Wawancara Pramoedya dalam Optimis Saya Menarik Diri
Wawancara
Pramoedya dalam Optimis
Saya
Menarik Diri
Optimis,
24 Juli 1981, pp.18-20
Optimis:
Anda pernah menyebut diri anda sebagai penulis. Apa artinya?
PAT:
Menulis adalah panggilan hidup saya. Panggilan untuk mempersembahkan
segala sesuatu yang baik kepada nation
saya. Jadi bukan untuk mengejar popularitet
atau kekayaan. Bahwa nation
memberi penghidupan pada saya atas karya yang saya persembahkan, ya
saya berterima kasih banyak. Tapi tanpa itu pun, saya akan tetap
menulis sepanjang saya masih bisa melakukannya. Pekerjaan saya memang
menulis. Saya hanya bisa menulis, maka saya hanya menulis....
O:
Sejak kapan anda menulis?
PAT:
Mulai dari masa kanak-kanak. Ayah saya, Toer, kebetulan juga seorang
pengarang.
O:
Bagaimana anda memandang tanggapan-tanggapan yang ditujukan terhadap
karya tulis anda?
PAT:
Saya menghargai tanggapan-tanggapan ataupun kritik-kritik dari
siapapun dan dari manapun datangnya. Yang menyetujui tulisan saya
ataupun yang tidak menyetujui. Yang menyenangi ataupun tidak
menyenangi. Semua itu saya anggap sebagai nilai sosial dalam
kehidupan. Jadi tanggapan-tanggapan itu bukan merupakan tanggung
jawab saya pribadi. Tanggung jawab saya adalah menulis. Komitmen saya
terhadap nation
Indonesia adalah tulisan. Apakah jawaban ini bisa memuaskan anda?
Barangkali tidak memuaskan....
O:
Belum memuaskan. Tolonglah anda sampaikan pandangan anda terhadap
kasus pelarangan buku anda, Bumi
Manusia
dan Anak
Semua Bangsa.
PAT:
Baiklah, saya bertolak dari sikap bahwa menulis itu adalah hak setiap
manusia. Tak ada yang dapat melarang dan tak ada yang dapat merampas
hak itu, kecuali dengan force
majeure.
Karena itu walaupun di dalam tahanan--dan tidak diberi ijin--saya
tetap menulis. Dan setelah Jenderal Soemitro (ketika itu
Pangkopkamtib) berkunjung ke Pulau Buru dan memberi lampu hijau, saya
menulis secara terbuka. Tulisan itu saya berikan kepada Komandan
Inrehab di sana. Entah bagaimana kebijaksanaan komandan, saya kurang
tahu. Begitulah ketika dibebaskan tahun 1979, saya membawa beberapa
naskah dan yang kemudian diterbitkan. Setahu saya di Indonesia
berlaku sensor represif dan bukan sensor preventif. Jadi setiap orang
berhak menerbitkan buku. Bahwa kemudian buku-buku itu dilarang, say
pikir demikianlah konsekuensi sensor represif. Soal pelarangan ini,
tidak mengherankan bagi saya. Saya telah menyaksikannya sejak masih
kanak-kanak, ketika buku-buku karangan ayah say dilarang dan dirampas
di tahun '35. Kemudian saya mengalaminya sendiri ketika tahun '60,
salah satu buku saya [Hoakiau
di Indonesia]
dilarang dan saya ditahan selama setahun. Selanjutnya semua buku-buku
saya dilarang karena "katanya" saya terlibat peristiwa
G.30.S PKI. Larangan itu sampai sekarang belum dicabut. Saya sebut
"katanya," sebab ternyata setelah ditahan selama belasan
tahun saya dibebaskan dengan sepucuk surat resmi yang menegaskan
bahwa secara hukum saya tidak terbukti terlibat G.30.S PKI. Bagi saya
semuanya itu merupakan suatu deretan. Saya telah berkali-kali
mengalaminya. Karena itu tidak lagi mengherankan.
O:
Anda tidak heran. apakah sebelumnya memang telah ada perasaan bahwa
Bumi
Manusia
dan Anak
Semua Bangsa
akan dilarang?
PAT:
Bukan karena ada perasaan. Tetapi larangan di tahun 1966 kan belum
dicabut. Artinya besar kemungkinan setiap buku say yang diterbitkan
akan dilarang.
O:
Lantas perasaan anda sendiri bagaimana?
