitkan denga asumsi-asumsi yang dipakai
oleh masing-masing disiplin. Sekiranya “x mengasumsikan y” pada
kapling orang lain, padahal dalam kapling tersebut berlaku “y”
mengasumsikan x,” „kan semuanya jadi terbalik, bukan? Salah-salah
sengketa kapling ini berubah menjadi sengketa asumsi, dan kita
ketahui dari pembahasan terdahulu, bahwa sengketa macam begini adalah
kaliber Newton vs Einstein.
Nah,
“gneumi suton,” kata seorang filsuf yang bijak mengutip kata-kata
yang terdapat di Orakel Delphi. Artinya, kurang lebih, dalam masalah
batas-batas ini: Kenalilah (kapling) kau sendiri! (Bukankah tidak ada
salahnya kalau kalimat ini kita tuliskan dalam batas buku kita?).
F.
CABANG-CABANG ILMU
Ilmu
berkembang dengan sangat pesat dan demikian juga jumlah
cabang-cabangnya. Hasrat untuk menspesialisasikan diri pada suatu
bidang telaah yang memungkinkan analisis yang makin cermat dan
seksama menyebabkan obyek formal (obyek ontologis) disiplin keilmuan
menjadi kian terbatas. Diperkirakan sekarang ini terdapat sekitar 650
cabang keilmuan yang kebanyakan belum dikenal orang-orang awam.
Pada
dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembag dari dua cabang utama
yakni filsafat alam yang kemudian manjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the
natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke
dalam cabang ilmu-ilmu sosial (the social sciences). Ilmu-ilmu alam
membagi diri menjadi dua kelompok lagi, yakni ilmu alam (the physical
sciences) dan ilmu hayat (the biological scinces). Ilmu alam
bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta sedangkan ilmu
hayat mempelajari mahluk-mahluk hidup di dalamnya. Ilmu alam kemudian
bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia
(mempelajari subtansi zat), astronomi (mempelajari banda-banda
langit) dan ilmu bumi (atau earth sciences yang mempelajari bumi kita
ini).
Tiap-tiap
cabang kemudian membuat ranting-ranting baru seperti fisika
berkembang menjadi mekanika, hodrodinamika, akustika, optika,
termodinamika 54elektrronika, magnetika, fisika nuklir dan kimia
fisika. Sampai tahap ini maka
kelompok
ilmu ini termasuk ke dalam ilmu-ilmu murni. Ilmu-ilmu murni kemudian
berkembang manjadi ilmu ilmu terapan seperti contoh di bawah ini:
|
ILMU
MURNI
|
ILMU
TERAPAN
|
|
Mekanika
|
Mekanika
Teknik
|
|
Hidrodinamika
|
Teknik
Aeroneutika
Teknik
& Perancangan Kapal
|
|
Bunyi
|
Teknik
Akustik
|
|
Cahaya
dan Optik
|
Teknik
Iluminasi
|
|
Elektromagnetika
|
Elektronika
Teknik
Instalasi Elektrik
|
|
Fisika
Nuklir
|
Teknik
Nuklir
|
Cabang-cabang
ini berkembang menjadi banyak sekali, kimia saja umpamanya, mempunyai
sekitar 150 disiplin.
Ilmu-ilmu
sosial berkembang agak lambat dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam.
Pada pokoknya terdapat cabang utama ilmu-ilmu sosial yakni
antropologi (mempelajari manusia dalam perspektif waktu dan tempat),
psikologi (mempelajari mental dan kelakuan manusia), ekonomi
(mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya lewat proses
pertukaran), sosiologi (mempelajari struktur organisasi soasil
manusia) dan ilmu politik (mempelajari sistem dan proses dalam
kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara).
Cabang
utama ilmu-ilmu sosial ini kemudian mempunyai cabang-cabang lagi,
seperti umpamanya antropologi terpecah menjadi lima, yakni arkeologi,
antropologi fisika, linguistik, etnologi dan antropologi budaya. Dari
ilmu-ilmu tersebut di atas yang dapat kita golongkan ke dalam ilmu
murni (meskipun tidak sepenuhnya) berkembang ilmu sosial terapan yang
merupakan aplikasi berbagai konsep dari lima ilmu-ilmu sosial murni
kepada sosial terapan yang mengaplikasikan konsep-konsep dari
psikologi, antropologi, dan sosiologi. Demikian juga menajemen
menerapkan konsep-konsep psikologi, ekonomi, antropologi dan
sosiologi.
Di
samping ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, pengetahuan mencakup
juga humaniora dan matematika. Humaniora terdiri dari seni, filsafat,
agama, etika bahasa dan sejarah. Sejarah kadang-kadang dimasukkan
juga ke dalam ilmu-ilmu sosial merupakan kontroversi yang
berkepanjangan apakah sejarah itu ilmu ataukah humaniora. Keberatan
beberpa kalangan mengenai dimasukkannya sejarah ke dalam kelompok
ilmu-ilmu sosial terletak pada penggunaan data-data sejarah yang
seringkali merupakan penuturan orang, yang siapa tahu, bisa saja
orang itu adalah “pembohong”. Arkeologi sudah tidak lagi
dipermasalahkan, sebab buktinya adalah benda-benda sejarah hasil
penggalian dan penemuan.
Matematika,
seperti akan kita pelajari lebih lanjut, bukan merupakan ilmu,
melainkan cara berpikir deduktif. Matematika merupakan sarana
berpikir yang penting sekali dalam kegiatan berbagai disiplin ilmu.
Ia termasuk kelompok pengetahuan yang sudah tua umurnya dan paling
pertama berkembang. Euclid (330-270 S.M.) menulis Element yang
merupakan dasar-dasar geometri sampai sekarang ini. Studi matematika
dewasa ini mencakup antara lain aritmatika, geometri, teori bilangan,
aljabar, trigonometri, geometri analitik, persamaan diferensial,
kalkulus, topologi, geometri Non-euclid, teori fungsi, probabilitas
dan statistika, logika dan logika matematika.
5.
EPISTEMOLOGI ILMU
Pada
suatu hari ke dalam kamar studi seorang profesor tergopoh-gopoh dua
orang mahasiswa. “Profesor, “seru seorang mahasiswa
terengah-dengah, “saya menemukan obat kanker yang berasal dari
tape.”
“Saya
juga menemukan hal yang sama.”seru kawannya, yang tak kurang
terengah-engahnya, menyeka keringat dari jidatnya.
“Baik,
kawan yang terpelajar,” jawab profesor itu kepada mahasiswa yang
satu,
“ceritakan
kepada saya mengapa kamu berpendapat bahwa tape dapat menyembuhkan
kanker. Yakinkan saya dengan mempergunakan semua ilmu yang kamu telah
pelajari ; Kimia, kimia fisika, biologi dan sebangsanya.”
“Tapi
saya tidak mempelajari tentang hal ini, profesor, saya hanya mencoba
bagaimana pengaruhnya kalau orang yang sakit kanker banyak makan
tape, dan hasilnya ternyata sembuh “
Sang
profesor itu mengangguk-angguk kepalanya dan berpaling kepada
mahasiswa yang lainnya: “kalian tahu, anak muda, sembuhnya itu
mungkin saja kebetulan. Bagaimana dengan hasil percobaan kami
sendiri, apakah kamu juga berhasil menyembuhkan kanker dengan tape?”
“Saya
justru tidak melakukan percobaan, prof,” jawab mahasiswa itu, “saya
mempelajari kanker dan tape dari semua segi yang profesor sebutkan
tadi, dan saya menemukan breakthrough: bahwa ditinjau dari kimia,
kimia-fisika, biologi, sosiologi dan sebangsanya (maaf prof, tape
malah ada aspek kulturalnya) tape adalah obat yang ampuh untuk
menyembuhkan kanker.
Sang
profeosr itu tersenyum dan berkata: “kalian berdua masing-masing
mewakili sebagian-sebagian dari cara berfikir keilmuan. Tandasnya,
ditinjau dari segi epistemologi ilmu, kalian ini baru setengah
ilmuwan. Untuk menjadi seorang ilmuwan yang penuh kalian berdua harus
bekerjasama.......”
Dan
profesor itu pun bercerita tentang filsafat ilmu. Dimulai dengan
faham rasionalisme yang berfikir secara sistematis dan konsisten
namun tidak pernah sependapat tentang pernyataan mana yang dapat
disetujui bersama dan dengan demikian dapat dianggap benar, kemudian
ia disetujui bersama dan dengan demikian dapat dianggap benar,
kemudian ia mengupas paham empirisme yang mengkaitkan berbagai fakta
lewat hukum kalsalitas; memang faktual dans sering dapat
diulang-ulang, namun sukar dicari krangka logisnya, dan satu denagn
yang lain sering bersifat kontradiktif;
“Jangan
kalian kira karena babi-babi sering makan tape dan tidak pernah sakit
kanker lalu bagaimana saja bida kalian simpulkan bahwa tape
menyembuhkan atau, paling tidak, mencegah kanker,” desis profesor
itu memukul mejanya.
“tapi
babi tidak pernah makan tape, prof, dia makan ubi kayu”, potong
setenagh ilmuwan itu memberanikan diri.
“sudahlah,”
profesor itu melotot, “pertanyaannya itu tidak relevan yang penting
adalah, “kembali dia memukulkan tinjunya,” agar secara
epistomologis suatu pengetahuan secara sah dapar dianggap ilmiah, dia
harus melalui dua tahap. Pertama, yakinkan saya secara teoretis,
dengan mempergunakan selama ini, bahwa taope bisa menyembuhkan
kanker. Bila saya yakin dengan penjelasan kalian , yang dijabarkan
secara deduktif dari semua sopengetahuan ilmiah yang telah diakui
sampai saat ini, baru kita malngkah kepada tahap kedua.”
Di
sini profesor kita berhenti dan menarik nafas. “Kesimpulan yang
ditarik dari tahap pertama disebut dugaan, atau, dalam bahasa
ilmiahnya, hipoteisis. Kesimpulan yang bagaimana pun logisnya,
bagaimanapun menyakinkannya dalam tahap ini baru merupakan dugaan.
