Ijinkan-lah Aku Menikahimu Karena ALLAH.

Ijinkan-lah Aku Menikahimu Karena ALLAH.


Bismillahirahmanirahim..
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi wabaarakatuh
Ketika hati in telah jatuh dalam lembah bernama cinta. Ketika virus-virusnya telah meracuni dan menyebar keseluruh jiwa. Maka “antibodi” bernama akal sehat telah terkalahkan begitu saja. Segala cara dan upaya dilakukan untuk menunjukkan kepada sang pujaan hati. Bahwa “..INILAH CINTA..”
Cinta yang di augerahkan oleh Rabb kita. Cinta yang indah. Cinta yang tulus. Cinta yang tidak akan lekang oleh waktu. Ya karena cinta memang yang begitu “..Sempurna..”
Dear Ayah dan Bunda.
Tanpa terasa sudah sekian lama aku hidup bersama kalian, hidup dalam naungan cinta dan kasih sayang yang tiada henti bersama kalian, bersama saudara-saudaraku kakak dan adikku itu adalah sebuah karunia yang terindah dalam hidupku..
Dari kalian aku tahu tahu apa itu baik dan apa it buruk, dari kalian pula aku belajar berjalan dan bertanhan dalam kerasnya roda kehidupan..
Cinta dan kasih saying yang kalian tanamkan telah mampu menunjukkan pada diriku bahwa hidup dengan cinta itu sangatlah indah dan sangat berwarna..
Ayah dan Bunda, saat detik jem berlalu untuk kesekian kalinya, aku sadar bahwa aku ini bukan “lelaki kecil” kalian lagi, kata orang aku sudah beranjak dewasa.. Benarkah??
Entah mengapa aku mulai merasakan ada yang berubah pada diriku, fisikku, kepribadianku, sifatku, bahkan perasaanku.
Ketika ada seorang datang dan memberikan perhatian lebih padaku, aku merasa berbeda, ada debar-debar aneh dalam hatiku.
Ketika dia menyapaku, aku sangat senang dan tersipu, namun ketika dia menghilang aku merasa gundah yang luar biasa, terkadang hati ini merajuk ingin rasanya mendapatkan perhatian lebih darinya, bukan berarti perhatian dari kalian lebih darinya. Tapi entahlah sepertinya perhatian yang dia berikan padaku terasa “Berbeda” dari yang kalian berikan, terasa lebih indah, aku sering marah bila sikapnya terlalu cuek padaku, sering ingin menangis manakala dia mengacuhkan dan menyakiti perasaanku..
Bunda, aku tidak tau apa yang pada diriku saat ini?? Apakah ada yang salah dengan diriku??
Benarkah aku telah jatuh hati padanya?? Benarkah birus merah jambu itu telah membuat hatiku “sakit” seperti ini?? Apa dulu bunda merasakan apa yang aku rasakan sekarang??
Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengatur perasaanku, semua cinta dan saying yang ada dalam hatiku ini muncul tanpa aku memintanya..
Aku tau, munkin aku belum pantas memupuk rasa ini, tapi aku ini hanya lelaki biasa yang terkadang tidak mampu menolaknya, aku seperti dirimu bunda, yang tersenyum manakala senang, yang menagis manakala sedih, dan marah manakala kecewa..
Aku ingin belajar hidup sepertimu, belajar mencintai pasangan seumur hidupku, belajar mencintai dan menyayangi anak-anakku kelak..
Ayah dan Bundaku tercinta.. Bolehkah aku mengajukan sebuah permintaan padamu??
Ijinkan aku minikah, ijinkan aku memupuk perasaanku dalam hatiku ini, ijinkan aku menyayanginya dengan cara yang syar’i. ijinkan aku aku hidup bersama orang yang ku cintai..
Rasanya aku tak sanggup untuk membuang jauh-jauh perasaan yang ada dalam hatiku inim aku begitu mencintainya, begitu mengharapkannya, tapi aku tak bisa menunjukkanya, kecuali bila aku telah resmi memilikinya, karena itulah jalan yang Halal, jalan yang diridhoi Allah bagi hambanya yang saling mencinta, jalan yang samping kanan-kirinya terhampar limpahan pahala..
Aku sadar aku masih muda bahkan munkun kalian masih menganggapku “lelaki kecil” manja dan kekanak-kanakan. Tapi apakah usia itu adalah patokan kedewasaan Ayah?? Apakah usia muda itu suatu kesalahan untuk berumah tangga Bunda??
Aku ingin belajar tentang kehidupan, aku ingin belajar lebih dalam mengenal cinta dan saying, aku ingin belajar dewasa, aku ingin belajar berumah tangga.
Permintaanku hanya satu.. yaitu Kepercayaan..
Agar aku yakin, bahwa aku bisa menjadi suami yang baik sepertimu Ayah juga bisa menjadi ayah teladang bagi anak-anakku kelak, Semoga..
Ketika mulut tak sanggup mengungkapkan biarkan hati yang bicara. Didedikasikan kepada saudaraku yang sedang “berjuang” “Y”
Jika nanti aku menikah munkinkah kelak mahar calon istriku seindah mahar Ummu Sulaim pada Abu Thalhah?? “cukuplah keislamanmu menjadi maharnya”
Jika aku menikah, munkinkah aku bisa sebijak Ali pada Istrinya Fatimah??
Jika aku menikah, munkinkah aku aka sebahagia dan setegar Ali??
Yang menjadikan Fatimah sebagai satu-satunya bidadari baginya?? Hidup seperti Ali bin Abi Thalib yang fakir namun pemberani?? Terkadang hanya makan sekali sehari dan itupun sebuah roti yang sangat keras ketika dinikmati??
Jika aku menikah, akankah aku seistimewa Rasul Mu?? Ketika, Rasulullah berkata pada Aisyah.. “Duhai Aisyah,, ya Khuraima,,engkau adalah Istriku dunia Akhirat”..
Jika aku menikah, siap dan sanggupkah aku melepas Imam dalam hidupku ini, berjibaku dalam tuntutan Dakwah dan banyak waktu untuk memanjakanku??
Jika aku minikah, akankah cinta ini bisa terbagi dengan Adil?? Agar Tabb-ku tak merasa cemburu padaku??
Jika aku menikah, sanggupkah aku bertahan bersama Bidadariku menyusuri lautan kehidupan meski gelombang tak berhenti membuat layar ini terimbang-ambing, dalam celah sepertiga malamku, terselip sebuah dia sederhana..
Ya Rabbi.. Jika nanti aku menikah.. Jadikanlah Aku sebagai Imam yang akan mengarahkan Istri dan Anak ku kepada Syariatmu.. Jadikanlah aku sebijak Rasulullah.. Jadikanlah aku sebahagia dan setegar Ali yang bersahaja.. Jadikanlah aaku seistimewa Umar.. Dan jadikanlah aku seorang mujahid yang kelak syahid di jalan-Mu. Amminn Ya Rabbal Alamin





Comments

Popular posts from this blog

SENI PERANG

Lirik dan Chord Gitar Sisir Tanah - Bebal