PAT:
Tentu tidak senang. Larangan itu sangat tidak menyenangkan. Tetapi
persoalannya, apakah ada hukum di Indonesia yang bisa memberi kepada
saya basis untuk naik banding. Saya tidak tahu. Saya belum
berhubungan dengan ahli-ahli hukum. Kepada pemerintah saya ingin
memohon untuk meninjau keputusannya kembali. apakah sesungguhnya
larangan itu telah adil dan benar? Masalah keadilan dan kebenaran
selalu mempunyai impact
yang panjang bagi perkembangan nation....
O:
Mengenai alasan pelarangan itu....
PAT:
Itu merupakan tuduhan yang saya pikir haruslah dibuktikan. apa benar
buku itu mengajarkan Marxisme, Leninisme ataupun Komunisme? di
Indonesia kan sudah banyak sarjana Sosial Politiknya yang bisa
dimintakan penilaiannya. Saya sendiri tidak pernah mempelajari
filsafat tersebut. Saya merasa tidak melakukan apa yang dituduhkan.
Tuduhan itu langsung menyangkut pribadi saya Dituduh bertentangan
dengan TAP MPR adalah amat berat. Itu bisa diartikan bahwa saya in
pengkhianat bangsa. Karena itulah saya mempertanyakan apakah
keputusan itu telah adil dan benar?
O:
Status hukum anda bagaimana?
PAT:
Saya masih wajib lapor sekali sebulan. Apakah itu tahanan atau tidak,
saya kurang tahu. Ya, saya tidak tahu status juridisnya. Dulu saya
juga ditahan tanpa surat perintah.
O:
Dapatkah anda membandingkan buku Bumi
Manusia
dan Anak
Semua Bangsa
itu dengan karya anda yang lain?
PAT:
Tidak dapat. Mungkin saya berbeda dengan penulis lainnya. Kalau saya
telah menulis dan tulisan itu dicetak, saya tidak akan membacanya
lagi. Itulah kesatuan komitmen saya dengan nation
pada suatu waktu. Maka selesai. Saya tidak memegangnya lagi. Saya
tidak membacanya lagi.
O:
Dari dulu memang demikian?
PAT:
Dari dulu memang begitu. Pertanggungjawaban saya telah selesai.
Kalaupun harus ada perbaikan karena ada kesalahan cetak dan
sebagainya, orang lainlah yang melakukannya. Bukan saya.
O:
Kalau begitu kami ingin mendengar penilaian anda tentang karya
kesusastraan dari penulis lain.
PAT:
Saya tidak lagi mengikuti kesusastraan. Perkembangan kebudayaan
lainnya juga kurang saya ikuti. Saya sedang menarik diri. Melihat
televisi pun saya hanya kadang-kadang saja. Begitu pula membaca dan
tidak membaca kesusastraan.
O:
Mengapa?
PAT:
Tidak tahu.... Saya sungguh tidak tertarik. Saya hanya sesekali
membaca koran. Itu pun tidak berlangganan. Begitu banyak buku dan
majalah yang dikirimkan orang kepada saya. Sudah menumpuk. Tapi saya
tak dapat membacanya. Tidak sanggup. Secara praktis saya memang belum
mengikuti kehidupan aktif. Saya masih belajar menyesuaikan diri.
Pengalaman empat belas tahun ditahan masih menekan saya sampai
sekarang. Masih ada sindrom tahanan pada diri saya. Tertekan. Merasa
tertekan. Dan sekarang saya tak bisa menulis. Ya, untuk menuliskan
satu kalimat pun sangat sukar. Empat hari belum tentu cukup bagi saya
untuk menyelesaikan satu kalimat.
O:
Jadi anda sedang tidak menulis?
PAT:
Tidak bisa menulis. Saya mau menulis. Tetapi tidak bisa.
O:
Tidak juga mengisi catatan harian?
PAT:
Saya sungguh tidak bisa menulis! Waktu baru bebas dulu, saya sedikit
demi sedikit masih bisa menulis. Tetapi sekarang sudah tidak bisa.
Saya terpaksa harus minta maaf karena begitu banyak surat-surat yang
memang tak dapat saya jawab.
O:
Persisnya, kapan anda terakhir menulis?
PAT:
Ketika di Pulau Buru.
O:
Sampai tahun berapa?
PAT:
Oh, sampai saat dibebaskan--tahun 1979--saya masih tetap menulis.
Juga masih mengisi buku harian.
O:
Apakah anda menarik diri karena tidak lagi percaya pada budaya
sekeliling anda?
PAT:
Saya menarik diri karena merasa asing. Dan makin lama makin merasa
asing. Mungkin perasaan ini tidak baik. Tetapi demikianlah perasaan
saya.