Sebab seperti apa yang dikatakan oleh hakim Spencer Tracy kepada
pembela Maximillian Schell dalam filam tentang peradilamn penjahat
perang nazi yang berjudul Judgement at Nurnberg: „Anakku, apa yang
logis itu tidak selalu benar.‟ Kalian sering nonton filan ngebut).
Sering-seringlah nonton film detektif dalam menemukan kebenaran
detektif dan ilmuwan sebenarnya sama, yakni (sang profesor
mengetuk-ngetuk otak kecil) dan ........ dan dia bertanya).
“Dan
uang ....... Uang penellitian yang saya maksudkan, prof “ kata
mahasiswa itu cepat-cepat, melihat profesornya merengut, “proyek
penelitian , maksud saya”.
Bukan.......”
Agak berang dia, “ dalam epistemologi uang tidak relevan, dalam
menajeman penelitian, mungkin” (Apa yang tidak membutuhkan uang,”
dia bersungut); yang penting dalam berpikir keilmuan, seperti juga
dalam pegnadilan, adalah bukti. Mana buktinya bahwa si Polan membunuh
si Badu karena cemburu pad si Dadap? Mana buktinya bahwa tape bida
menyembuhkan kanker karena alasan kimia, biologi, kultural, etsetera,
stsetra ..........”
Dua
oarang mahasiswa itu terdiam. Mereka menelaah ludahnya. Mungkin
harus, sebab hari telah jauh siang.
“itulah
tahap kedua dari proses keilmuan, yakni tahap pembuktian. Sekiranya
terdapat bukti yang menyakinkan (jadi jangan disunglap atau
dibikin-bikin) maka hakim dapat menjatuhkan keputusan yang adil.
Demikian juga jika terdapat kesimpulan penelitian yang merupakan
bukti yang kuat (bukan penelitian asal Bapak Senang, atau reportase
koran, melainkan penelitian ilmiah dengan rancangan dan analisis
ilmiah) maka hipotesis dianggap benar, dan kita mendapatkan
pengetahuan baru ........ untuk itu kalian akan saya calonkan sebagai
pemenag hadiah nobel tahun depan.”
Mahasiswa
itu tersenyum. Mereka kelihatan senang.
“ingatlah
kepada dua tahap dalam proses kailmuan ini, di mana pun juga selama
kalian melakukan kegiatan ilmiah apakah kalian menusia skripsi
serjaan klian, atau tesis pasca sarjaan, juga disertasi dokter
kalian. Prosesnya tak pernah berubah, yang berbeda hanya lingkup dan
kedalamannya.........”
ketika
kedua mahasiswa itu telah pergi dari kamar studinya, denagn lesu
profesor itu membeliak-beliak karya ilmiah rekan
se-civitas-academica. Tumpukan yang satu penuh angka dan tabel-tabel
tanpa logika.
Tumpukan
lain penuh dengan teori-teori tanpa fakta. “baru
setengah ......”desisnya.
(sungguh
mati saya tak tahu seteangh apa, sebab profesor itu memalingkan
kepalanya ke tembok, dan tak terdengar lagi bersuara. Yang pasti jam
di tembok itu menunjukkan angka 12.30 WIB).
A.
METODE ILMIAH
Dalam
skenario tersebut di atas profesor kita telah menjelaskan metode
ilmiah secarta sangat sederhana namun sangat fundamental. Metode
ilmiah merupakan lainnya? Maka sampai saat ini kita telah mempunyai
dua kriterai yakni pertama, secara ontologis ilmu membatasi bidang
telaahnya pada daerah pengalaman mansuai (daerah empiris) dan, kedua
secara epistemologis ilmu mendapatkan penagetahuannya lewat metode
ilmiah.
Metode
ilmiah merupaka cara dalam mendapatkan pengetahuan secara ilmiah.
Atau dnegan perkataan lain, pengetahuan yang diperoleh dengan
mempergunakan metode ilmiah dapat digolongkan kepada pengetahuan yang
bersifat ilmaih: disingkat pengetahun ilmiah, atau secara pendek
disenut ilmu. Metod eilmiah dalam prosesnya untuk menemukan
pengetahuan yang dipercayai terdiri atas beberapa lagkah tertentu
yang semuanya kait-mengkait satu sama lain secara dinamis. Seorang
ilmuwan harus mengenal langkah-lagnkah ini denagn seksama agar bisa
sampaui kepada kesimpulan yang benar.
Metode
ilmiah merupakan sintesis antara berfpikir rasional dan bertumpu pad
adata empiris. Kedua cara berpikir ini tercermin dalam berbagai
langkah yang terdapat dalam proses kegiatan ilmiah. Pada dasarnya
pemikiran secara empiris pertama-tama menyadarkan kita akan adanya
suatu masalah. Kita tidak permnah akan berpikir sekiranya kita tidak
menyadari adanya masalah yang kita pikiran. Kehidupan akan
menyadarkan kita akan mengalami kekurangan pangan maka timbillah
masalah yang berhubungan deng hal itu: Mengapa kita
mengalami
kekurangan pangan? Apa yang menyebabkan terjadinya gejala tersebut?
Bagaimana cara untuk menaggulanginya?
Demikian
juga dalam kehidupan kita sehari-hari kita menemukan masal;ah da;am
keluarga kita sendiri. Umpamanya saja waktu mejelang dewasa tiba-tiba
saja seorang anak menajdi sangat berubah, gejala ini meghadapkan kita
kepada masalah: Apa yang menyebabakan dia berubah? Bagaimana
sebaiknya sikap kita dalam frase perubahan tersebut? Bagaimana carqa
kita berkomunikasi dengan dia?
Jelaskan
kirqanya bahwa karena adanya maslaah yang sedang kita hadapi maka
otak kita mulai berpikir ilmiah, yakni penemuan atau penentuan
masalah secara sadar. Kesadaran akan adanya masalah yang kita temukan
secara empris menyebabkan kita mulai memikirkan hal itu secara
mendalam dalam hal ini maka bukan saja kiata megamati gejala fisik
dari masalah tersebut yang bersifat empiris, namun juga kita mulai
mengkajinya secara rasional. Suatu masalah agar bisa dipercayakan
hariuslah durumuskan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan untuk
dianalisi secara logis.
Secara
empiris dapat diketahui bahw asuatu masalah merupakan suatu gejala di
mana beberapa fakta terkait dengan satu sama lain dan membentuk suatu
kerangka permasalahan dalam masalah mengenai kekurangan pangan,
umpamanya, secara empiris kita dapat melihat kaitan fisik antara
produksi panga dan dengan segera kita bisa merumuskan masalah
kekurangan ini mudah dilihat dan dengan segera kita bisa merumuskan
masalah kekurangan pangan dalam kaitan antara produksi dan kesuburan
tanah. Artinya secara empiris kita menemukan faktor-faktor yang
emmbentuk kerangka permasalaahn tersebut. Namun tidak semua
permasalahan bersifat semudah itu. Terdapat permasalahan yang
faktor-faktornya yang terlibat di dalmnya tidak bisa dikenali secara
empiris. Misalnya saja masalah mengenai perubahan anak menjelang
dewasa. Faktor-faktro yang membemntuk keranrgka peramasalaahn
tersebut. Namun tidak semua permasalahan bersifat semudah itu.
Terdapat permasalahan yang faktor-faktornya yang terlibat di dalamnya
tidak bisa dikenali secara empiris. Misalnya saja masalah mengenai
perubahan anak mejelang dewasa. Faktor-fakltor yang memabentuk
kerangka permasalahan tersebut tidak bisa dikenal pemikiran rasional.
Kita harus mulai bertanya dan berpikir, faktor-faktor apa yang
membutuhkan kerangka permasalahan tersebut? Jadi dalam langkah
yangkedua yakni perumusan kerangka permasalahan, kita sudah mulai
berpikir secara empiris dan rasional.
Langkah
kita yang ketiga adalah menyusun kerangka penjelasan yang
megnhubungkan faktor-faktor tersebut dalam suatu hubungan seabab
akibat kalau dalam kerangka prmasalahan itu kita menetapkan bahwa
dalam masalah A terlibat faktor x, y, dan z. maka dalam langkah ini
kita harus meyusun suatu argumenatsi yang menjelaskan hubungan antara
x ddan y dan z tersebut. Umpamanya jika kiota rumuskan dalam kerangka
permasalahan kita bahwa produiksi padi berhubungan dengan
faktor-faktor kesuburan tanah, pemupukn dan persediaan air; maka
dalam krangka penjelasan kita harus kita kemukakan argumentasi yang
menyatakan hubugnan antara faktor-faktor tersebut. Bagimanakh
hubungan anatar penupukan denan kesuburan tanah dan produksi padi?
Bagaimanakah hubungan antara persediaan air dengan pemupukan dan
kesuburan tanha? Bagaimanaakah hubungan antara persediaan air dan
produksi padi?
Kerangka
penjelasan ini hanyalah bersifat pemikiean semantara yang masih kita
uji kebenarannya. Walaupun demikiann dengan adanya kerangka
penjelasan semenatra ini kita telah mempunyai suatu argumtasi yang
menerangkan hubungan kasualitas antara berbagai faktor yang membentuk
suatu kerangka permasalahan. Dalam kerangka penjelasan itu kita
mengemukakan argumentasi, umpamanya mengaenai mengapa kesuburan tanah
mempunyai pengatuh terhadap produksi padi, bagaimana proses tersebut
berlangsung, bagaimana hubungan antara pemupukan denagn kesuburan
tanah, dimaan letak fung si penyediaan air terhadap pemupukan adan
kesuburan tanah serta hubungan antara pemupukan dengan kesuburan
tanah serta hubungan kamualitas lainnya. Kerangka penjelasan ini
dinamakan hipotesis. Hipotesis merupakan kerangka pemikiran sementara
yang mejelaskan hubungan antara berbagai faktor yeng membentuk suatu
kerangka permasalahan.
Pengajuan
hipotesisi ini di dasarkan kepada penalaran yang bersifat rasional.
Secara deduktif kita menyusun suatu kerangka pemikiran yang
mejelaskan kerangka permasalahan berdasarkan premis-premis yang telah
kita ketahui, di sinilah kunci yang memungkinkan penysunan ilmu yang
bersifat konsisten dan kumulatif. Karena dalam penalaran deduktif ini
ilmu mempergunakan yang sebelumnya telah diketahu secara ilmiah, maka
kontradiski dalam penalaran selanjutnya bida dihilangkan.
Ilmu
akan bersifat konsisten karena kerangka penjelasan yang berbentuk
hipotesis disusun di atas premis-premis secara konsisten. Demikian
juga ilmu bersifat kumulatif karena suatu kesimpulan baru yang di
dapat dari premis-premis yang mendukungnya akan berfungsi sebagai
premsi bariu bagi kegiatan penalaran lainnya. Sekiranya secara ilmiah
telah dibuktikan bahawa produksi padi dipengaruhi kesubura tanah
dipengaruhi oleh jasad renik dalam tanah, maka kita secara deduktif
dapat melakukan penalaran yang menghubugnakn antara produksi pada
idan kegiatan jasad renik dalam tanah.
Seperti
telah disebutkan di atas hipoteisi inii hanyalah bersifat kerangka
penjelasan semenatara. Mangapa demikian?
Masalah
ini dapat dikembalikan kepd ahakekat berpikir secara rasional, yakni
bahwa kesimpulan yang ditimbilkan tergantung kepada premis yang di
pergunakannya. Dalam suatu penalaran deduktif mengenai suatu kerangka
permasalahan pad adasarnya kita boleh memilih premis mana saja yang
tersedia dalam khazanah pengetahuan ilmiah untuk mendukung hipotesis
kita.oleh sebab itu maka adalah wajar bahw adalam meghadapi
permasalahan yang sama kita mungkin mengajukan beberapa hipotesis
yang berbeda. Dalam hal ini kita kembali kepada kelemahan berpikir
secara rasional seperti telah kita bahas dalam pembicaraan kita
sebelumnya. Jadi dalam hal ini kita dihadapkan-mukakan dengan suatu
dilema, pada suatu pihak, kita menginginkan adanya suatu kerangka
penjelasan yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelaumnya; di
pihak lain, proses penalaran secara deduktif dalam berpikir rasional
membuahkan beberapa hipotesis. Bagaimanakah kita keluar dari delima
yang membelenggu ini?
Metode
ilmiah memberi jalan ke luar dari kerumitan ini. Ilmu berpendapat
bahwa suatu kerangka pemikiran adalah benar jika kerangka pemikiran
tersebut didukung oleh fakta-fakta dalam dunia fisik yang nyata. Jadi
dalam hal ini kita kembali kepada cara berpikir empiris.
Menghadapi
bermacam-macam hipotesis yang diajukan dalam menjelaskan masalah yang
sama maka metode ilmiah hanya berkata: Tunjukkanlah buktinya dengan
fakta.
Menjembatani
penalaran secara rasional dengan pembuktian secara empiris
kadang-kadang membutuhkan suatu langkah perantara.
Dalam
dunia fisik yang nyata maka gejala yang dapat kita tangkap dengan
pancaincera biasanya bukan gejala langsung dari hipotesis yang kita
ajukan, nmamun konsekunesinya. Atau dengan langsung dari hipotesis
yang kita ajukan, namun konsekuensinya. Atau dengan perkataan lain,
kita mengamati gejaa tidaklangsung yang merupakan konsekuensi dari
hipotesis yang diajukan. Sekiranya kita mengajukan hipotesis bahwa
bumi berputasr mengelilingi matahari sedangkan bulan berputar
mengelilingi bumi maka pembuktian secara empiris seukar dilakukan
secara langsung, karena bagi tangkapan mata kita baik bulan maupun
matahari kelihatannya bergerak mengelilingi bumi. Oleh sebab itu maka
kita mengamati gejaa lain yang merupakan konsekuensi dari hubungan
tersebut di atas, umpamanya denga menghitung kecepataan bulan
mengelilingi bumi serta radius yang ditempuh bulan dalam mengelilingi
bui maka kita dapat menentukan secara tepat kapan bulan mulai terbit
pada tempat dan tanggal tertentu di muka bumi. Kalau ramalan yang
merupakan konsekuensi dari hipotesis tersebut benar, maka kita dapat
mengatakan bahwa hipotesis tersebut didukung oleh fakta. Langkah
tersebut di atas dinamakan deduksi dari hipotesis karena pada
daasrnya konsekuensi empiris yang kita ajukan didasarkan kepada
penalaran deduktif dari hipotesis tersebut. Jadi dalam penyusunan
hipotesis maupun deduksi dari hipotesis kita mendaasrkan diri pada
cara berpikir rasional.
Sampailah
kita pada langkah yang ke lima yang dinamakan pengujian hipotesis.
Pengujia hipotesis, atau secara lebih legnkap dapat kita namakan
sebagai pengujian konsekuensi hipotesis, merupakan usaha kita dalam
mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan deduksi hipotesis kita.
Jika hipotesis kita mendeduksikan bahwa matahari akan terbenam di
kota x dan pada tangggal y tepat pada jam z maka kita mengumpulkan
fakta apakah hal itu benar demikian atau tidak. Jika matahari memeang
terbenam pada jam z sebenarnya yang dideduksikan, maka kita menarik
kesimpilan bahwa promis yang mnedukungnya, yakni hipotesis yang kita
jukan, adalah benar.
Sekiranya
terjadi hal yang tidak benar, yaitu bahwa matahari tidak terbenam pad
awaktu telah diramalkan , maka hipotesis it harus ditolak sebab hasil
deduksinya meleset. Jadi pada hakekatnya kriteria untuk menentukan
apakah suatu hipotesis ityu benar atau tidak ialah kenyataan empiris
apakah hipotesis itu didukung oleh fakta atau tidak, kita boleh
mengajukan hipotesis apa saja dan berapa saja banyaknya, namun yanng
benar secara ilmiah hanyalah satu, yakni hipotesis yang bisa
memberikan bukti-bukti yang nyata yang dapat ditangkap oleh
pancaindera.
Jika
hipotesis kita benar, maka argumentasi yang dikemukakannya adalah
syah untuk diterima sebagai bahan isi khazanah ilmu. Artinya ilmu
kita telah bertambah maju selangkah dengan diketemukannya pengetahuan
baru. Penemuan tersebut dapat berupa dari teori yang sudah ada,
tergantug dari premis yang dipergunakannya serta ujud penemuannya.
Dengan demikian maka ilmu disusun secara sistemnatis dengan berbagai
hierarki yang lain-menjalin secara logis. Pengatahuan baru
d\itepatkan secara kumulatif pad atempat yang sesuai dan dengan
demikian maka ilmu secara terarah terus berkembang. Inilah kelebihan
ilmu dari pengetahun-pengetahan yang lainnya, yang menyebabkan
kamajuan ilmu yang pesat di berbagai bidang.
Singkatnya
metode ilmiah dapat dideskripsikan dalam lagnkah-lagnkah sebagai
berikut:
(1)
Penemuan atau Penentuan masalah. Di sini secara sadar kita menetapkan
masalah yang akan kita telaah denga ruang lingkup dan
batas-batasanya. Ruang lingkup permasalahan ini harus jelas. Demikian
juga batsan-batasannya, sebab tanpa kejelasan ini kita akan mengalami
kesukaran dalam melangkah kepada kegiatan berikutnya, yakni perumusan
kerangka masalah;
(2)
Perumusan Kerangka Masalah merupakan usaha untuk mendeskrisipakn
masalah dengan lebih jelas. Pada langkah ini kita mengidentifikasikan
faktor-faktor yang terlibat dalam masalah tersebut. Faktor-faktor
tersebut membnatuk suatu masalah yang berwujud gejala yang sedang
kita telaah;
(3)
Pengajuan hipotesis merupakan usaha kita untuk memberikan penjelasan
sementara menganai hubungan sebab-akibat yang mengikat faktor-faktor
yang membentuk kerangka masalah tersebut di atas. Hipotesis ini pada
hakekatnya merupakan hasil suatu penalaran induktif deduktif dengan
mempergunakan pengetahuan yang sudah kita ketahui kebenarannya.
(4)
Deduksi dari Hipotesis merupakan merupakan langkah perantara dalam
usaha kita untuk menguji hipotesis yang diajukan. Secara deduktif
kita menjabarkan konsekuensinya secara empiris. Secara sederhana
dapat dikatakan bahwa deduksi hipotesis merupakan identifikasi
fakta-fakta apa saja yang dapat kita lihat dalam dunia fisik yang
nyata, dalam hubungannya dengan hipotesis yang kita ajukan.
(5)
Pembuktian hipotesis merupakan usaha untuk megunpulkan fakta-fakta
sebagaimana telah disebutkan di atas. Kalau fakta-fakta tersebut
memag ada dalam dunia empiris kita, maka dinyatakan bahwa hipotesis
itu telah terbuksi, sebab disukung oleh fakta-fakta yang nyata. Dalam
hal hipotesis itu tidak terbukti, maka hipotesis itu ditolak
kebenarannya dan kita kembali mengajukan hipotesis yang lain, sampai
kita menemukan hipotesis tertentu yang didukung oleh fakta.
Langkah-langkah dalam Metode Ilmiah
(6)
Penerimaan Hipotesis menjadi teori Ilmiah hipotesis yang telah
terbuksi kebenarannya dianggap merupakan pengetahuan baru dan
diterima sebagai bagain dari ilmu. Atau dengan kata laian hipotesis
tersebut sekarang dapat kita anggap sebagai (bagian dari) suatu teori
ilmiah dapat diartikan sebagai suatu penjelasan teiretis megnenai
suatu gejala tertentu. Pengethuan ini dapat kita gunakan untuk
penelaahan selanjutnya, yakni sebagai premis dalam usaha kita untuk
menjelaskan berbagai gejala yang lainnya. Dengan demikian maka proses
kegiatan ilmiah mulai berputar lagi dalam suatu daur sebagaimana yang
telah ditempuh dalam rangka mendapakan teori ilmiah tersebut.