O:
Tadi anda mengatakan tetap berhasrat untuk kembali menulis. Usaha apa
yang anda lakukan?
PAT:
Apa maksudnya?
O:
Apa yang anda lakukan sekarang agar bisa kembali menulis? Atau anda
tidak melakukan apa-apa?
PAT:
Soalnya lebih banyak berkaitan dengan lingkungan. Lingkungan di sini
terlampau bising dan udaranya pun sangat kotor. Sepuluh tahun saya
telah terbiasa hidup dalam kesunyian. Tiba-tiba jadi begini. Setiap
kali saya mendengar motor melintas dengan meraung-raung, saraf saya
terganggu....
O:
Kalau hanya itu masalahnya, mengapa tidak berusaha pindah ke tempat
lain yang lebih cocok buat anda?
PAT:
Syaratnya belum ada. Dan lagi saya memang masih merasa belum aman.
Empat belas tahun merasa tidak aman, tidak mudah menghilangkannya....
O:
Atau mungkin pindah ke luar negeri. Pernah terpikirkan?
PAT:
Ya, samar-samar ada. Tetapi seperti saya katakan tadi, saya dalam
keadaan menarik diri. Dan apakah mungkin saya ke luar negeri? Saya
memang telah banyak mendapat undangan dari sana.
O:
Pernahkah terbayangkan sebelumnya bahwa anda akan mengalami saat-saat
seperti ini, tidak mampu menulis...?
PAT:
Dulu, dulu saya juga mengalaminya. Mungkin inilah masa-masa
kelelahan. Tentang ini ada tulisan pendek saya yang telah banyak
diterjemahkan, "Sunyi Senyap di Siang Hidup," yang saya
karang sekitar tahun '54-'55. Tapi saya selalu percaya--dan ini lebih
merupakan sesuatu yang mistis--bahwa hari esok akan lebih baik dari
hari sekarang. Dan untuk itu sebelum tidur saya menyerahkan diri
sepenuhnya.
O:
Menyerahkan diri kepada siapa?
PAT:
Ya, kalau saya katakan secara mistis, kan sudah jelas. Mistik itu
kesatuan manusia dengan Tuhan. Yang saya maksud adalah mistik dalam
pengertian yang sesungguhnya. Jangan dikacaukan pengertian-pengertian
mistik, religi, magi dan sebagainya.
O:
Hikmah apa yang anda peroleh dari masa penahanan?
PAT:
Saya hidup di tengah-tengah orang Indonesia yang menderita. Saya
bersama mereka dan merupakan bagian dari mereka. Setiap pengalaman
bagi pengarang bukan hanya materi tetapi sekaligus juga fondasi
kulturil. Tapi kalau dia tidak kuat menderitakannya, tentu dia
collapse.
Bagi yang kuat, orbitnya menjadi lebih luas.
O:
Bagaimana proses kreativitas anda berlangsung?
PAT:
Pertama kali saya tidak begitu mendasarkan diri pada ilham. Kalau toh
ada suatu pengertian tentang ilham, maka ilham itu lebih tepat
dikatakan sebagai produk kerja keras. Tanpa kerja keras tidak ada
sesuatu yang bisa dinamakan ilham.
Tentang
kuartenarius yang terakhir, saya memang telah lama berkeinginan untuk
menulis sejarah Indonesia. Bukan sejarah fisiknya. Tetapi pergulatan
jiwa Indonesia itu menjadi manusia Indonesia sampai sekarang ini.
Saya ingin menuliskannya dalam bentuk roman, karena buku sejarah
biasanya kurang dibaca orang. Dengan meromankan histori, saya ingin
mengajak setiap orang mulai dari lulusan SD hingga profesor untuk
hidup di dalam histori. Sebelum tahun '65 saya sudah mulai
mempelajari sejarah Indonesia modern. Proses penulisannya begini.
Materi historis yang statis--yang telah saya peroleh--saya hidupkan
dengan tetesan-tetesan elemen baru. Itulah yang berproses, antara
data yang statis dengan tetesan kimia baru. Itu pulalah yang terjadi
dalam otak saya. Saya hanya mencatat proses yang terjadi. Saya
mengikutinya dan tidak memaksakan. Saya hanya melukiskan
perkembangan. Perkembangan ini akan sampai kepada klimaks atau
kesimpulan. Terhadap klimaks atau kesimpulan inilah biasanya orang
bersikap suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, senang atau
tidak senang. Begitu.
Comments
Post a Comment