Keseluruhan
lngkah ini harsu ditempouh agar suatu penelaahan dapat disebut
ilmiah. Meskipun langkah-langkah tersebut tersusun dalam urutan yang
teratur, di maan secara konseptual lagnkah yang satu merupakan
persiapan bagai langkah yang lkainnya, namun dalam prakteknya sering
terjadi penyimpangan. Umpamanya saja dari langkah pertama melompat ke
langkah ketiga kenudian kembali ke langkah kedua lalu kelangkah
ketiga lai dan seterusnya. Hubungan antara langkah-langkah ini tidak
bersifat atatis, malinkan dinamis; langkah yang satu menjelaskan
langkah-langkah yang lainnya. Dengan jalan ini maka ditemukanlah
pengatahuan-pengetahuan yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya
dan didukung oleh fakta-fakta di sekelilingnya kehidupan kita.
B.
KEGUNAAN TEORI ILMIAH
Kalau
kita lihat ujud ilmu pada dewasa ini, maka ilmu merupakan kumpulan
pengetahuan dalam berbagai bentuk yang berupa asas, kaidah, hukum dan
sebagainya. Kumpulan pengetahuan ini membnetuk suatu teori ilmiah
yang konsisten dan sistematis. Kumulan pengetahuan ini makin
berkembang denagn adanya kagiatan penelitain ilmiah. Suatu hipotesis
yang 69telah teruji kebenarannya secara ilmiah akan meambah
perbendaharaan pengetahuan kita. Berarti bahwa selagnkah lagi ilmu
telah melangkahkan kaki.
Kegiatan
penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan baru
dinamakan murni. Penelitian murni bertujuan untuk menggambarkan
pengetahuan dengan jalan menyelidiki hal-hal yang sebelumnya pernah
terjamah. Berdasarkan kumpulan pengetahuan yang telah ada maka si
peneliti mulai menyelidiki berbagai masalah baru yang menarik
perhatiannya. Keadaan ini mengingatkan kita kepada satu hal, yakni
bahwa si peneliti tersebut tidak lagi mulai dari nol. Di hadapan dia
telah tersusun pengetahuan yang bida dia pergunakan untuk memecahkan
masalah tersebut. dalam menyusun hipotesis ia tidak usah
berpayah-payah lagi mempergunakan premis-premis yang belum tentu
kebenarannya, melainkan dapat mempergunakan dalam penalaran deduktif
hipotesisnya sudah terbukti kebenarannya, dua, penemuan yang
didapatnya akan bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnys
katena bertumpu pada premis-premis yang telah ada. Jadi fungsi teori
ilmish yang ada pada dasarnya merupakan sumber bagi kerngka penalaran
dalam menysun hipotesis.
Teori
ilmiah juga mempunyai fungsi yang samadalam kehidupan kita
sehari-hari. Sekiranya dalam kehidupan ini kita lakukan? Sebagai
manusai yang berakal tentu saja kita mulai berpikir. Kegiatan
berpikir ini pada hakekatnya merupakann kegiatan penalaran untuk
menguasai masalah yang dihadapi dan mancari pemecahannya. Langkah
pemecahan masalah tersebut pada hakekatnya mempunyai du atahap, yakni
memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk memecahkan masalah itu
dan melaksanakan pola pemikiran tersebut. Tahap yang pertama adalah
sinonim dengan pengajuan hipotesis, sedangkan tahap kedua adalah
sinonim dengan pengujian. Bukankah pemikiran yang diajukan tidak
selalu bisa memecahkan masalah secara faktual.
Kalau
pola pemikiran yang diajukan dilaksanakan ternayata tidak memecahklan
masalah yang sebenarnya, maka kesalkahannya mungkin terletak dalam
pola pikiran yang telah disusun. Atau dapat dikatakan bahwa hipotesis
yang diajukan ternyata tidak benar. Kita kembali menyusun hipotesis
baru mempunyai peluan yang lebih besar unuk dapat memecahkan
persoalan. Hal yang ingin dikembangkan dalam kesempatan ini adalah
bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun ilmu berfungsi sebagai sumber
pengetahuan bagi pemecahan masalah yang kita hadapi.
Fungsi
teori ilmiah dalam kehidupan kita sehari-hari ini sering kita
lupakan. Kadang-kadang kita menganggap bahwa ilmu hanya berfungsi
dalam laboratorium atau dalam penelaahan-penelaahan yang bersifat
kaiolmuan. Justru inilah sebenarnya fungsi ilmu yang utama, yakni
membantu menusai dalam memecahkan masalah kehidupannya. Dalam hal
memberantas penyakit maka ilmu kedokteran memberikan jawabannya.
Dalam meghadapi masalah pengangkatan maka ilmu, mengambangkan
bebragai sasarn, seperti mobil dan pesawat terbang yang memepermudah
perjalanan.
Jadi
ternyata bahwa ilmu tidak dikembangkan demi pengetahuan itu sendiri,
melainkan sebagai pembantu manusia dalam kehidupannya.
Manusia
dikenal sebagai homo faber, yakni mahluk yang dmembuat peralatan yang
memberian kemudahan bagi manusai dalam mnciptakan tujuannya. Kita
mempergunakan satelit untuk memudahkan kegiatan komunikasi. Manusai
mempergunakan teknologi dalam membangun peradabannya. Inilah yang
membedakan di adari mahluk lainnya. Apakah yang memungkinkan mansaui
untuk megnambangkan teknologi?
Jawabnya
adalah ilmu yang berhasil dikemabankan manusia dapat mengambangkan
teknologi. Tanpa ilmu maka teknologi tak mungkin dapat berkembang,
sebab teeknologi merupakan penerapan ilmu. Yanpa mengathui berbagai
teori mekanika, termodinamika, elektromagnetika, dan sebagainya, kita
tak mungkin membikin mobil. Pembuatan dan peluncuran satelit jelas
membutuhkan ilmu yang sangat maju. Ilmu merupakan landasan bagi
kemajuan teknologi manusai. Penelitain yang bertujuan untuk
memanfaatkan ilmu bagi kepentingan praktis manusai dinamakan
penelitain terapan.
Dalam
membantu memecahkan masalah yang dihadapi mansuai ilmu mempunyai dua
fungsi. Fungsi yang pertama adalah menyusun penalaranbagaimana cara
memecahkan mnasalah tersebut. Fungsi yang kedua adalah megnambangkan
peralatan yang membantu pelaksanaan pemecahan masalah tadi. Kedua
fungsi ini patut disadari sedalam-dalamnya, karena bukan saja kedua
fungsi ini patut disadari sedalam-dalamnya, karena bukan saja kedau
fungsi ini vital dalam kehidupan manusai tetapi keduanya juga
bersifat jalin-menjalin. Kita telah sering mendengarkan tentang
kegelapan yang dialami beberap atahuan dalam mempergunakan teknologi
medern untuk membangun negaranya. Dengan jalan mengimpor teknologi
dari luar negeri maka beberapa negara tertentu mencoba mengejar
keterbelakangannya. Hasilnya sudah sering kita dengar: kegagalan yang
sangat ironis, gejala yang sungguh unik dalam era kamajuan ilmu dan
teknologi sekarang ini.
Sebenarnya
hal ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Teknologi pada hakekatnya
adalah alat yang dapat membantu manusia dalam fase pelaksanaan untuk
mencapai suatu tujuan. secara ilmiah maka tahap pelaksanaan ini harus
didahului oleh fase penalaran yang mencakup pola pemikiran yang akan
dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut. Seseorang yang
penalarannya menyimpulkan bahwa gejala sakit disebabkan oleh hal-hal
yang gaib, jelas dalam pelaksanaanya tidak akan datang ke dokter
untuk minta disuntuk. Teknologi yang dipergunakan konsisten dengan
kegiatan penalaran. Seorang yang berpikir dengan mempergunakan
premis-premis non-ilmiah dalam penalarannya, barang tentu akan
berpaling kepada teknologi yang non-ilmuah pula, seperti dukun dengan
segenaop peralatannya.
Inilah
salah satu hal yang disadari sedalam-dalamnya oleh negara-negara yang
sedang berkembang dalam mengammbangkan teknologinya. Pengambangan
teknolog bukan saja harus didukung oleh pengetahuan menganai
teknologi tersebut, tetapi yang lebih penting harus didukung oleh
cara berpikir yang berorientasi kepada ilmu. Sikap ilmiah ini harus
tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari: dalam megnhadapi masalah
pribadi keluargam, masyarakat, negara, dan sebagainya. Tanpa
megambangkan sikap ilmiah ini mala ilmu dan teknologi hanya merupakan
pajangan yang tidak berarti.
Demikian
juga halnya dengan pendidikan kailmuan tanpa sikap dan kiblat
keilmuan ini. Jika seseorang mengagapteori ilmiah sekedar kumpulan
pengetahuan yang tidak mempunyai manfaat praktis dalam kehidupan
sehari-hari, lalu baut apaa dia mengumpulkan sebanyak itusekiranya
dalam kegiatan berpikirnya dia tidak memergunaan metode ilmiah, dia
berpikir murni secara rasional, atau murni secara empiris apakah
kegnaan pendidikan keilmuan? Masalah ini kelihatannuya sederhaan
namun implikasinya sangat jauh. Jika ilmu hanya dianggap sebagai
kumpulan pengatahuan teiretis yang hanya dianggap sebagai kumpulan
pengetahuan seoretis yang hanya harus dihafal dan tidak fungsional
secara praktis, maka ilmu telah kehilanan fungsi yang sebeanrnya.
Jika seseorang mendapat pendidikan kailmuan, namun dalam cara
perpikir dan menalar dia berorientasi kepada pengathua lain, jleas
bahwa pendidikan dan menalar dia berorientasi kepada pengatahuan
lain, jelas bahwa pendidikan iotu tidak mengenai sasarannya.
Kiranya
jelas bahwa kegunaan ilmu dalam kehidupan kita sehari-hari
membutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh. Tanpa pengetahuan
menganai hal itu dan kesadaran untuk melaksanakannya maka ilmu tak
banyak berdaya denagn pengahaun lainnya. Dalam hal ini dapat kita
katakan bahwa ilmu tidak lagi fungsional melainkan disfungsional.
Ilmu menjadi disfungsional karean dua hal. Pertama, karena kita tidak
mengetahui fungsi ilmu yang sebenarnya. Kedua, karena terdapat
cara-cara dan pengetahuan-pengetahuan lain yang kebenarannya lebih
dapat dipercayai. Hal yang pertama merupakan masalah pendidikan,
sedangkan hal yang kedua merupakan masalah kebudayaan.
C.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ILMU
Dibandingkan
dengan pengetahaun lain maka ilmu berkembang dengan sangat cepat.
Salah satu faktor utama yang mendorong perkembangan ini ialah faktor
Sosial dari komunikasi ilmiah yang membuat penemuan indivisual segera
diketahui dan dikaji oleh anggota masyarakat ilmuwan dalam bentuk
majalah, buletin, jurnal, micro film, telex, dan sebagainya sangat
menunjang intensitas kaminikasi ini. Suatu penemuan baru di negara
yang satu segera diketahui oleh ilmuwan di negara-negara lain.
Penemuan ini segera dapat diteliti kebenarannya oleh kalangan ilmiah
karena prosedur untuk menilai kesahihan (validity) pengetahuan
tersebut sama-sama telah diketahui dan disetuji oleh seluruh kalangan
ilmuwan. Percobaan ilmiah selalu harus dapat diulang dan sekiranya
dalam pengulangan tersebut ternyata pernyaan didukung oleh fakta maka
kalangan ilmiah secara tuntas menerima kebenaran pengetahuan
tersebut.
Seluruh
kalangan ilmiah mengaggap permasalahan mengenai hal tersebut telah
selesai dan ilmu mandapatkan pengetahuan baru yang diterima oleh
masyarakat ilmuwan. Dengan demikian maka ilmu berkembang dengan pesat
dalam dinamika yang dipercepat karena penemuan yang satu akan
menelorkan penemuan yang lainnya. Hipotesis yang telah teruji
kebenarannya segera manjadi teori ilmiah yang kemudian digunakan
sebagai premis dalam teori ilmiah yang kemudian digunakan sebagai
premis dalam mengembangkan hipotesis-hipotesis selanjutnya. Secara
kumulatif maka teori ilmiah berkembang sepertipi ramide terbalik yang
makin lama makin tinggi.
Ilmu
juga bersifat konsisten karena penemuan yang satu didasarkan pada
penemuan-penemuan sebelumnya. Sebenarnya hal ini tidak seluruhnya
benar, karena sampai saat ini belum satu pun daru seluruh disiplin
keilmuan yang berhasil menyusun satu teori yang konsisten dan
menyeluruh. Bahkan dalam fisika, yang merupakan pototipe bidang
keilmuan yang relatif paling maju, satu teori yang mencakup segenap
dunia fisik kita belum dapat dirumuskan. Usaha untuk menyatukan teori
relativitas umum, elektrodinamika dan kuatum sampai saai ini belum
dapat dilaksanakan. Teori ilmiah masih merupakan penjelasan yang
besifat sebagai dan tentatif sesuai dengan tahap jalur perkembangan
kailmuan yang masih sedang berjalan demikian juga dalam jalur
perkembangan ini belum dapat dipatikan bahwa kebenaran yang sekarang
diterima oleh keilmuan yang masih sedang berjalan.demikian juga dalam
jalur perkembangan ini belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang
sekarang diterima oleh kalangan ilmiah akan benar pula di masa
datang. sejarah ilmu telah mencatat betapa banyak kebenaran ilmiah di
masa lalu yang sekarang ini tidak dapat diterima lagi karena manusia
telah menemukan kebenaran lain yang ternayata lebih dapat diandalkan.
Sifat pragmatis inilah yang sebenarnya merupakan kelebihan dan
sekaligus kekurangan ilmu.
Sikap
pragmatis dari ilmu adalah gogok dengan perkembangan peradaban
manusia; telah terbukti secara nyata peranan ilmu dalam pembangunan
peradaban tersebut. Ilmu, terlepas dari berbagai kekurangannya dapat
memberikan jawaban positif terhadap permasalahan yang dihadapi
manusia pada suatu waktu tertentu. Dalam hal ini maka penilaian
terhadap ilmu tidaklah terletak dalam kesajhihan teorinya sepanjang
zaman, malainkan terletak dalam jawaban yang diberikannya terhadap
permasalahan manusia dalam abad kedua puluh ini kita mempergunakan
berbagai ragam teknologi seperti mobil, pesawat terbang dan kapal
laut sebagai sarana pengangkutan kita berdasarkan pengetahuan yang
kita terima kebenarannya sekarang ini. Dikemudian hari mungkin saja
ditemukan sarana pengangkutan lain yang cocok dengan peradaban waktu
itu yang pembuatannya didasarkan atas pengetahuan baru yang akan
mengusangan pengetahuan yang sekarang kita anggap benar tersebut.
Bagi tahap peradaban kita sekarang ini maka semua itu tidak menjadi
soal, karena penerapan pengetahuan ke dalam masalahnya tentunya akan
lain lagi bila hal ini dihubungkan dengan pengetahuan yang bersifat
mutlak. Manusai dalam manghadapi masalah yang sangat hakiki seperti
Tuhan hari kemudian tidak bisa lagi mendasarkan diri pada
pernyataan-pernyataan ilmiah yang bersifat pragmatis ini. Diinginkan
sesuatu yang bersifat mutlak yang tidak berubah dari waktu ke waktu
sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Dalam hal ini maka ilmu
tidak dapat memberikan jalan ke luar dan manusia harus berpaling
kepada sumber lain umpamanya agama. Secara ontolologi Ilmu tidak
berwenang untuk menjawabnya, sebab hal itu berada di luar lingkup
pengalaman manusia. Di luar bidang empiris ilmu tidak bisa mengatakan
apa-apa. Sedangkan dalam batas kewenangannya ini pun ilmu bukannya
tanpa cela, antara lain karena manusia yang jauh dari sempurna.
Walaupun
demikian kekurangan ini bukan hanya merupakan alasan untuk menolak
eksistensi ilmu dalam kehidupan kita. Justru ilmu merupakan
pengetahuan yang telah menunjukkan keampuhannya dalam membangun
kemajuan peradaban seperti yang kita lihat sekarang ini. Kekurangan
dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakan
ilmu dalam tempat yang sewajarnya sebab hanya dengan sikap itulah,
kita dapat memanfaatkan kegunaannya semaksimal mungkin bagai
kemaslahatan manusia. Dalam mengatasi segalanya harus kita sadari
bahwa ilmu dengan picik berbati kita menutup mata terhadap semua
kemajuan masa kini, yang dintandai oleh kenyataan bahwa hampir semua
aspek kehidupan modern dipengaruhi ilmu dan teknologi.
Sebaliknya
dengan jalan mendawa dawakan ilmu kitab pun gagal untuk mendapatkan
pengertian mengenai hakikat ilmu yang sesungguhnyuya. Mereka yang
sungguh-sungguh berilmu adalah mereka yang mengetahui kelebihan dan
kekurangan ilmu, dan menerimanya sebagaimana adanya, mencintainya
dengan bijaksana, serta menjadikan dia bagian dari kepribadiannya dan
kehidupannya seperti seni dan agama, ilmu melengkapi kehidupan dan
memenuhkan kebahagiaan kita. Tanpa kesadaran itu, maka kita hanya
kembali kepada ketidaktahuan dan kegersangan seperti disyairkan Byron
dalam Manfred, bahwa pengetahuan tak membawa kita kekebahagiaan dan
ilmu tak lebih dari sekedar bentuk lain dari ketidaktahuan......…
D.
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Untuk
melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir.
Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan
ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sara berpikir ilmiah ini
merupakan suatu hal bersipat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa
menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Sarana
ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah
dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu
biasanya diperlukan sarana yang tertntu pula. Oleh sebab itulah maka
sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya
kita telah meguasai langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah tersebut.
Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakekat sarana yang
sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang membantu kita dalam
mencapai suatu tujuan tertentu, tanpa dengan kata lain, sarana ilmiah
mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah segara
menyeluruh.
Sarana
berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang
studi tersendiri. Artinya kita mempelajari berbagai cabang ilmu.
Dalam hal ini kita harus memperhatikan dua hal. Pertama, sarana
ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sara ilmiah itu
merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan bedasarkan metode
ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara ciri-ciri ilmu
umpamanya adalah penggunaan induksi dan deduksi dalam mendapatkan
pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini
dalam mendapatkan pengetahuannya.
Secara
lebih tuntas dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai metode tersendiri
dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan sarana berpikir
ilmiah. Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah secara baik,
sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan
pengetahuan yang memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara
baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan
pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita
sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat
bagi cabang-cabang pengetahuan untuk megembangkan materi pengetahuan
berdasarkan metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik,
jelaslah sekarang kiranya mengapa cara berpikir ilmiah mempunyai
metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan
pengetahuannya, sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses
metode ilmiah dan bukan merupakan ilmu itu sendiri.
Untuk
dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan
sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika. Bahasa
merupakan alat komunukasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses
berpikir ilmiah. Bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi
untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Ditinjau
dai pola berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara pikiran
deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah
menyandarkan diri pada proses logika deduktif dan logika induktif.
Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif ini
sedangkan statistika mempunyai peranan yang penting dalam pemikiran
induktif. Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita
menguasai metode penelitian ilmiah yang dapat hakekatnya kita
menguasai
metode
fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan
berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana
berpikir ini dengan baik pula.
Salah
satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar
peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan
proses berpikir ilmiah tersebut. Sebagai resume dari pengkajian kiat
mengenai hakekat sarana berpikir ilmiah, peranan masing-masing sarana
berpikir tersebut disajikan dalam bagan berikut ini.
6.
SEJARAH FILSAFAT
A.
TONGGAK AWAL KEHADIRAN FILSAFAT ILMU
Yunani
adalah tonggak kelahiran filsafat ilmu dan juga kiblat dari segala
ilmu. Pada abad ke-5 SM, seorang Sophist di Yunani menanyakan
kemungkinan reliabilitas dan objektivitas ilmu. Lalu seorang Sophist
bernama Georgias berpendapat bahwa tidak ada yang benar – benar
wujud, karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui, dan jika ilmu
bersifat nisbi, tidak dapat dikomunikasikan. Seorang Sophist lainnya,
yaitu Protagoras berpandangan bahwa tidak ada satu pendapat pun yang
dapat dikatakan lebih benar dari yang lain, karena setiap pendapat
adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang
dilaluinya. Pendapat pertama, lebih menyangkal hadirnya kebenaran
yang nisbi, sedangkan pendapat yang kedua sesungguhnnya menolak
hadirnya kebenaran tunggal. Filsafat ilmu juga mengurai adanya
kebenaran tunggal dan plural secara mendasar.
Keraguan
para ilmuwan terdahulu memang tidak selamanya tepat. Tugas ilmuwan
berikutnya adalah mendudukkan persoalan agar lebih bermakna. Plato,
mengikuti ustadznya Socrates, mencoba untuk menjawab keraguan para
Sophist meperumpamakan keberadaan alam semesta yang bersifat tetap
dan bentuk – bentuknya yang tak terlihat, atau ide – ide, yang
melaluinya ilmu pasti dan tetap.
Sementara
jika mengandalkan indera-persepsi akan menghasilkan pendapat –
pendapat yang inkonsisten dan mubham (meragukan atau tidak dapat
dipertanggugjawabkan) Aristoteles mengikuti Plato mengenai ilmu
abstrak adalah ilmu yang lebih ahli atas ilmu – ilmu yang lainnya,
namun tidak setuju dengan metode dalam mencapainya. Aristoteles
berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari pengalaman. Mahzab
Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu
pengetahuan bersumber dari indera-persepsi. Akan tetapi kedua mahzab
itu menentang keduanya gagasan Aristoteles dan Plato yang
berpandangan bahwa filsafat harus dinlai sebagai sebuah bimbingan
praktis untuk menjalani hidup. Mereka berpendapat sebaliknya bahwa
filsafat adalah akhir dari kehidupan.
Aquinas
seorang filsuf dan teologitali pada abad ke-13 mengungkapkan bahwa
sudah berupaya mensintesiskan keyakinan Nasrani dengan ilmu
pengetahuan dalam cakupan yang lebih luas. Dia memanfaatkan sumber –
sumber beragam seperti karya – karya filsuf Aristoteles,
cendekiawan Muslim dan Yahudi untuk menyusun dasar – dasar
keilmuan. Pemikiran Aquinas pada masa – masa awal itu sangat
memengaruhi perkembangan teologi Nasrani dan kosmos filsafat barat.
Para pemikir barat, sering bercampuraduk antara ilmu dan agama.
Seiring perkembangan pemikiran, teolog sering bersinggungan dengan
filsafat.
France
Bacon dengan metode induksi yang ditampilkannya pada abad 19 dapat
dikatakan sebagai peletak dasar fisafat ilmu khazanah bidang filsafat
secara umum. Namun, sebenarnya filsafat ilmu meluas pada abad ke-20.
Sebagian ahli filsafat berpandangan bahwa perhatian yang besar
terhadap peran dan fungsi filsafat ilmu mulai mengedepan tatkala ilmu
pengetahuan dan teknologi (Iptek) mengalami kemajuan yang sangat
pesat. Dalam hal ini, ada semacam kekhawatiran yang muncul pada
kalangan ilmuwan dan filsuf, termasuk juga kalangan agamawan, bahwa
kemajuan iptek dapat mengancam eksistensi umat manusia, bahkan alam
beserta isinya.
Para
filsuf mulai muncul lantaran melihat perkembangan iptek berjalan
terlepas dari asumsi – asumsi dasar filsufnya seperti landasan
ontologi, epistemologis dan aksiologis yang cenderung berjalan
sendiri – sendiri. Untuk memahami gerak perkembangan iptek yang
sedemikian itulah, maka kehadiran filsafat ilmu sebagai pada awal
pertumbuhannya sebagai upaya meletakkan kembali peran dan fungsi
iptek sesuai dengan tujuan semula, yakni mendasarkan diri dan menaruh
perhatian khusus terhadap kebahagiaan umat manusia. Setelah kurangnya
ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik, filsuf skolatik,
Aquinas dan beberapa filsuf abad pertengahan berusaha membantu utuk
mengembalikan konfidensi terhadap rasio dan pengalaman, mencampur
metode – metode rasional dengan iman dalam sebuah sistem keyakinan
integral.
Filsafat
ilmu semakin kompleks. Struktur ilmu pun juga berubah seiring dengan
perkembangan masyarakat. Suatu perspektif tertentu dipakai tidak
hanya satu disiplin ilmu, artinya bisa jadi beberapa disiplin ilmu
memakai objek formal 4yang sama. Maka bisa dipahami, pernyataan
Qomaruddin Hidayat, bahwa ilmu – ilmu yang pada awalnya merupakan
anak cabang dari filsafat, dewasa ini ilmu – ilmu yang sudah
menjadi dewasa, bahkan beranak-cucu ini cenderung mengadakan “reuni”,
dalam hal ini disebut reunifikasi. Karena itu dengan filsafat ilmu,
beberapa disiplin ilmu ternyata bisa “pulang-kembali”
(dikelompokkan) pada pola pikir (epistemologi) yang sama.
Struktur
fundamental juga bisa dipahami sebagai „kerangka‟ paradigma
keilmuan (asumsi filsuf. Sebagaian besar penelitian keilmuan
merupakan usaha terus – menerus untuk menafsirkan dan memahami
seluk-beluk alam lewat kerangka kerja teoritik yang disusun terlebih
dulu oleh ilmuwan/ peneliti. Teori – teori yang fundamentalah yang
lebih memerankan peran yang sangat berarti di dalam menentukan arti
data yang sedang diteliti. Arti penting data – data yang
terkumpulkan dari lapangan akan segera berubah maknanya ketika
revousi ilmu pengetahuan terjadi. Tema – tema yang paling penting
dalam filsafat ilmu baru adalah penekannanya pada penelitian yang
berkesinambungan dan bukannya hasil – hasil yang diterima sebagai
inti pokok kegiatan ilmu pengetahuan. Tahap berpikir yang dilandasi
teori, keraguan, logika, dan rasionalitas itulah gema filsafat ilmu.
B.
SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU
Pemikiran
filsafat ilmu banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Secara periodisasi
filsafat ilmu barat adalah zaman kuno, zaman abad pertengahan, zaman
modern dan masa kini. Periodisasi filsafat ilmu Cina adalah zaman
kuno, zaman pembauran, zaman neokonfusionisme dan zaman modern dan
dikenal dengan sebutan periode weda, biracarita, sutra – sutra dan
skolastik. Yang terpenting dalam filsafat ilmu India adalah bagaimana
manusia berteman dengan dunia bukan untuk menguasai dunia. Sedangkan
filsafat ilmu Islam dikenal dengan periode mutakalimin dan filsafat
ilmu Islam.
Perkembangan
ilmu pengetahuan berlangsung secara bertahap dan berkembang
berdampingan dengan agama. Sejarah perkembangan ilmu terbagi secara
periode, yakni :
1)
Zaman Pra Yunani Kuna (zaman batu), pada abad VI SM muncul lahirnya
filsafat sehingga orang mencari jawaban rasional tentang problem alam
semesta.
2)
Zaman Yunani Kuno, pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk
mengungkapkan ide.
3)
Masa Helinistis Romawi. Pada masa ini muncul beberapa aliran yaitu :
-
Stoisisme, segala kejadian menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari.
-
Epikurisme, segalanya terdiri dari atom – atom.
-
Skepisisme, bidang teoretis manusia tidak mampu mencapai kebenaran.
-
Eklektisme, pengambilan unsur filsafat dari aliran – aliran lain tanpa berhasil mencapi suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
-
Neoplatoisme, paham yang ingin menghidupkan kembali
filsafat
Plato.
4)
Zaman Abad Pertengahan, mengalami 2 periode yakni:
a.
Periode Patrikis mengalami tahap: permulaan agama Kristen dan
filsafat Agustinus.
b.
Periode Skolastik menjadi 3 tahap yakni; periode awal, periode
puncak, dan periode akhir.
5)
Zaman Renaissance, zaman peralihan menjadi kebudayaan modern.
6)
Zaman Modern, ditandai dengan berbagai penemuan ilmiah.
7)
Zaman kontemporer (abad XX dan seterusnya).
Perkembangan
filsafat ilmu, antara ontologi, epistemologi, aksiologi seiring tidak
seimbang. Ilmu pengetahuan terbentuk dengan beberapa tahap dan
periode – periode perkembangan sebagai berikut :
1)
Abad ke-4 SM, peninggalan – peninggalan menggambarkan ilmu
pengetahuan mulai ditemukan. Pada abad ini terjadi pergeseran dari
persepsi mitos ke persepsi logos atau rasional. Aristoteles adalah
tokoh yang terkenal pada periode ini. Pandangan Aristoteles yang
dapat dikatakan sebagai awal dari perintisan “ilmu pengetahuan”
adalah hal – hal sebagai berikut:
a.
Pengenalan, terbagi menjadi 2 (dua) macam yakni: pengenalan indrawi
yaitu pengetahuan tentang hal – hal konkret dari suatu benda, dan
pengenalan rasional.
b.
Metode. Metode untuk mengembangkan ilmu pengetahuan ada 2 (dua) yakni
: induksi intuitif yaitu penyusunan hukum yang berasl dari fakta, dan
dedukasi (silogisme) yaitu pengetahuan universal menuju fakta –
fakta.
2)
Abad 17 sesudah Masehi, pada periode yang kedua ini terjadi revolusi
ilmu pengetahuan karena adanya perombakan total dalam cara berpikir.
Apabila Aristoteles cara berpikirnya bersifat ontologis rasional,
sedangkan Gallileo Gallilei (tokoh pada abad 17 sesudah masehi) cara
berpikirnya bersifat analisis. Abad 17 meninggalkan cara berpikir
matafisi ( apa yang berada di balik yang Nampak atau apa yang ada di
balik fenomena) dan
beralih
ke elemen – elemen yang terdapat pada suatu benda, jadi tidak
mempersoalkan hakikat.
Sejak
abad 17, ilmu pengetahuan berpijak pada prinsip – prinsip yang kuat
yaitu jelas dan terpilah – pilah serta di satu pihak berpikir pada
kesadaran, dan pihak lain berpihak pada materi, dilihat dari
pandangan Rene Descartes (1596-1650) dengan ungkapan Cogito Ergo Sum
yang artinya karena aku berpikir maka aku ada. Untuk mencapai sesuatu
yang pasti menurut Descartes kita harus ragukan apa yang kita amati,
karena melalui keraguan akan menimbulkan kesadaran. Prinsip ilmu
pengetahuan satu pihak berpikir pada kesadaran dan pihak lain
berpijak pada materi juga dapat dilihat dari pandangan Immanuel Kant
(1724-1808), bahwa ilmu pengethuan itu bukan merupakan pengalaman
terhadap fakta, tetapi merupakan hasil konstruksi oleh rasio dan
berpendapat bahwa pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada
objek.
Menurut
Syadali (1997) rasionalisme sangat bertentangan dengan empirisme.
Rasionalisme adalah faham atau aliran yang berdasarkan rasio, ide –
ide yang masuk akal. Pengalaman nyata, itu hanyalah fotokopi dari
sebuah ide. Namun, realitas keilmuan tidak selalu demikian. Oleh
sebab itu, dalam mencari kebenaran, filsafat ilmu tidak
mempermasalahkan paham tersebut, yang terpenting adalah ada
kontinuitas, tidak saling bertentangan antar paham. Filsafat ilmu
sebagai induk keilmuan tidak akan kehilangan jejak ketika menempatkan
ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu menjadi fondasi berpikir tentang ilmu
pengetahuan.
C.
INDUK PERTUMBUHAN FILSAFAT ILMU
Induk
pertumbuhan filsafat ilmu jelas bersal dari ilmuwan besar yaitu
Plato, filsuf pertama yang mengemukakan epistemologi dalam filsafat
ilmu. Filsuf Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi
adalah Aristoteles. Pemikiran Plato dan Aristoteles memang sering ada
perbedaan. Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles
dibandingkan pada table dibawah ini.
|
Topik
Pemikiran
|
Plato
|
Aristoteles
|
|
Pandangan
tentang dunia
|
Ada
dua dunia: Dunia ide & dunia sekarang (Semu).
|
Hanya
satu dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani.
|
|
Kenyataan
Yang sejati
|
Ide-ide
yang berasal dari dunia ide.
|
Segala
sesuatu yang ada dialam yang dapat di ditangkap indra.
|
|
Pandangan
tentang manusia
|
Terdiri
dari badan dan jiwa abadi ; badan fana (tidak abadi)
|
Bdan
dan jiwa sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
|
|
Asal
pengetahuan
|
Dunia
ide. Namun tertanam didalam jiwa yang ada didalam diri manusia.
|
Kehidupan
sehari-hari dan alam dunia nyata.
|
|
Cara
pendapatan pengetahuan
|
Mengeluarkan
dari dalam diri (anamnesis) dengan metode bidan.
|
Obsevasi
dan abstaksi, di olah oleh logika.
|
Antara
abad 17 hingga akhir abad ke-19, masalah utama yang muncul dalam
pembahasan epistemologi adalah resistensi antara kuu rasionalis
vis-à-vis kubu empiris (indrawi-persepsi). Descartes orang yang
pertama kali memperkenalkan metode sangsi dalam investigasi terhadap
ilmu pengetahuan disebut juga sebaga Bapak Filsafat Modern. Dia
menggunakan metode sangsi
dalam
menyikapi berbagai fenomena atau untuk menyerap ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan seperti dapat diramal, disipakan teorinya dahulu,
diuat hipotesis, dan akhirnya dijawab sendiri dengan asumsi –
asumsi kritis.
Empirisme
pertama kali dprkenalkan oleh filsuf dan negarawan Inggris Francis
Bacon pada awal – awal abad ke-17, akan tetapi gagasan itu
dikembangkan oleh John Locke yang memandang seseorang pada waktu
lahirnya ibarat tabula rasa, kosog tanpa isi, lingkungan dan
pengalamanlah yang menjadikannya berisi. Gagasan ini, jelas mengikuti
paham empiris, bahwa pengalaman hidup yang membentuk keimuan
seseorang. Penglaman indrawi menjadi sumber pengetahuan bagi manusia
dan cara mendapatkannya tentu saja lewat observasi serta pemanfaatan
seluruh indra manusia.
Dengan
demikian perkembangan filsafat ilmu memang telah meletakkan dasar –
dasar keilmuan. Apapun wujudnya, filsafat ilmu telah diyakini oleh
ilmuwan untuk menjawab keraguan dunia secara proporsional. Dari
pembahasan tersebut aada dua pilihan, yaitu ilmu idealism dan ilmu
empirisme. Paham idealism, selalu menyatakan bahwa realitas empiris
hanya copy paste dari ide. Sebaliknya kaum empiris, menganggap
realitas, pengalaman yang paling berharga. Dari pernyataan tersebut,
tugas filsafat ilmu adalah menjaga agar ada konsistensi dalam
menerapkan berbagai aliran.
D.
ALIRAN FILSAFAR ILMU
Filsafat
ilmu telah melahirkan sekian banyak aliran pemikiran. Seiring dengan
para ahli yang ngin meletakkan sebuah pemikiran. Tugas ilmuwan
sebenarnya addalah mengikuti aliran itu secara konsisten, hingga
tidak tumpang tindih dalam mencari kebenaran. Beberapa aliran yang
sudah cukup baku dalam filsafat ilmu adalah sebagai berikut:
1)
Rasionalisme.
Rasionalisme
adalah mahzab filsafat ilmu yang berpandangan bahwa rasio adalah
sumber dari segala pengetahuan. Strategi pengembangan ilmu model
rasionalisme mengeksplorasi gagasan dengan kemampuan intelektual
manusia. Tokoh – tokoh rasionalisme diantaranya adalah Descrates,
Leibniz, dan Spinoza. Para pemikir rasionalisme berpandangan bahwa
tugas dari para filsuf diantaranya adalah membuang pikiran irasional
dengan rasional. Paham ini sering mendewakan akal, sebagai tonggak
penemuan kebenaran. Aliran ini jelas buta terhadap kejadian yang
sesungguhnya. Hasil – hasil teknologi era industri dan era
informasi tidak dapat dilepaskan dari andil rasionalisme untuk
mendorong manusia menggunakan akal pikiran dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan untuk kesejahteraan manusia.
2)
Empirisme.
Empirisme
adalah sebuah orientasi filsafat yang berhubungan dengan kemunculan
ilmu pengetahuan modern da metode ilmiah. Empirisme menekankan bahwa
ilmu pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa yang dapat
diamati dan diuji. Aliran empirisme memiliki sifat kritis terhadap
abtraksi dan spekulasi dalam membangun dan memperoleh ilmu. Selain
itu, tadisi empirisme adalah fundamen yang mengawali mata rantai
evolusi ilmu pengetahuan sosial, terutama dalam konteks perdebatan
apakah ilmu pengetahuan sosial itu berbeda dengan ilmu alam.
3)
Realisme.
Realisme
berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman
indrawi ataupun gagasan yang terbangun dari dalam. Dengan demikian
realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan
ekstrim idealisme dan empirisme. Gagasan utama dari realisme dalam
konteks pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan
dari dua hal yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari
observasi yang dilakukan. Kontribusi lain dari tradisi realisme
adalah sumbangannya terhadap filsafat kontemporer ilmu pengetahuan,
terutama melalui karya Roy Bashkar, dalam memberikan argumen –
argumen terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif yang diklaim oleh
tradisi empirisme.
4)
Idealisme.
Idealisme
adalah tradisi pemikiran filsafat yang berpandangan bahwa doktrin
tentang realitas eksternal tidak dapat dipahami secara terpisah dari
kesadaran manusia. Salah satu sumbangan dari tradisi filsafat
idealisme adalah pengaruh idealisme platonic dalam agama Kristen.
Selain Kristen, pemikiran yang turut memberikan saham bagi tradisi
idealis adlaah mistisisme Yahudi, mistisisme Kristen dan pengembangan
pemikiran matematika oleh bangsa – bangsa Arab. Dengan demikian,
pemikiran filsafat idealisme dibangun terutama oleh gagasan –
gagasan Hegel dan Kant. Namun demikian, bangunan filsafat politik
modern yang berpaham bahwa manusia dapat mengatur dunia melalui ilmu
pengetahuan telah membuktikan vitalitas aliran idealisme Kantian.
5)
Positivisme.
Positivism
adalah doktrin filosofi dan ilmu pegetahuan sosial yang menempatkan
peran sentral pengalaman dan bukti empiris sebagai basis dari ilmu
pengetahuan dan penelitian. Salah satu bagian dari tradisi
positivisme adalah sebuah konsep yang disebut dengan positivisme
logis. Kerangka pengembangan
ilmu
menurut tradisi positivisme telah memunculkan perdebatan tentang
apakah ilmu pengetahuan sosial memang harus “di-ilmiahkan”.
Kritik atas positivisme berkaitan dengan penggunaan fakta – fakta
yang kaku dalam penelitian sosial. Menjawab kritik ini, kaum
positivis mengatakan bahwa metode kualitatif yang digunakan dalam
penelitia sosial tidak menemukan keepatan karena sulitnya untuk
diverifikasi secara empiris. Positivisme menganut pendekatan etik,
karenanya bersebrangan dengan empirisme.
6)
Pragmatisme.
Pragmatsime
adalah mahzab pemikiran filsafat ilmu yang dipelopori oleh C.S
Peirce, William James, John Dewey, George Herbert Mead, F.C.S.
Schiller dan Richard Rorty. Pragmatisme berargumentasi bahwa filsafat
ilmu haruslah meninggalkan ilmu pengetahuan transendental dan
menggantinya dengan aktivitas manusia sebagai sumber pengetahuan.
Sumbangan dari pragmatisme adalah dalam praktik demokrasi. Dalam area
ini pragmatisme memfokuskan pada kekuatan individu untuk meraih
solusi kreatif terhadap masalah yang dihadapi.
Namun
demikian, walaupun masing – masing aliran ada kelebihan dan
kelemahannya, setiap filsafat ilmu saling berkontribusi dengan saling
meyapa secra kritis. Dari pokok bahasan di atas, semua filsafat ilmu
memebrikan kontribusi yang signifikan bagi terbentuknya pemikiran
ilmu pengetahuan modern. Sedangkan kajian yang dibahas dalam filsafat
ilmu adalah meliputi hakikat (esensi) pengetahuan, artinya filsafat
ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem – problem mendasar
ilmu pengetahuan seperti; ontologi ilmu, epistimologi ilmu dan
aksiologi ilmu.
Dari
berbagai aliran filsafat ilmu diatas, sampai sekarang banyak
mewarnai
perkembangan ilmu di Indonesia, terutama dalam bidang penelitian.
Implikasi
dari berbagai aliran itu memiliki sudut pandang metodologis yang
berbeda. Bahkan masing – masing aliran akan melahirkan aneka ragam
metode penelitian. Namun dalam wawasan filsafat ilmu, aliran tetap
menjadi akar dari perkembangan ilmu pengetahuan. Aliran akan
menentukan metode dan seluruh teori yang digunakan dalam penelitian
apapun.
A.
Fungsi Filsafat Ilmu
Filsafat
ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu,
fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi
filsafat secara keseluruhan, yakni :
*
Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
*
Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap
pandangan filsafat lainnya.
*
Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan
pandangan dunia.
*
Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam
kehidupan
*
Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai
aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan
sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)
Sedangkan
Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk
memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori
sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori
ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam
dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya
mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan
theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena
kecil ataupun besar secara sederhana.
B.
Substansi Filsafat Ilmu
Telaah
tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam
empat bagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau
kenyataan, (2) kebenaran (truth), (3) konfirmasi dan (4) logika
inferensi.
1.Fakta
atau kenyataan
Fakta
atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari
sudut pandang filosofis yang melandasinya.
*
Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada
korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.
*
Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian
kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu
adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke
arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem
nilai.
*
Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi
antara empirik dengan skema rasional, dan
*
Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada
koherensi antara empiri dengan obyektif.
*
Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.
Di
sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta
obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen
atau bagian realitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan
praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap
fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah
deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah
merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini
bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari
bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta
ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.
2.
Kebenaran (truth)
Sesungguhnya,
terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secara
tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi,
korespondensi dan pragmatik (Jujun S. Suriasumantri, 1982).
Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu,
yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran
performatif, kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan,
Noeng Muhadjir menambahkannya satu teori lagi yaitu kebenaran
paradigmatik. (Ismaun; 2001)
a.
Kebenaran koherensi
Kebenaran
koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu
yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari
sesuatu unsur tersebut, baik berupa skema, sistem, atau pun nilai.
Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada dataran
transendental.
b.Kebenaran
korespondensi
Berfikir
benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu
relevan dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya
kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang
diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya
spesifik
c.Kebenaran
performatif
Ketika
pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan
menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang
teoritik, maupun yang filosofik, orang mengetengahkan kebenaran
tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkan dalam
tindakan.
d.Kebenaran
pragmatik
Yang
benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan
memiliki kegunaan praktis.
e.Kebenaran
proposisi
Proposisi
adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang
merentang dari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu
kebenaran dapat diperoleh bila proposisi-proposisinya benar. Dalam
logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan
persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari
Euclides, bahwa proposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya,
melainkan dilihat dari benar materialnya.
f.
Kebenaran struktural paradigmatik
Sesungguhnya
kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan dari
kebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis
faktor, dan analisis statistik lanjut lainnya masih dimaknai pada
korespondensi unsur satu dengan lainnya. Padahal semestinya
keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akan
mampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.
3.
Konfirmasi
Fungsi
ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan
datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat
ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probalistik. Menampilkan
konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi, postulat, atau axioma
yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bila mengeksplisitkan
asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksi
atau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh
secara induktif, deduktif, ataupun reflektif.
4.
Logika inferensi
Logika
inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah
logika matematika, yang menguasai positivisme. Positivistik
menampilkan kebenaran korespondensi antara fakta. Fenomenologi Russel
menampilkan korespondensi antara yang dipercaya dengan fakta. Belief
pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifat spesifik, belum
ada skema moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi
penelitian berupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.
Post-positivistik
dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional,
koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Guba
menampilkan kebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral.
Realisme metafisik Popper menampilkan kebenaran struktural
paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjir mengenalkan
realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan struktural
paradigmatik moral transensden. (Ismaun,200:9)
Di
lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa
penarikan kesimpulan baru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan
tersebut dilakukan menurut cara tertentu, yakni berdasarkan logika.
Secara garis besarnya, logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitu logika
induksi dan logika deduksi.
C.
Corak dan Ragam Filsafat Ilmu
Ismaun
(2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu,
diantaranya:
*
Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu :
(1) meta ideologi, (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.
*
Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi
means. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends, melainkan sebagai
kepanjangan ide manusia.
*
Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau
keindahan sebagai salah satu tri-partit, yakni kebudayaan, produk
domain kognitif dan produk alasan praktis.
D.
Objek FilsafatObjek Filsafat
Isi
filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan, objek yang
dipikirkan oleh filsafat ialah segala yang ada dan yang mungkin ada.
Jadi luas sekali.
Objek
filsafat itu bukan main luasnya, tulis Louis Katt Soff, yaitu
meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin
diketahui manusia. Oleh karena itu manusia memiliki pikiran atau akal
yang aktif, maka manusia sesuai dengan tabiatnya, cenderung untuk
mengetahui segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menurut akal
pikirannya. Jadi objek filsafat ialah mencari keterangan
sedalam-dalamnya.
Objek
filsafat ada dua yaitu Objek Materia dan Objek Forma, tentang objek
materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Sains
memiliki objek materia yang empiris; filsafat menyelidiki objek itu
juga, tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak.
Sedang objek forma filsafat tiada lain ialah mencari keterangan yang
sedalam-dalamnya tentang objek materi filsafat (yakni segala sesuatu
yang ada dan yang mungkin ada).
Dari
uraian tertera di atas jelaslah, bahwa:
1.
Objek materia filsafat ialah Sarwa-yang-ada, yang pada garis besarnya
dapat dibagi atas tiga persoalan pokok:
a.
Hakekat Tuhan;
b.
Hakekat Alam dan
c.
Hakekat Manusia.
2.
Objek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal
(sedalam-dalamnya sampai ke akarnya) tentang objek materi filsafat
(sarwa-yang-ada).
Dalam
buku Filsafat Agama; Titik Temu Akal dengan Wahyu karangan Dr. H.
Hamzah Yaqub dikatakan bahwa objek filsafat ialah mencari
keterangan sedalam-dalamnya. Di sinilah diketahui bahwa sesuatu yang
ada atau yang berwujud inilah yang menjadi penyelidikan dan menjadi
pembagian filsafat menurut objeknya ialah:
1.
Ada Umum yakni menyelidiki apa yang ditinjau secara umum. Dalam
realitanya terdapat bermacam-macam yang kesemuanya mungkin adanya.
Dalam bahasa Eropa, ADA UMUM ini disebut Ontologia yang berasal dari
perkataan Yunani Onontos yang berarti ada, dalam Bahasa Arab sering
menggunakan Untulujia dan Ilmu Kainat.
2.
Ada Mutlak, sesuatu yang ada secara mutlak yakni zat yang wajib
adanya, tidak tergantung kepada apa dan siapapun juga. Adanya tidak
berpermulaan dan tidak berpenghabisan ia harus terus menerus ada,
karena adanya dengan pasti. Ia merupakan asal adanya segala sesuatu.
Ini disebut orang Tuhan dalam Bahasa Yunani disebut Theodicea dan
dalam Bahasa Arab disebut Ilah atau Allah.
3.
Comologia, yaitu filsafat yang mencari hakekat alam dipelajari apakah
sebenarnya alam dan bagaimanakah hubungannya dengan Ada Mutlak.
Cosmologia ini ialah filsafat alam yang menerangkan bahwa adanya alam
adalah tidak mutlak, alam dan isinya adanya itu karena dimungkinkan
Allah. Ada tidak mutlak, mungkin ada dan mungkin lenyep sewaktu-waktu
pada suatu masa.
4.
Antropologia (Filsafat Manusia), karena manusia termasuk ada yang
tidak mutlak maka juga menjadi objek pembahasan. Apakah manusia itu
sebenarnya, apakah kemampuan-kemampuannya dan apakah pendorong
tindakannya? Semua ini diselidiki dan dibahas dalam Antropologia.
5.
Etika: filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia. Betapakah
tingkah laku manusia yang dipandang baik dan buruk serta tingkah laku
manusia mana yang membedakannya dengan lain-lain makhluk.
6.
Logika: filsafat akal budi dan biasanya juga disebut mantiq. Akal
budi adalah akal yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk
mengetahui kebenaran. Tanpa kepastian tentang logika, maka semua
penyelidikan tidak mempunyai kekuatan dasar. Tegasnya tanpa akal budi
takkan ada penyelidikan. Oleh karena itu dipersoalkan adakah manusia
mempunyai akal budi dan dapatkah akal budi itu mencari kebenaran?
Dengan segera timbul pula soal, apakah kebenaran itu dan sampai
dimanakah kebenaran dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Maka
penyelidikan tentang akal budi itu disebut Filsafat Akal Budi atau
Logika.
Penyelidikan
tentang bahan dan aturan berpikir disebut logica minor, adapun yang
menyelidiki isi berpikir disebut logica mayor. Filsafat akal budi ini
disebut Epistimologi dan adapula yang menyebut Critica, sebab akal
yang menyelidiki akal.
Adapun
objek Filsafat Islam ialah objek kajian filsafat pada umumnya yaitu
realitas, baik yang material maupun yang ghaib. Perbedaannya terletak
pada subjek yang mempunyai komitmen Quranik.
Dalam
hubungan ini objek kajian Filsafat Islam dalam tema besar adalah
Tuhan, alam, manusia dan kebudayaan. Tema besar itu hendaknya dapat
dijabarkan lebih spesifik sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga
dapat ditarik benang merah dari perkembangan sejarah pemikiran
kefilsafatan yang hingga sekarang. Setiap zaman mempunyai semangatnya
sendiri-sendiri.
Dari
keterangan di atas dapat dikatakan bahwa objek filsafat itu sama
dengan objek ilmu pengetahuan bila ditinjau secara materia dan
berbeda bila secara forma. Sedangkan objek kajian Filsafat Islam itu
sendiri mencakup Tuhan, alam, manusia dan kebudayaannusia dan
kebudayaan
Comments
Post a Comment